Telaten, Rp. 200-an Ribu Bisa Dikantongi Mantan PMI asal Kebonsari Setiap Hari

Prime Banner

MADIUN – Kreatifitas dan pandai membaca peluang, dua hal yang sering mengantarkan seorang pengusaha menjadi sukses meraih laba besar. Seperti yang dilakukan Denik Setyowati, mantan PMI Hong Kong asal Desa/Kecamatan Kebonsari Madiun ini.

“Setahun pertama di rumah saya hanya bisa bingung. Semua pelatihan kewirausahaan yang pernah saya ikuti di Hong Kong rasanya kok mengawang, tak mungkin saya kembangkan.” Tutur Denik saat mengawali percakapan dengan ApakabarOnline.com.

Kegelisahan Denik untuk segera memiliki usaha di kampung halaman terjawab dengan sebuah ketidaksengajaan melihat kehidupan seorang pedagang obrok.

“Tanpa saya duga, pedagang obrok yang tiap hari menjadi langganan saya tiba-tiba bilang kalau besok saya tidak jualan, katanya akan menghadiri wisuda anaknya yang nomor dua di UGM Jogja” lanjutnya.

Rupanya penuturan pedagang obrok (sayuran keliling) tersebut menarik perhatian Denik. Mulai dari menanyakan berapa jumlah anaknya hingga kuliah dimana saja dan endingnya bagaimana cara membiayai mereka.

Dari dialog singkat tersebut Denik tercengang, penampakan yang selama ini banyak diremehkan masyarakat, ternyata menyimpan potensi finansial yang tidak banyak kelihatan. Ketiga anak pedagang sayur obrok seluruhnya masuk di perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Yang pertama alumni Fakultas Ekonomi Univ Airlangga Surabaya dan kini bekerja di sebuah bank plat merah, yang kedua lulusan  UGM Jogja dan yang terakhir menjadi Taruna Angkatan Udara.

“Dia janda dan tidak pernah menjadi TKW, tapi penghasilannya bisa membuat saya kagum, lebih kagum lagi keberhasilannya menyekolahkan anak-anaknya” lanjut Denik.

Kekaguman tersebut membuat Denik seperti terlecut semangatnya. Dengan saran dari ibu tersebut, Denik mencoba membuat ayam bakar dan panggang dalam potongan kecil kecil untuk dijual eceran dititipkan pada pedagang obrok yang banyak berseliweran diarea Madiun Raya.

Wal hasil, berawal dari 3 ekor ayam di tahun 2015, setelah tiga tahun berjalan, kini setiap hari Denik mengolah sedikitnya 10 ekor ayam untuk dipotong dan dijadikan ayam bakar dan ayam panggang.

Setiap ekor ayam, saat ini Denik rata-rata membeli dengan harga Rp. 35 ribu dari kandang ayam petelur yang sudah tidak produktif telurnya. Setiap satu ekor ayam dia potong menjadi 18-20 potong.

“Rata-rata 19 lah” jelasnya.

Setiap potong ayam bakar atau ayam panggang yang dia titipkan penjualannya dia lepas dengan harga Rp. 4.000. Dan para pedagang akan menjual dengan harga Rp. 5.000 kepada end user.

Pendapatan kotor dari setiap ekor nilainya Rp. 76 ribu. Setelah dipotong ongkos untuk memasak termasuk bumbu, setiap dari setiap ekor ayam Denik bisa mendapat keuntungan bersih rata-rata 20-an ribu rupiah.

“Tinggal mengalikan saja, kalau setiap hari minimal 10 ekor yang dimasak, kelihatan 200-an ribu untungnya bersih” tegas Denik.

Ditanya keinginan untuk mengembangkan usahanya menjadi usaha kuliner berbasis warung, Denik menyatakan tidak ingin mengembangkan kearah tersebut.

“Warung itu banyak saingannya mas. Saat ini saya malah coba-coba ingin melebarkan sayap ke jualan online. Menjual ayam bakar atau panggang secara online lewat jaringan whatsapp atau facebook untuk kawasan Madiun. Mending gini daripada buka warung. “ terangnya.

Saat ini, keinginan Denik untuk mengembangkan usaha ke konsumen berbasis online bukan tanpa alasan. Seringnya mendapat pesanan ayam panggang maupun bakar untuk hajatan misalnya, atau katering ke kantor dan sekolah, membuat nama Denik mulai dikenal.

“Setelah ketemu dan tahu jalannya, saya membuktikan, mencari penghidupan itu ternyata bisa di kampung halaman. Teman-teman yang masih diperantauan, jangan gamang untuk pulang dan berwirausaha. Tanpa keberanian, keberhasilan tidak mungkin bisa terwujud. Seperti cerita mbok bakul obrok langganan saya, siapa sangka kan ?” pungkas Denik. []

You may also like...