Segera Pulang, Nduuk…

Prime Banner

Putriku pergi merantau sejak aku memarahinya habis-habisan, dia sering pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya di luaran, dia selalu bilang itu urusan anak muda.

“Kalau kamu digunjingkan para tetangga itu akan menjadi urusan bapak, Nduk.” Aku menegurnya saat dia baru pulang, aku tidak sabar untuk menunggu esok pagi. Biarlah tetangga dengar, toh Anjani itu putriku, yang sering mereka gunjingkan.

“Masa bodoh dengan mereka, Pak. Mereka hanya iri pada kehidupan kita, tidak usahlah didengar. Bikin kuping budek saja…” Katanya sambil ganti baju, bersiap tidur.

“Kamu itu perempuan, Nduk. Mereka mengira kamu bergaul dengan orang-orang yang salah, nge-bir, nge-pil apa nge-rock katanya. Atau jangan-jangan kamu main dari kamar ke kamar? Bapak serbasalah mau bilang apa kalau kamu juga tidak terus terang sebenarnya kamu di luar kerja apa?” Akhirnya setelah meredam amarah aku beranikan berkata apa adanya kata tetangga.

“Dan, bapak percaya?” Katanya, jutek.

“Bapak tidak tahu, Nduk. Bapak hanya diam saat mereka meminta penjelasan, berkata akan membicarakannya denganmu.” Sebenarnya aku tidak ingin membentak-bentak anakku, namun entahlah responnya selalu membuatku hilang kesabaran.

“Halaah… Palingan itu kata bapak, suka ngadu kepada mereka. Yang penting aku enggak ganggu mereka, koq mereka usil sih?” Dia malah nunjuk-nunjuk ke mukaku.

“Njani… Kamu harus sopan dengan bapak..” Istriku ikut bicara.

“Emang ini zaman Siti Nurbaya, harus nunduk-nunduk kayak orang kampungan itu..” Jawab Anjani ketus dan keras, mungkin bergema dan terdengar tetangga.

“Hei, An.. Kita memang di kampung. Sudah sepantasnya anak-anak menghormati yang lebih tua..” Andik, putra sulungku yang terbangun dari tidurnya ikut bersuara. Makin gaduhlah suasana rumahku di malam itu.

“Siapa bilang di kota, Mas.. Aku sudah bosen hidup di sini, orang-orang sok benar, sok peduli dan sok baik. Aku akan mencoba merantau untuk mencari nafkah untuk diriku sendiri, bukan untuk kalian. Mengerti..” Dia beranjak ke kamarnya, mencoba menutup pintunya.

“Bapak belum selesai bicara, kenapa kamu pergi! Benar-benar anak tak tahu diri, kamu disekolahkan bukan untuk menjadi pembangkang, Nduk. Tapi untuk menjadi gadis baik yang pintar dan saliha, bukan untuk menjadi anak berandalan yang tidak tahu aturan, Nduk. Namun, menjadi anak rumahan yang ramah dan terampil..” Kataku sambil menarik kembali tangannya dari gagang pintu.

“Aku bukan barang, Pak. Aku manusia bergerak yang punya otak sehat dan aku ingin menjadi manusia berbeda, bukan sesuai dengan keinginan bapak dan ibu. Lepaskan Njani, Pak…” Pintanya sambil mendorongku kasar, aku terduduk di lantai. Andik reflek menampar Anjani, istriku sudah menangis.

“Kamu memang bukan barang, An. Tapi kamu adikku, anak dari bapak dan ibu. Kalau kamu tidak sopan pada mereka mas tidak akan segan-segan melakukannya lagi. Mengerti..” Andik menggeram.

“Ya… Bunuh saja aku. Toh aku tidak berguna di rumah, mas itu harusnya melindungi bukan menampar adiknya. Ah, aku lupa masku ini hanya berani dengan perempuan. Kalau mau berkelahi itu cari lawan yang seimbang…” Hampir saja Andik menamparnya lagi, aku menahan dan menyuruhnya sabar. Dia memilih duduk bersila di lantai, menatap marah kepada adik perempuan satu-satunya itu.

Duh, Gusti… Ini ujian apa anugerah? Perasaan anakku dulu itu pendiam dan penurut, apa menunggu dia dewasa baru bertingkah?

