Sebenarnya Kami Sangat Tertekan, Tapi Apa Daya

Prime Banner

HONG KONG – Gelombang unjuk rasa berkepanjangan di Hong Kong yang terjadi sejak bulan Juni 2019 silam hingga saat ini belum terlihat adanya tanda-tanda akan berakhir. Pemicu kerusuhan yang bersifat dinamis seolah sambung menyambung tiada terlihat kapan akan berujung.

Banyak kalangan bahkan bisa jadi termasuk kalangan pengunjuk rasa yang sebenarnya secara psikis merasakan dampak yang luar biasa, termasuk kalangan pekerja rumah tangga asing di Hong Kong.

Kelompok pekerja rumah tangga asing di Hong Kong merupakan kelompok yang memiliki pola hidup jarang berada diluar bangunan. Kalaupun ada yang setiap hari memiliki jadwal keluar rumah majikan, paling-paling terbatas dengan waktu saat mereka berbelanja ke pasar. Malahan, ada pula yang tidak pernah keluar rumah majikan sama sekali kecuali saat hari libur tiba.

Apapun rutinitas mereka, hal tersebut tentu memiliki resiko dan tingkat stres yang cukup tinggi. Karena itulah, hari libur lazimnya dimanfaatkan untuk benar-benar melakukan rileksasi melepas kepenatan setelah bekerja sepekan.

Nyonya Yuen, salah seorang majikan yang memperkerjakan pekerja rumah tangga asing di Hong Kong mengakui hal tersebut. Ditengah tekanan situasi yang menekan kondisi usahanya, nyonya Yuen masih sering menyisakan pikirannya untuk memikirkan apa yang dirasakan oleh Anah, PMI yang telah delapan tahun bekerja padanya.

Nyonya Yuen menyebut, Anah merupakan sosok pekerja keras, ulet dan fokus saat bekerja. Anah hanya akan beristirahat saat malam menjelang atau saat hari libur tiba. Anah jarang bisa menghirup dan memandang situasi diluar apartemen kecuali saat dia berlibur.

Pengakuan Nyonya Yuen bernada sama dengan pengakuan Nyonya Muen. Kepada jurnalis ApakabarOnline.com yang mewawancarainya, Nyonya Muen merasa sangat khawatir akan keselamatan dua PRT asing yang bekerja padanya.

“PRT saya biasanya kalau hari libur membagi dua waktunya untuk bersantai berkumpul teman-temannya sedaerah, dan separoh waktu dia gunakan untuk beribadah di Masjid. Sejak terjadi demonstrasi, PRT saya kalau liburan menghabiskan waktu seharian di Masjid. Saya kasihan, apakah dia bisa terhibur” keluh nyonya Muen.

Ungkapan dua majikan tersebut sangat mewakili ribuan majikan lainnya di Hong Kong. Kekhawatiran mereka bukan saja pada persoalan keamanan saja. Terkait dengan situasi saat ini, sebagian dari kalangan majikan juga memiliki kekhawatiran ekonomi dimana hal tersebut secara langsung berdampak pada kelangsungan hidup mereka sehari-hari.

Dari sisi pekerja migran Indonesia yang bekerja di Hong Kong, kejenuhan dan tekanan psikis, mereka mengakui merasakan. Namun dalam situasi yang dihadapkan pada pilihan harus menerima keadaan dan menyesuaikan diri, mereka memilih pasrah berhadapan dengan situasi.

“Kalau boleh saya berteriak, saya ingin demo berhenti, situasi tenang, damai seperti dulu. Tapi saya juga paham, mereka yang demo itu menyalurkan aspirasi untuk negara mereka, sedangkan saya disini hanya numpang bekerja. Resikolah, harus menerima semuanya. Kalau majikan masih mampu menggaji, saya tetap bekerja, kalau majikan tidak lagi mampu menggaji, saya cari majikan lain, kalau sudah tidak ada lagi majikan, ya sudah, pulang kampung atau mencari negara lain. Gitu aja mikirnya daripada susah terus setiap hari dengar orang bentrok, dengan teriak-teriak, lihat kepulan asap. “ tutur Anik Setyowati, PMI asal Jenangan Ponorogo kepada ApakabarOnline.com disela-sela liburannya kemarin (10/11/2019). []

You may also like...

Leave a Reply