Tips Gini, PMI Hong Kong Asal Sragen Sukses Mempersiapkan Kedua Anaknya Masuk Pesantren

Prime Banner

KARANGANYAR – “Awalnya kami tidak betah, tidak bisa nonton tivi, tidak bisa bermain jauh, tidak bisa pulang. Tapi lama-lama kami jadi kerasan karena disini kami diajari banyak hal yang tidak dipelajari teman-teman yang tidak mondok” aku Zainal Arifin (13) anak bungsu Gini, warga Gemolong Sragen yang hingga saat ini masih aktif bekerja menjadi pekerja migran di Hong kong.

Bukan tanpa sebab, sejak keduanya masih dalam kandungan, Gini telah bercita-cita ingin memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren agar bisa menyelamatkan hidupnya dunia dan akhirat.

“Butuh persiapan. Bukan kebetulan. Tapi memang telah direncanakan. Sejak beberapa tahun sebelum masuk pesantren, kami telah mengarahkan, bukan memaksa, tapi memberi pengertian dan pemahaman. “ tutur Gini kepada Apakabar melalui sambungan telpon.

Gini menambahkan, proses mempersiapkan kedua anaknya masuk ke pesantren bukan perkara mudah, namun bukan pula perkara sulit. Sebab menurut Gini, kuncinya adalah konsistensi dan konsekwensi dalam memberikan pengarahan.

“Jadi, antara saya dan keluarga di rumah harus seragam dan seiring sejalan. Kalau tidak seragam, dan tidak telaten ya sulit membawa mereka ke pesantren. Godaan di pergaulan lingkungan mereka kan menjadi hambatan paling berat. “ imbuh Gini.

Sejak beberapa tahun sebelum masuk pesantren, kedua anak Gini telah dilatih minimal untuk bangun pagi dan berjamaah sholat Subuh.

“Bangun subuh itu kelihatannya sepele, tapi mendengar saran dari beberapa orang alim, membiasakan anak bangun subuh, memiliki banyak manfaat yang tidak disadari banyak orang. Disamping memang setelah masuk pesantren, setiap hari harus bangun subuh dan sholat berjamaah. “ lanjutnya.

Kebiasaan bangun pagi atau bangun subuh, menurut Gini jika tidak dibiasakan sebelumnya, anak akan kaget saat telah berada di pesantren yang terasa menyiksa karena harus bangun di pagi-pagi buta dan memulai aktifitas belajar.

Disamping membiasakan kedua anaknya dengan berbagai rutinitas dasar, memberi bekal pemikiran terkait kehidupan dunia akhirat, pentingnya ajaran agama sebagai panutan dan tuntutan hidup di masa depan juga harus selalu dilakukan.

Walhasil, dengan upaya penuh kegigihan, dengan pemahaman Gini, bahwa mendidik santri, bukan hanya tanggung jawab pondok pesantren, melainkan juga kewajiban orang tua dan lingkungan, kini kedua anak Gini telah mapan dengan kehidupannya di sebuah Pondok Pesantren berbasis Modern.

“Alhamdulilah saya sudah dapat hafalan 10 juz. “ aku Zainal Abidin (15) anak Sulung Gini saat bertemu Apakabar.

“Kalau saya baru empat juz” aku Arifin si bungsu.

Fenomena mendidik anak yang dilakukan Gini merupakan fenomena yang memiliki tauladan penting bagi orang tua lainnya. Ditengah keterbatasan menjadi pekerja migran dimana Gini tidak bisa secara dzahir mendidik anak-anaknya selain melalui perangkat komunikasi, toh dengan dukungan keluarga, upaya Gini membuahkan hasil Positif.

Melalui rubrik Kampung Halamaan, Gini berikut kedua anaknya dengan suka rela berbagi pengalaman

Zaenal Abidin Anak Sulung Gini :

Apakabar : Apa yang Bidin rasakan saat pertama masuk pesantren ? Kaget gak dengan aturan dan disiplin yang diterapkan disini ? Misalnya seperti kewajiban bangun pagi, hapalan, dan mandiri.

