January 17, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ahli Khawatirkan Telah Terjadi Mutasi Dibalik Melonjaknya Kasus Flu Burung pana Manusia di China

3 min read
Foto SCMP

Foto SCMP

-

HONG KONG – Lonjakan jumlah orang di China yang terinfeksi flu burung tahun ini telah membuat khawatir para ahli. Ahli mengatakan jenis virus yang beredar sebelumnya tampaknya telah bermutasi dan mungkin lebih menular ke manusia.

Seperti diwartakan Reuters, China pada tahun 2021 telah melaporkan hingga 21 kasus infeksi H5N6 ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sementara tahun lalu, Negeri Tirai Bambu itu hanya melaporkan lima kasus.

Dibandingkan ratusan orang yang terinfeksi H7N9 pada tahun 2017, kasus tahun ini terbilang jauh lebih rendah. Namun, kasus infeksi tahun ini tergolong serius dan telah menyebabkan banyak orang sakit kritis, dengan enam orang dinyatakan meninggal.

“Peningkatan kasus manusia di China tahun ini mengkhawatirkan. Ini adalah virus dengan risiko kematian tinggi,” kata Thijs Kuiken, profesor patologi komparatif di Erasmus University Medical Center di Rotterdam, Belanda.

Sebagian besar kasus infeksi flu burung di China dilaporkan berasal dari kontak langsung dengan unggas. Menurut pernyataan WHO pada 4 Oktober, belum ada kasus penularan dari manusia ke manusia yang dikonfirmasi. Kendati demikian, saat menyoroti peningkatan kasus itu, WHO menyarankan perlunya penyelidikan lebih lanjut demi memahami risiko dan peningkatan penularan ke manusia.

Setelah peringatan dari WHO itu, seorang wanita berusia 60 tahun di Provinsi Hunan dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis pada 13 Oktober. Pemerintahan Hong Kong mengonfirmasi pasien terjangkit virus influenza A subtipe H5N6.

Sementara kasus H5N6 pada manusia telah dilaporkan, tidak ada wabah H5N6 yang dilaporkan pada unggas di China sejak Februari 2020.

China adalah produsen unggas terbesar di dunia dan produsen top untuk bebek. Ini secara tidak langsung menjadikan China sebagai ‘reservoir virus penyebab flu’.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar tentang peningkatan kasus H5N6 pada manusia.

Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan di situs webnya bulan lalu mengatakan ‘peningkatan keragaman genetik dan penyebaran geografis H5N6 menimbulkan ancaman serius bagi industri unggas dan kesehatan manusia’.

Virus flu burung terus-menerus beredar di kalangan unggas domestik maupun liar. Akan tetapi, mereka jarang menginfeksi manusia. Meski demikian, evolusi virus terus meningkat karena pertumbuhan populasi unggas juga mengalami kenaikan. Ini kemudian menjadi perhatian utama karena virus-virus itu bisa saja berubah menjadi strain yang mudah menyebar antarmanusia dan akhirnya memicu pandemi.

Jumlah terbesar kasus infeksi H5N6 saat ini terjadi di provinsi barat daya Sichuan. Namun, beberapa kasus telah dilaporkan di wilayah-wilayah tetangga seperti Chongqing dan Guangxi, Guangdong, Anhui hingga Hunan.

Dari total kasus, 10 di antaranya disebabkan oleh virus yang secara genetik sangat mirip dengan virus H5N8. Sementara diketahui, H5N8 telah merusak peternakan unggas di seluruh Eropa pada musim dingin lalu. Virus itu juga telah membunuh burung-burung liar di China. Hal itu menunjukkan infeksi H5N6 terbaru di China mungkin merupakan varian baru.

“Bisa jadi varian ini sedikit lebih menular (ke manusia … atau mungkin virus jenis ini sudah menyebar pada banyak unggas, dan itulah mengapa lebih banyak orang terinfeksi,” kata Kuiken.

Kemudian, empat dari kasus Sichuan berasal dari pasien yang memelihara unggas di rumah. Kata CDC China pada bulan September, para pasien sempat melakukan kontak dengan unggas-unggas mati. Sementara, seorang pasien lain dilaporkan telah membeli bebek dari pasar unggas hidup seminggu sebelum mengembangkan gejala.

China sendiri telah berupaya memvaksinasi unggas untuk flu burung. Namun, vaksin yang digunakan tahun lalu mungkin hanya bisa melindungi sebagian dari virus yang muncul, mencegah wabah besar tetapi membiarkan virus tetap beredar, kata Filip Claes. Claes adalah koordinator laboratorium regional di Pusat Darurat untuk Penyakit Hewan Lintas Batas di Organisasi Makanan dan Pertanian.

Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan belum menanggapi permintaan komentar.

Beternak di halaman belakang menjadi hal yang lumrah di China, tetapi masih banyak pula warga yang masih suka membeli ayam hidup di pasar.

Bulan lalu, pemerintah Kota Guilin di wilayah Guangxi, memutuskan untuk menangguhkan perdagangan unggas hidup di 13 pasar perkotaan. Pemerintah di sana juga sempat mengatakan akan menghapus perdagangan unggas dalam waktu satu tahun.[]

Advertisement
Advertisement