Prime banner

KARANGANYAR – Ahmad Faizal Haq, mantan pekerja migran Indonesia (dulu TKI/TKW/BMI)  yang ini kenyang akan pengalaman di fitnah, di teror secara fisik dan mental hingga dilaporkan ke petugas kepolisian oleh sesama PMI dengan tuduhan terlibat paham berbahaya. 6 tahun bekerja di Malaysia merupakan kenangan yang penuh suka dan duka baginya.

Faizal, merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Kondisi perekonomian kedua orang tuanya membuat Faizal terpaksa meninggalkan bangku kuliah di sebuah universitas swasta di Surakarta, mengikuti jejak kakaknya menjadi pekerja migran. Berbeda dengan kakaknya yang memilih Taiwan sebagai tujuan, Faizal memilih Malaysia lantaran dirasa mudah dan murah biaya pemberangkatannya.

Sebagai jebolan pesantren, akhlaqul karimah Faizal menggerakkan hati nya untuk peduli dan ingin merubah kondisi teman-teman sekerjanya di sebuah proyek bangunan di kawasan Sepang Malaysia untuk selalu mengingat Allah dan menjauhi larangannya.

“Masyaallah, dulu banyak teman-teman saya sepekerjaan yang gemar mabuk setiap akhir pekan usai menerima bayaran. Saya mengajak mereka untuk meninggalkan kebiasaannya dengan mengingatkan bahwa uang hasil kerja kita harus kita manfaatkan sebaik-baiknya, untuk anak istri dan keluarga di rumah atau ditabung untuk masa depan  kita di dunia dan di akhirat” kenang Faizal.

Namun, Faizal mengaku, ajakan kebaikan yang ditebarkan ke beberapa teman sepekerjaan sesama PMI di Malaysia dulu, sering ditanggapi sebagai sebuah perbuatan mencampuri urusan orang lain. Faizal mengaku malah pernah sampai di maki dan di tonjok bogem mentah temannya yang gemar mabuk. Bahkan, saat akaan mengerjakan sholat, sarung dan sajadah Faizal yang selalu dia bawa ke tempat kerja, sampai dibuang oleh temannya sesama PMI.

“Persis seperti cerita Rasulullah saat berdakwah, masyaallah, saya mengalami. Saya malah diusir dari kongsi tempat saya bekerja oleh teman-teman sesama PMI. Tapi saya hanya tersenyum saja, lantaran hal tersebut terjadi pasti karena kehendak Allah” lanjut Faizal.

Saking tidak sukanya teman Faizal dengan ajakan meninggalkan kebiasaan mabuk, membuat Faizal dilapporkan ke Polisi Malaysia dengan memfitnah bahwa Faizal terlibat kegiatan teroris. Faizalpun sempat di tahan selama beberapa hari untuk diinterograsi dan diselidiki. Beruntung, saat Faizal bercerita apa adanya, Polisi tidak menemukan bukti kalau Faizal terlibat teroris hanya karena jenggotnya, justru Polisi menemukan bukti, teman-temannya yang sedang bergembira rria mabuk-mabukan usai mereka merasa berhasil membuat Faizal ditangkap Polisi.

Kenangan tersebut, membuat Faizal semakin peduli dengan dunia pekerja migran. Kini, meskipun dia telah memutuskan untuk pulang ke Karanganyar, di sebuah yayasan pendidikan Islam, bersama ustadz Muhaimin, Faizal mengabdikan diri untuk membina dan mengurusi pendidikan anak-anak dhuafa yang banyak diantaranya merupakan anak-anak pekerja migran yang terlantar.

“Cita-cita saya itu dari dulu memang kepingin menjadi seorang pengajar. Dan alhamdulilah meskipun sempat tersendat putus kuliah, setelah 6 tahun bekerja di Malaysia, saya bisa kembali melanjutkan meraih cita-cita “ ungkap alumni PAI Universitas Muhammadiyah Surakarta ini.

Faizal mengaku formalitas akademik yang saya dapatkan dari hasil bekerja di luar negeri, bisa mendukung cita-citaanya untuk memiliki kehidupan dalam profesi dunia pendidikan.

“Selama masih diberi kesempatan waktu, rizki, kesehatan dan sarana pendukung lain, manfaatkan sebaik-baiknya agar nanti saat pulang ke kampung halaman, sebagai mantan TKI kita mantap memiliki pilihan hidup yang bermartabat dunia dan akhirat. Kuncinya, Ihtiyar dan tawakkal” pungkas Faizal. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner