Meski Tak Ada Pandemi, Sejak Jaman Bahula Mencuci Tangan Telah Menjadi Budaya Bangsa Indonesia

FEATURE IMAGE Meski Tak Ada Pandemi, Sejak Jaman Bahula Mencuci Tangan Telah Menjadi Budaya Bangsa Indonesia (Foto Ismi - Mongabay)
FEATURE IMAGE Meski Tak Ada Pandemi, Sejak Jaman Bahula Mencuci Tangan Telah Menjadi Budaya Bangsa Indonesia (Foto Ismi - Mongabay)
Prime Banner

ApakabarOnline.com – Virus corona [COVID-19] yang melanda dunia, membuat setiap warga negara, termasuk Indonesia, sesuai protokol kesehatan, diminta rajin mencuci tangan. Menggunakan masker, mengonsumsi makanan sehat, serta menjaga lingkungan yang sehat juga dilakukan agar tidak tertular corona.

Berdasarkan buku Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Lautan Selatan karya Yi Jing [It-sing] yang diterjemahkan dari A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelaho oleh J. Takakusu, B.A., Ph.D, digambarkan bagaimana tata cara hidup sehat masyarakat Nusantara. Ini berdasarkan ajaran Buddha, yang dilakukan para biksu di India maupun di Sriwijaya.

Tata cara hidup sehat, kemungkinan besar juga dilakukan masyarakat biasa. Sebab, mereka [penganut ajaran Budha] percaya tubuh yang sehat akan lebih mudah menuju kesucian jiwa.

Beberapa catatan Yi Jing mengenai cara hidup sehat antara lain Pembersihan Setelah Bersantap, Dua Kendi untuk Menyimpan Air, Penggunaan Kayu Pembersih Gigi, Tentang Buang Air Besar, Aturan Tidur dan Istirahat, Manfaat Olahraga yang Tepat untuk Kesehatan, Gejala-Gejala Penyakit Fisik, Aturan Dalam Memberi Obat, serta Pengobatan yang Merugikan Hendaknya Tidak Dipraktikan.

Beberapa pemikiran penting dari catatan tersebut adalah misalnya mencuci tangan. Ini dilakukan bukan hanya sebelum makan, juga sesudahnya. Bukan hanya tangan yang dicuci dan dibersihkan, juga mulutnya.

Pembersihan setelah buang air besar, bukan hanya menggunakan air, juga bubuk batu bata, serta tangan kiri yang digunakan untuk membersihkan juga disterilkan berulangkali.

Olahraga yang sering dilakukan yakni berjalan pagi hari [sebelum pukul sebelas] dan sore hari. Olahraga berupa jalan di taman sangat membantu kesehatan.

Disebutkan Yin Jing, setiap orang adalah raja tabib bagi dirinya. Jika seseorang mengalami sakit, hendaklah dia berpantang makan [puasa] selama beberapa hari. Pasien diperbolehkan minum, seperti air panas yang dicampur dengan jahe kering. Kemudian menggunakan minyak hangat atau menyelimuti tubuh. “Berpuasa adalah pengobatan yang efektif,” tulis Yin Jing.

Dicatat Yin Jing, makanan seperti sayuran dan ikan sebaiknya dimakan setelah dimasak matang dan dicampur dengan minyak samin, minyak atau bumbu.

 

Bukan hanya Sriwijaya

“Saya percaya hidup sehat itu bukan hanya berlaku bagi kalangan biksu, juga di masyarakat umum. Para biksu ini mengajarkan hal-hal baik bagi masyarakat,” kata Dr. Husni Tamrin, budayawan Palembang, yang fokus pada kebudayaan melayu Sriwijaya, kepada Mongabay Indonesia, Selasa [12/05/2020].

“Jadi kebiasaan mencuci tangan, membersihkan diri, dan mengonsumsi makanan sehat, juga dipraktikkan sebagian besar masyarakat di masa Kedatuan Sriwijaya. Biksu adalah orang yang dihormati, sehingga ajaran dari mereka pasti banyak yang mengikutinya, terutama yang beragama Buddha,” kata Husni.

Sebenarnya, kata Husni, perilaku hidup sehat dijalankan masyarakat di Nusantara, bukan hanya di masa Kedatuan Sriwijaya. Juga, di masa Kerajaan Majapahit dan sejumlah kesultanan.

Semua ajaran agama, selain Buddha, seperti Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan lainnya, juga mengajarkan hidup sehat. “Bahkan dalam ajaran Islam, soal mencuci tangan atau anggota tubuh dalam satu hari minimal lima kali dilakukan, yakni saat berwudhu,” ujarnya.

Budaya mencuci tangan, merawat tubuh, membersihkan diri setelah membuang hajat, berolahraga, berpakaian bersih, serta mengonsumsi makanan sehat, hampir menjadi bagian penting dari setiap kelompok masyarakat.

Buktinya kita memiliki berbagai aktivitas olaraga, seperti bela diri, lomba perahu, dan sebagainya. Kita juga mengenal banyak ramuan obat, jamu, serta kuliner yang sangat baik bagi tubuh.

Yusuf Bahtimi, peneliti dari CIFOR, mengatakan lingkungan Indonesia di masa lalu memang sangat mendukung perilaku hidup sehat.

“Hutan yang masih lestari membuat air bersih melimpah, sehingga mencuci tangan, mandi, mudah dilakukan. Tidak seperti di berbagai wilayah lainnya di dunia. Tapi, saat ini kondisi Indonesia memprihatinkan. Masih banyak orang Indonesia yang kesulitan mengakses air bersih karena perubahan bentang alam, terutama gundulnya hutan. Banyak kota juga sanitasinya buruk,” kata Yusuf kepada Mongabay Indonesia, Selasa [12/05/2020].

Keberadaan hutan juga mampu menghasilkan udara sehat, sehingga imunitas tubuh manusia terjaga baik.

“Coba kalau hutan dan sungai di Indonesia masih baik, mungkin pendemi COVID-19 tidak mengkhawatirkan seperti saat ini,” katanya.

 

Kapitalisme yang gagal

“Kapitalisme yang sebenarnya membuat masyarakat Indonesia pada hari ini hidup tidak sehat, bukan kebudayaan yang melahirkannya. Logikanya, jika seseorang di lingkungan sehat, dia pasti akan berperilaku sehat juga. Tapi kapitalisme telah merusak hulu dan hilir,” kata Husni.

Kapitalisme membuat banyak orang Indonesia hidup miskin. Hidup di perkampungan kumuh, air bersih dan udara tercemar, makanan sehat sulit, serta masyarakat tidak mampu lagi mengakses hutan atau alam yang selama ini menjadi sumber pangan dan obat-obatan.

“Kepanikan sosial, ekonomi dan politik akibat pendemi COVID-19 bukan membuktikan bangsa Indonesia yang buruk, tapi membuktikan kapitalisme sudah gagal. Seharusnya pemerintah tidak wajib menyarankan setiap warga negaranya hidup sehat, jika lingkungan tetap terjaga sehat, tidak dirusak kapitalisme,” katanya.

 

Kembali ke alam

Guna hidup sehat, kata Husni, bangsa Indonesia tidak harus belajar dengan kebudayaan asing. Kembalilah pada akar budaya Indonesia. Reformasi budaya ini mencakup banyak hal, mulai dari cara hidup, makanan, serta obat-obatan.

“Tapi guna mereformasi budaya ini, memang syaratnya cukup sulit, sebab alam harus dikembalikan menjadi baik seperti masa lalu. Sebab, semua sumber kehidupan sehat bangsa Indonesia selama ini bergantung pada alam. Hutan, sungai, danau dan laut harus dilestarikan dan dijaga, baru bangsa ini akan hidup sehat seperti dulu,” katanya.

Hikmah dari pendemi corona, kata Yusuf, Pemerintah Indonesia harus menata ulang lingkungan atau alam di Indonesia. “Jika tidak dilakukan, berbagai pendemi virus baru akan menyerang negara ini di masa mendatang,” ujarnya.

“Prinsipnya hidup sehat harus didukung lingkungan sehat. Lingkungan yang sehat akan mengembalikan budaya bangsa Indonesia yang sehat. Pemerintah harus mengembalikan hutan, sungai, laut menjadi lebih baik, dan memperlakukannya secara arif jika terkait kepentingan ekonomi,” katanya.

Berbagai industri yang merusak hutan, sungai dan laut, harus segera dihentikan. “Harus dicari industri yang lebih arif terhadap lingkungan,” paparnya. []

Penulis : Taufik Wijaya

You may also like...