Rutin naik Transportasi Umum, Bisa Menurunkan Berat Badan

Prime Banner

Alih-alih naik mobil pribadi, rutin naik kendaraan umum bisa jadi solusi menurunkan berat badan. Sebuah studi baru membuktikan hal itu.

Menurut peneliti dari University of Illinois di Urbana-Champaign dan Georgia Tech, bepergian menggunakan kendaraan umum bukan hanya memberi manfaat ekonomis tapi juga menyehatkan.

Pasalnya, kebiasaan ini ternyata terkait dengan tingkat obesitas yang rendah. Bagaimana bisa?

Peneliti menemukan, ketika jumlah penumpang kendaraan umum meningkat satu persen, tingkat obesitas menurun hampir 0,5 persen. Dengan kata lain, jika ada lebih banyak orang di suatu wilayah memilih rutin naik kendaraan umum, maka akan semakin berkurang penderita obesitas di wilayah itu.

Obesitas yang ditandai oleh kelebihan lemak tubuh, diketahui sebagai salah satu masalah kekinian yang mengancam kesehatan global. Di Indonesia pun perkara obesitas terbilang serius mengingat masyarakat masa kini kurang gerak dan jarang berolahraga.

Oleh sebab itu, temuan tersebut cukup masuk akal mengingat penggunaan transportasi umum biasanya melibatkan lebih banyak pergerakan fisik daripada naik mobil pribadi.

“Memilih pakai kendaraan umum dibanding mengemudi menciptakan peluang untuk berolahraga yang mungkin tidak ada,” ujar Sheldon H. Jacobson, seorang profesor ilmu komputer dan matematika yang juga rekan penulis studi dalam rilis.

Ia menggambarkan, tidak seperti melangkah keluar dari rumah dan langsung masuk ke mobil, menggunakan kendaraan umum semisal naik bus akan mendorong Anda untuk berjalan kaki dari rumah ke halte bus, dan dari halte pemberhentian ke tempat tujuan.

Ini sangat bermanfaat untuk menjaga tingkat kebugaran Anda yang idealnya bergerak sekitar 10 ribu langkah sehari tergantung kebutuhan..

Studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Transportation Research Part A: Policy and Practice ini membandingkan dan mengevaluasi data kesehatan, transportasi, dan sensus penduduk dari 227 wilayah di 45 negara bagian AS sejak tahun 2001-2009.

Peneliti memperhitungkan sejumlah perbedaan dan faktor yang dapat memengaruhi kesehatan atau penggunaan jenis transportasi seperti faktor ekonomi, pendidikan dan gaya hidup, termasuk olahraga di waktu senggang, pendapatan rumah tangga, catatan akses ke perawatan kesehatan, dan pendanaan untuk angkutan umum.

Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan-temuan sebelumnya yang juga dihelat oleh Jacobson dan Douglas King, dosen senior teknik industri yang juga rekan penulis studi baru.

Bahkan, studi baru ini merupakan pengembangan dari studi-studi mereka sebelumnya yang telah mengaitkan tingkat obesitas dengan penggunaan transportasi tertentu, pun telah mengaitkan antara mengemudi dengan obesitas.

Misalnya, pada tahun 2012, Jacobson dan King menemukan mengurangi naik mobil konvensional—baik sebagai penumpang maupun pengemudi–, bahkan hanya satu mil sehari, bisa menurunkan indeks massa tubuh.

“Cara mudah agar lebih aktif secara fisik adalah dengan menghabiskan lebih sedikit waktu di dalam mobil. Mobil adalah moda transportasi tercepat yang kita miliki, tetapi konsekuensi dari kebutuhan akan kecepatan dalam menyelesaikan sesuatu ini mungkin adalah epidemi obesitas,” ujar Jacobson kala itu.

Lalu, pada 2017, ia mulai mencari cara untuk memerangi obesitas dengan memikirkan ke mana semestinya dana publik suatu wilayah yang telah diberikan masyarakat setempat dialokasikan, Walaupun gagasan menggunakan kendaraan umum mengurangi obesitas bukan hal baru, Jacobson dan King menyatakan gagasan itu lewat angka pasti.

Di tingkat wilayah, hasil studi menunjukkan bahwa ketika penumpang kendaraan umum suatu daerah meningkat satu persen, tingkat obesitas turun 0,221 persen. Penurunan persentase obesitas ini senada dengan studi baru.

Hanya saja, dalam studi 2017, Jacobson menyarankan bahwa jenis angkutan umum yang berkontribusi optimal terhadap kesehatan masyarakat demi mengurangi obesitas adalah yang nyaman, harganya terjangkau, juga bersih dan sehat.

Studi baru menampik hal itu. Tak ada pengaruhnya antara kendaraan umum dalam kondisi jorok dan tak ideal terhadap obesitas.

Untuk hasil yang lebih valid, dalam studi baru peneliti menggunakan pendekatan longitudinal alias meneliti perbedaan antara tahun 2001-2009. Ini memungkinkan mereka mengontrol faktor-faktor musiman yang dapat memengaruhi analisis semisal cuaca atau geografi fisik

Meski begitu, peneliti mengatakan bahwa karena analisis dilakukan di tingkat negara lewat perspektif masing-masing wilayah, impilkasinya bagi rata-rata individu menjadi tidak jelas.

Dengan kata lain, bukan berarti orang yang sering naik kendaraan umum akan sepenuhnya betul-betul terbebas dari obesitas atau cenderung menjadi tidak gemuk, meski memang bisa menurunkan berat badan.

Terlebih lagi, studi ini menggunakan data dari tahun-tahun di mana orang lebih akrab dengan kendaraan umum macam kereta api dan bus, ketimbang pakai transportasi daring yang populer seperti saat ini. Jacobson agak khawatir bahwa transportasi daring mungkin memengaruhi obesitas juga.

Terlepas dari itu, “Yang paling penting untuk dipelajari dari penelitian ini adalah bahwa kita punya pilihan,” kata Jacobson.

“Kita harus berhati-hati tentang kapan memilih mengemudi seperti ketika Anda memilih untuk makan.”

Bagaimanapun, selain memberikan pilihan transportasi yang lebih efisien karena menguntungkan lingkungan, “Kendaraan umum memang merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang efektif untuk obesitas,” pungkasnya. []

You may also like...