Ada Kecemasan PMI dan Buku Yusuf Mansur Obong, Apakabar Investasi Condotel Moya Vidi

Hiwa mantan PMI Hong Kong Investor investasi Condotel Moya Vidi dan Paytrend (Foto Tagar.id)
Hiwa mantan PMI Hong Kong Investor investasi Condotel Moya Vidi dan Paytrend (Foto Tagar.id)
Prime Banner

SLEMAN – Penawaran produk  investasi Condotel Moya Vidi, sempat populer di kalangan PMI Hong Kong beberapa tahun silam.

Bermunculan, satu persatu PMI Hong Kong mengaku tidak bisa lagi mengetahui bagaimana nasib dana yang mereka investasikan.

Bagaimana nasib dana investasi mereka  Siapa saja korbannya  Apa yang telah dan akan dilakukan

Secara ekslusive, tagar.id menampilkan artikel yang berisi wawancara dengan salah seorang mantan PMI Hong Kong yang mengaku telah merugi hingga 50-an juta rupiah akibat investasi tersebut.

Adalah Hilwa, mantan PMI Hong Kong asal Sidoarjo, telah menjadi salah satu investor bisnis investasi Condotel Moya Vidi. Hilwa telah menyetorkan uangnya sebesar Rp. 36 juta di tahun 2014.

Dia mengaku langsung tertarik, karena Yusuf Mansur seorang ustaz. “Saya beli 36 juta saat itu dengan sertifikat per Hak Usaha (HU) 2,7 juta. Saya pulang ke Indonesia, lahannya tidak ada. Dan saya tidak tahu uang saya ke mana sudah lima tahun ini,” katanya di Sleman pada Sabtu, 7 Maret 2020.

Perempuan yang juga sebagai start leader internasional Yusuf Mansur ini mengungkapkan, Yusuf Mansur mencatut nama dan fotonya untuk dipasang di brosur bisnisnya. Dirinya diatasnamakan sebagai marketing executive Condotel Moya Vidi untuk menarik minat para TKI berinvestasi. “Banyak yang tertarik hak usaha atau HU Moya Vidi,” katanya.

Hilwa mengaku banyak para jemaahnya pun akhirnya ikut berinvestasi. Namun karena sudah merasa tidak ada kejelasan, beberapa di antaranya meminta supaya uang yang telah ditransfer dikembalikan.

“Teman-teman saya mengadu, dijawab bertele-tele. Ada yang dikembalikan besarannya seperti awal lima tahun lalu 2,5 juta. Ini kan namanya hutang,” kata perempuan berhijab ini.

Hilwa juga mengungkap sebagai seorang start leader, ia sampai saat ini tidak bisa menggunakan aplikasi Paytren. Padahal dirinya ingin berbisnis berjualan tiket transportasi.

“Saya sendiri seorang start leader, aplikasi Paytren tidak bisa digunakan. Mau jual tiket tidak bisa, tapi kenapa beliau bilang Paytren keren, Paytren cerdas,” katanya.

Hilwa menyebut secara total dirinya sudah mengalami kerugian hingga lebih dari Rp 50 juta yang diinvestasikan ke bisnis milik Yusuf Mansur. Ia ingin agar pendakwah kondang ini bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.

“Kalau punya etikad baik, kita kumpulin semua jamaah. Dulu katanya mau membangkitkan ekonomi umat Islam Indonesia, kami percaya beliau karena beliau ustaz. Saya tidak tahu dia di dalam negeri karena kami di luar negeri.

Di tempat yang sama, penulis buku Yusuf Mansur Obong, HM Joesoef mengungkapkan pada 2017 dan 2018, Yusuf Mansur gencar membuat manuver. Antara lain, membeli klub sepak bola, baik di dalam maupun luar negeri.

Selain itu juga bermanuver membeli saham Bank Muamalat, BRI Syariah, dan lainnya yang berujung pada tidak terealisasinya seperti kesepakatan awal. Namun Yusuf Mansur tetap acuh dan terus bergerak dengan ide-ide baru.

Sejak 2017 Yusuf Mansur mulai digugat oleh mereka yang merasa dirugikan karena investasi yang mereka lakukan. Ada Patungan Usaha, Patungan Aset, Condotel Moya Vidi, dan sebagainya.

“Kepada Yusuf Mansur dan para pengikutnya, penulis memberi kesempatan jika isi buku tersebut ada yang salah atau ada yang perlu dikoreksi silakan dibuat buku tandingan. Nanti masyarakat yang akan mengujinya,” katanya. []

You may also like...