Tak Ingin Seperti Wuhan, Upaya Keras Dilakukan, Tangis Risma Pecah Saat Ribuan Alkes Sampai di Balai Kota Surabaya

Prime Banner

SURABAYA – Beberapa hari yang lalu, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur dr. Joni Wahyuhadi merasa was-was dengan situasi yang terjadi di Kota Pahlawan. Bagaimana tidak, tingkat penularan atau rate of transmission Covid-19 di Surabaya diketahui sangat tinggi.

Bagaimana tidak, jika tingkat penularan di Kota Surabaya saat ini berada di rasio 1,6. Rasio tersebut berarti jika ada 10 orang positif Covid-19 dalam satu minggu jadi 16 orang.

“Ini tidak main-main, kalau kita tidak hati-hati, maka Surabaya bisa jadi (seperti) Wuhan,” ujar Joni seperti dilansir beritajatimnet.com

Lantaran itu, dia mengemukakan, Tim Gugus Tugas Jatim sedang berfokus untuk menurunkan tingkat penularan Covid-19 terutama di Kota Surabaya.

Salah satunya dengan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Joni menyakinkan, pengetatan PSBB ini bertujuan untuk menekan tingkat penularan.

Sejauh ini, menurut Joni, pasien positif di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik mencapai 65 persen dari total keseluruhan pasien Covid-19 di Jatim.

Sedangkan untuk menurunkan Case Fatality Rate (CFR) atau rata-rata tingkat kematian, Joni mengatakan pihaknya melakukan clinical research mulai penggunaan Avigan, Terapi Plasma Convalescent, atau Aspirin.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah pusat melalui Presiden Joko Widodo memerintahkan jajarannya untuk fokus menangani Jawa Timur.

Permintaan daerah ke pusat dipercepat dan dipermudah lantaran telah mendapat prioritas diutamakan karena keadaan yang berkembang.

Satu persatu upaya mulai dilakukan. Berawal dari datangnya bantuan alkes kiriman pemerintah pusat ke Balai Kota Surabaya hingga membuat tangis walikota Surabaya Tri Rismaharini pecah.

Dihadapan staf-stafnya berikut puluhan awak media yang berada di lokasi saat ceremoni penyambutan kedatangan ribuan alkes, Risma tak mampu menahan tangisnya.

Alkes yang diangkut menggunakan truk container langsung disambut Risma dengan suka cita. Ketika pintu truk kontainer dibuka, Risma langsung terkejut dengan jumlah bantuan yang diterima itu. Bahkan, ia langsung memanggil Kepala Dinkes (Dinkes) Surabaya, Febria Rachmanita agar mendekat untuk melihat isi di dalam kontainer itu.

“Bu Feny Bu Feny, sak mene akehe Bu (segini banyaknya bu), ya Allah bu, ya Allah bu,” kata Risma.

Raut dan mata Risma langsung banjir air mata. Ia tak bisa menyembunyikan kegembirannya itu. Bahkan, wali kota perempuan pertama di Surabaya ini juga sempat menangis haru dan meneteskan air mata karena masih tidak percaya dengan jumlah bantuan yang diterimanya.

Risma menuturkan, selain menerima bantuan berupa alkes dan alat pelindung diri (APD) dari BIN, Pemkot Surabaya juga menerima bantuan mobil ambulance dan mobil laboratorium untuk pemeriksaan swab. Kedua kendaraan ini pun tiba bersama di Balai Kota Surabaya.

“Habis ini kita bisa melakukan proses untuk laboratorium sendiri, karena alatnya sudah lengkap. Mudah-mudahan kita bisa selesaikan, sambil kita lakukan yang mobile itu untuk swab warga,” ujarnya.

Sebagai diketahui, ribuan alkes yang diterima itu, terdiri dari Real Time PCR 2 unit, Reagent PCR 5000 test, VTM (Virus Transport Media) 5000 unit, Laminar Airflow Cabinet I unit, PCR Box 1 unit, Vortex 2 unit, Mini Centrifuge My SPIN 12 Mini Centrifuge 3 unit, Refrigerator 2-8° C 1 unit, Freezer -20° C 1 unit, Mikropipette Set 3 unit, Bio Safety Cabinet 2 unit, Automatice Extraction Machine + Biotecon 2 unit, Refrigerated Centrifuge 1 unit, Autoclave 1 unit, Thermal Mixer 1 unit, Thermal Block 1 unit, Oven, 1 unit, dan Freezer -80° C 1 unit.

Sedangkan untuk alat pelindung diri (APD), terdiri dari Mask N95 8000 pcs, Isolation Gown 8000 pcs, Protective Eyewear 8000 pcs, Latex Glove 8000 pcs, Medical Shoes Cover 8000 pasang, serta alat rapid test berjumlah 15.000 kit. []

 

You may also like...