Menengok Rentetan Erupsi dan Tsunami Krakatau yang Masih Terjadi Hingga Kemarin Pagi

Prime Banner

JAKARTA – Gunung Anak Krakatau kembali melakukan aktivitas pada Selasa (24/9/2019) pagi WIB. Gunung setinggi 110 meter (360 kaki) dari permukaan laut itu, mengalami erupsi dengan memuntahkan kepulan abu putih hingga kelabu yang mencapai tinggi 200 meter.

Dalam informasi yang dilansir Badan Geologi pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, disebutkan aktivitas gunung yang terletak di antara Pulau Sertung dan Pulau Rakata Kecil terjadi sekitar pukul 08.43.

“Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 5 mm dan durasi sekitar 38 detik,” tulis Badan Geologi. “Kolom abu teramati dengan intensitas tebal dan mengarah ke utara.”

Untuk itu, Badan Geologi memperingatkan masyarakat atau wisatawan untuk selalu waspada. Mereka pun menetapkan status waspada (tingkat dua) dan meminta masyarakat untuk menjauhi Anak Krakatau dalam radius dua kilometer.

“Masyarakat atau wisatawan tidak diperbolehkan mendekati gunung dalam radius 2 km dari kawah,” tulis Badan Geologi.

Itu bukan kali pertama Anak Krakatau melakukan aktivitas pada September 2019. Setidaknya, Anak Krakatau sudah dua kali erupsi pada bulan ini. Yang pertama pada Jumat (13/9) dan Rabu (18/9).

Pada dua kesempatan tersebut, tingkat erupsi lebih tinggi ketimbang hari ini. Setidaknya, menurut Badan Geologi (H/T detikcom dan kompascom), ketinggian kolom abu erupsi mencapai 300 meter.

Aktivitas vulkanik Anak Krakatau memang sudah mengalami peningkatan sejak 18 Juni 2018 yang diikuti serangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Mei 2019.

Memang skala erupsi Anak Krakatau sejak periode tersebut tak terlalu besar. Namun, hal itu bukan berarti tidak membahayakan daerah sekitar. Hal itu bisa dilihat dari hasil penelitian Rebecca Williams dari University of Hull dan koleganya dari Inggris.

Penelitian tersebut mencermati tsunami yang terjadi di pesisir sepanjang Selat Sunda pada akhir 2018 lalu. Makalah Williams dan rekan merekonstruksi aktivitas letusan Anak Krakatau sebelum, selama, dan setelah runtuh lewat teknik penginderaan jarak jauh.

Peneliti menemukan bahwa gunung berapi itu dalam keadaan erupsi normal sebelum runtuh. Namun, keruntuhan mengubah gaya letusan terus-menerus. Sehingga menghasilkan konfigurasi ulang sistem pipa magmatik dari gunung berapi.

Ini pada gilirannya menyebabkan letusan beralih ke gaya yang jauh lebih eksplosif. “Kerusakan kecil ini menyebabkan tsunami besar, geohazard, yang sebelumnya kurang diperhatikan,” tulis William dalam jurnal Geology.

Dalam musibah tsunami tersebut, setidaknya lebih dari 400 orang meninggal, sementara 7.000 orang lainnya terluka dan hampir 47.000 orang mengungsi dari rumah mereka. []

You may also like...