70% Bencana Alam di Indonesia Sepanjng 2025 Berupa Banjir dan Tanah Longsor, Apa Sebabnya ?
2 min read
JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang 1 Januari hingga 28 November 2025, terdapat 2.942 bencana alam yang terjadi di Indonesia dengan lebih dari 70% di antaranya merupakan banjir dan cuaca ekstrem. Kondisi ini sejalan dengan situasi yang terjadi di berbagai wilayah terutama di Pulau Sumatra yang dalam beberapa hari terakhir dihantam hujan deras hingga mengakibatkan banjir besar dan tanah longsor.
BMKG dalam rilisnya pada Kamis (27/11/2025) menjelaskan bahwa anomali cuaca tersebut dipicu oleh kemunculan Siklon Senyar, sebuah fenomena langka yang terbentuk di Selat Malaka. Siklon ini meningkatkan intensitas curah hujan hingga masuk kategori ekstrem di sejumlah wilayah.
Beberapa titik mencatat curah hujan yang sangat tinggi, seperti Aceh Utara (310,8 mm/hari), Medan (262,2 mm/hari), Tapanuli Tengah (229,7 mm/hari), dan Padang Pariaman (154 mm/hari). Tingginya volume air dalam waktu singkat membuat daerah-daerah tersebut tidak mampu menahan debit air, sehingga banjir meluas dan longsor pun tak terhindarkan.
Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai bahwa kerusakan lingkungan turut memperparah dampak bencana. Alih fungsi lahan dan aktivitas ekstraktif mulai dari penebangan, pembukaan perkebunan, hingga pertambangan membuat kapasitas kawasan hulu untuk menyerap air berkurang.
“Apa yang melanda Sumatra bagian Utara, itu tidak semata-mata karena siklon tropis, tapi yang perlu dikemukakan adalah landscape yang berupa bukit bergelombang dan curam, hari ini telah mengalami ekstraksi seperti pertambangan emas, perkebunan, dan proyek sebagainya,” ungkap Deputi Eksternal WALHI, Mukri Priatna, dalam wawancaranya dengan Kompas TV, Jumat (28/11/2025).

Jika melihat data BNPB, banjir tercatat sebagai bencana dengan jumlah kejadian tertinggi sepanjang tahun 2025, yakni mencapai 1.454 kejadian (49,42%), disusul cuaca ekstrem yang memicu angin kencang, hujan lebat, dan puting beliung sebanyak 638 kejadian (21,69%).
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada di posisi ketiga dengan 546 kejadian (18,56%), sementara tanah longsor tercatat 218 kali (7,41%). Jenis bencana lain seperti kekeringan (1,22%), gempa bumi (0,78%), abrasi (0,68%), erupsi gunung api (0,2%) hingga tsunami (0,03%) yang terjadi dalam jumlah yang jauh lebih kecil.
Tingginya angka bencana hidrometeorologi ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya soal cuaca ekstrem, tetapi juga bagaimana menjaga daya dukung lingkungan. Dengan perubahan iklim yang memperbesar risiko cuaca ekstrem, pemerintah perlu menekankan upaya mitigasi harus mencakup dua sisi yakni memperbaiki tata kelola lingkungan dan memperkuat sistem peringatan dini. Tanpa langkah terintegrasi, banjir besar dan longsor seperti yang melanda Sumatra diperkirakan akan terus berulang di masa mendatang. []
