Prime banner

MALANG – Harapan kerap kali datang dari arah tak terduga. Bukan dari gedung menjulang, bukan pula dari rumah-rumah mewah. Tapi, kali ini datang dari gang sempit di Jalan Muharto, Gang 5B RT 03 RW 10 Nomor 36, Kotalama, Kecamatan Kedungkandang. Di tempat inilah Nur Miftahul Jannah tinggal bersama 25 anak asuh beserta lima orang lansia.

Mereka semua tinggal di bangunan dua lantai. Di lantai atas, biasanya anak-anak asuhnya tidur atau menonton televisi. Total ada empat kamar yang disiapkan Miftah untuk tempat anak-anaknya tidur.

Lantai dasar digunakan Miftah untuk menerima tamu. Di ujung ruangan juga tertata tiga tempat tidur. Satu dari tiga tempat tidur tersebut kosong, sementara dua lainnya ditiduri oleh dua lansia wanita. Bilik kain menjadi pembatas antara kamar darurat dengan aula yang juga sekaligus menjadi ruang tamu.

Saat awak media mengunjungi rumah itu kamis (5/4), anak-anak di tempat itu tampak pintar dan sopan. Mereka tidak akan ragu untuk salim kepada siapa pun yang bertamu. Usia mereka beragam, mulai dari yang masih bayi hingga SMP. Tapi, sebagian besar masih balita. Namanya anak-anak, bocah-bocah di rumah itu sangat aktif. Di sela-sela obrolan, sesekali Miftah harus menenangkan mereka.

Salah satu yang ditenangkan Miftah adalah bayi yang usianya baru sebulan. Kulitnya masih merah. Benar-benar mengundang haru bila tahu bahwa bayi sekecil itu harus menerima kenyataan bahwa dia tak diinginkan oleh keluarga kandungnya karena problem sosial. Bayi tak berdosa itu dianggap aib oleh keluarga ibunya karena terlahir tanpa ada ikatan pernikahan.

Tapi, bayi perempuan itu tidak sendirian. Di rumah Miftah, ada puluhan anak yang nasibnya tidak jauh berbeda. Problem mereka hampir sama: ditelantarkan, tak diinginkan, korban perceraian, dan yatim piatu.

”Semua anak punya kisahnya sendiri-sendiri. Mereka tidak memiliki tempat untuk berteduh. Maka sudah jadi kewajiban saya untuk memberikan perlindungan kepada mereka,” kata Miftah.

Sudah tak terhitung berapa banyak anak yang ”dipeluk” oleh perempuan kelahiran 24 Desember 1982 ini. Dari pagi sampai siang, Miftah dibantu lima orang perawat anak untuk mengasuh ”anggota keluarganya”. Sementara sore sampai malam, dia sendiri yang mendampingi anak-anak dan lansia yang tinggal di tempatnya itu. Mulai dari memandikan, membuat susu, hingga menemani tidur.

Miftah sendiri bisa dikatakan tumbuh di tengah kondisi keluarga yang kurang beruntung. Sejak kecil, ayah dan ibunya bercerai. Meski merupakan anak tunggal, perempuan 36 tahun ini harus rela berbagi kasih sayang dengan adik-adik dari ibunya.

”Waktu itu ibu saya punya tanggung jawab untuk merawat adik-adiknya. Jadi, perhatian untuk saya juga harus terbagi,” katanya.

Masa kecil Miftah tumbuh bersama teman-teman yang nasibnya juga tak jauh berbeda dengannya.

”Makanya sejak kecil pula saya punya keinginan untuk punya panti asuhan, supaya tidak ada lagi anak-anak yang merasakan kerasnya hidup seperti saat saya kecil dulu,” katanya pelan.

Karena kondisi itu pula, Miftah kecil hanya sempat menyelesaikan pendidikan sampai tingkat sekolah dasar. Bangku dan kursi sekolah di SD Kotalama V menjadi satu-satunya sarana pendidikan formal yang pernah dia rasakan. Pada tahun 1996, saat usianya masih 14 tahun, Miftah mengambil keputusan besar untuk menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) atau yang dulu lazim disebut TKW,  di Singapura.

Faizal : Dari Berdakwah Ke Sesama PMI, Hingga Kini Menjadi Pembina Ratusan Santri

”Dulu masih banyak calo. Jadi, usia saya dituakan menjadi 18 tahun supaya bisa berangkat,” kisahnya.

Ketika tiba di negara berjuluk Lion City itu, alih-alih mendapatkan pekerjaan yang mapan, Miftah justru menjadi korban kekerasan majikannya.

”Waktu itu saya benar-benar tidak tahu bagaimana caranya mengoperasikan rice cooker. Karena biasa memasak di atas dandang, jadi saya bakar rice cooker milik majikan saya di atas kompor. Majikan saya marah besar, lalu saya dipukul sampai lebam di bagian kepala,” kenangnya.