“Sudah, sudah… Ini sudah malam, jangan ribut. Bapak hanya ingin kamu pulang lebih awal, Nduk. Apa perlu pindah kerja? Pak Amir sepertinya membutuhkan karyawan di toko cabang kota.” Aku mencoba menengahi, mencari jalan keluar yang baik.

“Aku ingin melindungimu, An. Tapi, bagaimana bisa aku lakukan kalau kamu tidak mau dan membangkang pada kami, keluarga yang patut kamu hormati dan hargai..” Andik masih bicara, mengepalkan tangan, meninju lantai. Istriku makin keras tangisnya, ia menggenggam tanganku dan mengingatkan kadar darah tinggi yang aku derita.

“Baiklah… Apa yang ingin kamu lakukan setelah ini, Nduk? Biar bapak dan ibu juga masmu tidak mengkhawatirkanmu.” Akhirnya aku memutuskan untuk memenuhi keinginannya, siapa tahu dia akan kembali ke jalan yang baik dan semestinya.

“Aku ingin merantau, Pak. Aku ingin kerja ke Hong Kong, sekalian kuliah di sana. Jadi, aku akan lama dan do’akan saja agar putri bapak ini selalu menjadi manusia yang baik..” Dia berbicara, mencoba tenang. Andik terlihat terkejut, namun tetap pada tempatnya tidak menyela perkataan adiknya.

“Baik.. Lakukan saja. Semoga Hong Kong mendewasakanmu, Nduk.” Aku memberinya izin.

Saat ini Anjani sudah di Hong Kong hampir delapan tahun, alasannya kuliah itu empat tahun. Dia benar-benar tidak pernah pulang saat kontrak yang katanya dua tahun sekali itu berakhir.

“Nanggung, Pak. Kalau pulang sekalian saja, lalu enggak balik Hong Kong.” Dia selalu berkata begitu setiap telpon. Kami hanya bisa mendo’akan yang terbaik.

“Segera pulang, Nduk. Bapak sudah mulai sakit-sakitan, masmu sudah menikah dan punya anak. Kamu kapan?” Aku menyinggung sebuah pernikahan.

“Kalau sakit ya berobatlah, Pak. Kalau aku mau nikah pasti bapak dan ibu aku kasih tahu, meski bandel putrimu tetap putrimu, Pak. Ingat itu..” Sejak itu aku tidak memburunya lagi dengan pernikahan.

“Baiklah, Nduk. Jada diri di sana, ya? Hati-hati, jaga shalat.” Nasehat yang selalu aku ulang dan ulang itu jarang mendapat respon, hanya sebuah tanda ponsel telah dimatikan.  Semoga saja aku panjang umur agar bisa menyaksikan dan menjadi wali Anjani kelak. Aku termasuk beruntung sih, meski tidak pulang Anjani masih berkabar dan kadang kirim uang. Anak tetangga desa yang lain malah jarang berkabar apalagi mengirim uang. Namun, delapan tahun itu bukan delapan hari. Yang bisa dialihkan dengan ke ladang dan sawah, aku tetap merindukan anak bandelku itu. Iya, bandel, badung dan entah apalagi. Aku baru tahu dia pulang malam itu karena ikut teman-temannya yang kini beberapa sudah menikah untuk belajar komputer di kedai kopi yang menyediakan wifi gratis, dilakukan setelah pulang kerja. Nanggung kalau pulang dulu, pasti dia butuh alasan untuk mendapat izin dariku. Tuduhan tetangga 3N(Nge-bir,Nge-Pil,Nge-Rock) itu tidak terbukti dengan berlalunya hari. Aku percaya pada anak-anakku, mereka dewasa dengan do’a bersambung dari orangtuanya. Betul juga saat seseorang tidak mempan dengan nasehat kata-kata dan tindakan, maka hanya dengan do’a yang terus menerus insyaAllah ia akan berubah dengan kehendak-Nya. Segeralah pulang, Nduk. Cari saja pengalaman dan wawasan yang katamu keren itu di Blitar sini, di Indonesia bukan di luar negeri macam Hong Kong.

[Dituturkan Bapak Usman Hadi kepada Anna Ilham-Apakabar Plus]

You may also like...