New Normal = Normalnya Tidak Normal

Ilustrasi foto SCMP
Ilustrasi foto SCMP
Prime Banner

ApakabarOnline.com – Jika 3 suku kata ini dibaca dengan cara berbeda akan memberikan arti yang berbeda bahkan berlawanan. Ini bukan permainan kata-kata, tapi terkait dengan sikap mental bangsa khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan penerapan New Normal.

“Normalnya tidak normal”. Jika dibaca bersambung tanpa jeda, maka makna adalah ‘keadaan yang harus dilakukan (standar) dalam keadaan tidak normal’.

Makna inilah yang relevan untuk memahami NEW NORMAL. Sebuah tata kehidupan baru yang diatur dengan Standar Operasional Kesehatan: menjaga jarak, tidak berkerumun, tidak bersentuhan, memakai masker, menyemprotkan disinfektan dan hand sanitizer dll.

Sebelum pandemi Covid-19, cara bersosial seperti ini tidak wajar. Ketemu saudara atau sahib tidak berjabat tangan dianggap sombong. Berkerumun menjadi kebiasaan yang mengasyikkan. Tidak ikut dibilang tidak gaul. Selalu memakai hand sanitizer dianggap berlebihan bahkan paranoid, bisa menyinggung orang lain.

Tetapi semuamya sekarang dianggap normal bahkan wajib. Orang yang tidak melakukan dianggap tidak normal. Karena sekarang kondisinya sedang tidak normal. Sedang ada pandemi. Semuanya sedang serba berbahaya.

 

Makna kedua.

Jika ‘Normalnya tidak normal’ dibaca dengan tekanan pada kata ‘normalnya’ dan jeda sebentar setelahnya, jadi dibaca “Normalnya,… tidak normal”.

Makna yang muncul menjadi  ‘Tidak normal (standar) adalah hal yang sudah biasa dilakukan’.

Makna ini berkonotasi negatif. Dan inilah yang terjadi di sebagian  masyarakat Indonesia, hidup dengan cara menabrak kenormalan. Termasuk ketika menyambut ‘New Normal’.

Normalnya cuci tangan tidak cuci tidak.

Normalnya pakai masker tidak pakai.

Normalnya menjaga jarak malah berkerumun.

Dan hasilnya? Setelah New Normal, jumlah terdampak melonjak tajam, mencapai 1000 kasus lebih. Surabaya berubah menjadi zona hitam!

Pertanyaannya apa yang salah dengan ‘New Normal?’

Yang salah, disainernya.

Karena disainernya tidak menyertakan protap penerapannya secara bertahap.

Mereka lupa atau tepatnya melupakan faktor psikologis dan karakter masyarakat Indonesia yang tidak normal.

Bahwa karakter tidak normal masyarakat Indonesia adalah pemberani. Termasuk berani menabrak kenormalan apalagi kenormalan baru atau New Normal.

Dan orang yang paling pemberani adalah orang yang berani memaksakan kenormalan baru kepada orang yang belum normal.

Siapa ? Orang normal lebih tentu lebih tahu. []

Penulis : Ery Masruri,  Wakil Ketua DDII DIY

You may also like...