Bidin : Alhamdulilah saat masuk pesantren, Bidin tidak merasa kaget dengan kebiasaan-kebiasaan seperti bangun pagi, mencuci piring makan sendiri, menata tempat tidur dan lemari. Sebab sejak sebelum masuk pesantren, ibu telah sering mengingatkan agar setiap pagi selalu bangun pagi, sholat subuh, lalu ngaji sebentar dan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mempersiapkan ke sekolah.

Apakabar : Bidin merasa berat gak saat di pesantren harus melakukan semua sendiri, seperti bangun pagi, ngurusi pakaian, ngurusi tempat tidur dan lain-lain ?

Bidin : Tidak. Banyak teman-teman yang pas waktu masuk pesantren saat dibangunkan subuh awalnya susah. Sampai kakak-kakak pengasuh sering dibuat jengkel. Ternyata karena sebelumnya mereka tidak pernah bangun pagi memang. Di rumah manja tidak pernah mengerjakan pekerjaan sendiri.

Apakabar : Waktu belum masuk pesantren, dirumah dibiasakan disiplin bangun pagi, mengerjakan pekerjaan sendiri, Bidin merasa gimana ? Berat, sebel, atau biasa saja ?

Bidin : Kadang-kadang ya sebel. Kepingin bermain dengan teman-teman, eh, di rumah punya tanggungan menyapu halaman. Kalau bangun pagi sih tidak masalah, sebab biasanya menjelang subuh sudah otomatis bangun sendiri.

Apakabar : Disini (pesantren) kan ada kewajiban menghafal Qur’an dan Hadits. Sekarang sudah berapa juz dan sudah berapa hadits hafalannya ?

Bidin : Alhamdulilah, saya sudah dapat hafalan 10 juz dan 231 hadits shahih.

 

Zaenal Arifin Anak Sulung Gini :

Apakabar : Bagaimana perasaan Ipin saat masuk pesantren ? Apa yang Ipin rasakan berat ?

Ipin : Kaget, temannya banyak banget, rame. Dulu di rumah kan tenang. Terus disini tidak boleh nonton TV, jadi ipin tidak pernah lihat Jarwo, dan Upin Ipin lagi.

Apakabar : Ipin betah gak disini ?

Ipin : Betah

Apakabar : Apa yang membuat betah ?

Ipin : Disini temannya banyak, bermainnya beda dengan waktu dirumah. Disini bermain bisa sambil belajar, bisa kenal teman dari jauh, kalau di rumah temannya ya didekat rumah semua. Terus sering dapat makanan enak kalau pas ada teman yang dijenguk orang tuanya.

Apakabar : Kalau Ipin sering dijenguk gak ?

Ipin : Jangan, malu. Ipin malu kalau dijenguk. Kayak anak kecil saja.

Apakabar : Kalau berbagi jajan atau makanan, Ipin pernah gak membagi jajan dan makanan yang dibawakan Mbah Kung atau Ibu ke teman-teman ?

Ipin : Pernah, Biasanya kalau jajanan dari Ibu itu dikirim langsung dari Hong Kong satu kardus guede banget. Nanti ibu biasanya sudah berpesan ke Ustadz untuk membagi jajan itu. Ibu sering kok ngirim jajanan dari Hong Kong, karena Ipin bilang ke Ibu kalau teman-teman suka. Lalu Ibu sering ngirim.

Apakabar : Ipin sudah hapal berapa Juz dan hadits sekarang ini ?

Ipin : Saya baru empat juz. Kalau hadits masih dikit, belum sampe seratus hehehe

Apakabar : Cita-cita Ipin setelah lulus pesantren nanti apa dan mau kemana ?

Ipin : Ipin kepingin sekolah tinggi, keluar negeri. Supaya Ipin pinter. Bisa bahasa Arab, Bahasa Inggris. Kalau sekolah di rumah, bisanya bahasa Indonesia saja. Kalau disini setiap hari kan harus pake bahasa Arab sama Inggris. Jadi Ipin pingin melanjutkan sekolah ke luar negeri. []

You may also like...