August 3, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

10 Tahun Menjadi PMI, Kini Didik Sukses Beternak Kambing Tanpa Perlu Ngarit Setiap Hari

2 min read
Didik Juragan Wedus Farm 99 (Foto Istimewa)

Didik Juragan Wedus Farm 99 (Foto Istimewa)

Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

GRESIK – Dalam dunia peternakan, segala cera dan teknologi baru untuk mempermudah dan meningkatkan produktifitas hasil sejak lama telah berkembang dan dikembangkan. Salah satunya dalam dunia peternakan kambing.

Seperti yang dilakoni oleh Didik Sihabul Millah, mantan pekerja migran Indonesia yang kini sukses dengan usaha kambing.

Menukil dari Media Tani, Didik mengawali usaha ini sejak 3,5 tahun silam. Waktu itu Didik hanya memiliki 20 indukan kambing. Didik lalu merawatnya dengan metode modern. Yakni, menggiling rumput budidaya serta limbah pertanian. Untuk minumnya, kambing diberi sisa gilingan gabah dan campuran lain.

“Saya kerja di Malaysia 10 tahun seusai lulus SMA. Pada 2016 pulang, lalu bangun kandang dulu, kemudian belajar otodidak dan dikembangbiakkan hingga saat ini ada ratusan,” katanya.

Warga Desa Wotan Panceng ini melanjutkan, bahwa beternak kambing itu tidak asal-asalan ya. Protein dan kebersihan kandang ialah hal yang utama. Pejantan dan indukan bahkan diberikan menu makanan berbeda.

Jika pejantan, gilingan rumput harus difermentasi terlebih dahulu selama 21 hari. Ini akan memberikan efek lebih bagus. Kemudian, kambing betina atau indukan diberikan protein dari campuran gilingan rumput dan jenis sayuran.

“Perlakuannya berbeda, bahkan ditempatkan ditempat beda. Ada kambing yang dijual, ada juga yang dikembangkan dan digemukkan. Kami budidaya rumput juga, lalu digiling. Bahkan menu makanannya pun dibedakan antara pejantan dan indukan,” ujarnya.

Dalam merawat kambing miliknya, Didik pula mempekerjakan 5 karyawan. Selain ada di bagian perawatan dan kebersihan, ada pula pegawai khusus yang bertugas menjualnya.

Ditanya terkait omset perbulan, Didik masih enggan menyebutkan. Namun, dia bilang, intinya, setiap hari ada saja pembeli.

Apalagi, ketika menjelang Idul Adha seperti ini. Permintaannya lebih banyak. “Dua minggu ini sudah 30-an yang keluar. Ada 100 an yang siap jual. Intinya, ketika kambing kami jual kami belikan lagi dan diternakkan sesuai jenisnya,” tuturnya, malu-malu.

 

Kambing Ras Sapudi Jadi Buruan

Walaupun ada berbagai jenis domba dan kambing, Owner Farm 99 Gresik ini mengakui bahwa lebih menyukai kambing jenis lokal asli Indonesia.

Salah satunya jenis Kambing Sapudi yang berasal dari Kepulauan Sapudi, Kabupaten Sumenep Madura, Fanroy dan Garut, Jawa Barat.

Nah, agar tetap bisa dilestarikan, dia juga mencoba mengawinkan indukan jenis Kambing Sapudi dengan lokal. Hasilnya pun bagus. Bahkan, harga jualnya tinggi. Dagingnya empuk. Kambing jenis ini pun biasa disajikan di restoran atau hotel.

“Hasil perkawinan lokal Kambing Sapudi ini lebih besar. Bahkan saat kecil ekornya sudah kelihatan, warnanya juga putih dan bagus. Tentu harga jual tinggi,” terangnya.

Melihat manisnya beternak kambing, Ketua NGO Panceng Kita ini mengajak milenial agar mau berwirausaha dengan beternak. Bahkan, dirinya siap membimbing agar sukses beternak kambing.

Ia mencontohkan, dari lima kambing saja. Indukan dan pejantan ini dapat menghasilkan dua kali lipat. Setahun bisa dua kali.

“Kami juga buka kemitraan khususnya dengan pemuda yang mau beternak kambing,” ucap Didik. []

Advertisement
Advertisement