Drama kehidupan tak berhenti dijalani oleh putri Sri Nurhayati ini. Empat tahun kemudian Miftah memutuskan pulang ke Malang untuk menikah. Sayangnya, suami Miftah saat itu belum memiliki penghasilan yang mapan, juga tempat tinggal yang layak.

Alhasil, mau tidak mau perempuan ini harus kembali mengadu nasib ke luar negeri. Kali ini dia ke Hongkong. Bertahun-tahun tinggal terpisah dengan suami membuat hubungan mereka penuh badai. Puncaknya, pada tahun 2010 Miftah harus menerima dua kenyataan pahit.

”Suami saya menikah lagi, dan ibu saya meninggal karena kanker. Dulu bahkan sempat mau bunuh diri juga karena tidak tahan dengan cobaan yang bertubi-tubi itu. Tapi karena jendela kamar saya kecil, jadi nggak muat,” kenangnya lalu tertawa kecil.

Di titik terendah itulah Miftah akhirnya mulai menemukan cita-cita lamanya, yaitu mengabdikan diri untuk orang-orang di sekelilingnya yang membutuhkan.

”Saya tidak lagi harus mengirim uang kepada suami maupun ibu saya. Pertama kali saya pegang gaji utuh, saya berpikir untuk apa juga,” tanyanya.

Dari situlah Miftah mulai mencari orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Ketika itu, dia memutuskan kembali ke Hongkong untuk bekerja. Melalui bantuan temannya yang ada di Malang, secara konsisten selama empat tahun dia menyalurkan bantuan untuk kaum duafa. Bukan hanya dari penghasilannya, Miftah juga mendapatkan tambahan dari tulisannya yang dia jual kepada teman-temannya.

”Saya menulis di folio, lalu saya fotokopi dan saya jual. Oleh teman-teman tulisan itu dibeli HKD 10 (dolar Hongkong, Red) tiap ceritanya,” katanya sambil tertawa.

Kisah yang dia tulis diberi judul Kisah Nyata dan Jeritan Hati. Nama itu pula yang hingga kini dia gunakan sebagai nama yayasan yang dia kelola. ”Sasaran utama saya adalah kalangan duafa yang membutuhkan bantuan untuk berobat,” terang Miftah.

Dibantu temannya, Saiful Bahri, yang kini telah jadi suaminya, pada tahun 2014 lalu akhirnya Yayasan Peduli Kasih Kisah Nyata dan Jeritan Hati resmi berdiri. Sebuah rumah singgah mulai dia buka bagi orang-orang yang tinggal sementara sembari menjalani perawatan kesehatan.

Pelayanan yang awalnya hanya sebatas pelayanan kesehatan untuk duafa lambat laun mulai merambah ke anak-anak yang telantar.

”Karena semakin banyak dan suami saya tidak lagi sanggup, saya putuskan pulang (dari Hongkong) untuk membantu,” terang Miftah.

Berbekal tabungannya selama menjadi PMI, Miftah kemudian berbagi tugas dengan suaminya. Dia mengurus yayasan, sementara sang suami mengelola usaha konveksi yang dia rintis sebagai salah satu penyangga perekonomiannya.

Kini, sebanyak 45 anak telantar maupun yatim piatu menjadi tanggung jawabnya. ”Yang 25 anak tinggal di sini, yang lain masih memiliki keluarga. Jadi mereka tinggal dengan kerabatnya. Tapi semua kebutuhannya, mulai dari sekolah sampai keperluan sehari-hari, menjadi tanggung jawab kami,” terang Miftah.

Begitupun nasib para lansia. Mereka bukan hanya berasal dari Malang Raya, tapi juga dari luar kota dan bahkan luar provinsi. Selain dari unit usaha konveksi yang dikelola suaminya, operasional yayasan juga banyak terbantu dari donatur.

”Setiap anak sudah ada rezekinya masing-masing. Saya tidak pernah khawatir mereka akan kekurangan karena rezeki untuk mereka sudah disiapkan Gusti Allah,” ungkapnya teduh.

Mimpi terdekat Miftah adalah membangun tempat yang layak untuk kaum jompo yang sebatang kara.

”Insya Allah, semoga dimudahkan supaya bisa segera kami dirikan,” harap Miftah.

Belakangan, Miftah juga sering menggelar kegiatan bersama komunitas-komunitas difabel yang ada di Malang Raya.

”Difabel itu kan hanya fisiknya saja yang tidak sempurna. Kalau diarahkan dengan baik, saya yakni mereka juga punya potensi,” yakinnya. [Farik Fajarwati/Radar Malang]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner