Aktif di Media Sosial, Bisa Membuat Sulit Mendapat Pekerjaan

Prime Banner

Medsos atau media sosial, konon merupakan tempat berekspresi yang memungkinkan siapa pun mengekspresikan diri dengan bebas. Namun, belakangan, sebagian orang mulai khawatir dengan kicauan mereka di media sosial, setelah mengetahui bahwa banyak perusahaan yang memantau media sosial orang-orang yang melamar kerja ke tempat mereka.

Mungkinkah unggahan media sosial juga menghancurkan kesempatan Anda mendapatkan pekerjaan lain? Ya, tentu. Media sosial kini menjadi bagian integral dari proses pemeriksaan, terlepas perusahaan itu mengakuinya atau tidak.

Sebuah riset yang dilakukan oleh perekrut kerja, Robert Walters, menemukan bahwa setengah perusahaan mempersiapkan diri untuk mencari kandidat yang menggunakan media sosial, sementara 63% telah melihat profil media sosial pelamar, katakanlah melalui LinkedIn misalnya.

Siapa saja bisa membuat diri mereka bermasalah jika mereka tidak berpikir sebelum menggunggah, kata Steve Nguyen, konsultan kepemimpinan dan perubahan di Dallas, Texas.

Tetapi aturan ini kadang terlupa karena buru-buru mengunggah. “Karena mentalitas yang-penting-posting-dulu, kita bisa melihat mengapa kita cenderung kurang memfilter diri sendiri, karena kita buru-buru memproduksi sesuatu yang lucu atau mengejutkan,” kata Nguyen.

Jadi, jika kita tahu risikonya, mengapa kita masih melakukannya? Pengabaian konvensi sosial bisa terjadi – jika kita bisa tidak melihat dampaknya, kata Nathalie Nahai, psikolog dan penulis “Webs of Influence”.

Komunikasi online dimediasi oleh layar menciptakan jarak dan kadang anonimitas, dan itu membuat kita merasa bisa berkomentar dan mengunggah apapun yang kita mau – dengan cara yang mungkin tidak kita lakukan di dunia nyata.

 

Promosi diri dan swa-sensor

Internet adalah medium yang paling nyaring, paling cepat untuk mempromosikan diri, tapi belum tentu yang paling berhasil. Pendekatan ini adalah fragmen identitas kita, kata para ahli. Kita meningkatkan unggahan yang menggambarkan diri kita, dan menghindari unggahan yang menunjukkan cerminan diri yang tidak kita sukai.

Tapi untuk memastikan, media sosial sebetulnya telah memberikan lebih banyak bagi para pengguna, dibandingkan dari apa yang diambil dalam beberapa dekade terakhir.

“Tidak ada bukti bahwa media sosial menurunkan kualitas hubungan kita, membuat kita mundur, atau mengurangi kemampuan kita untuk terkoneksi dan berada pada momen ini,” kata Pamela Rutledge, direktur Media Psychology Research Centre di California.

Kuncinya adalah selalu menyeimbangkan dan memonitor apakah ada perilaku kita yang menambah atau menghambat tujuan dan pengalaman Anda, katanya. []

You may also like...

4 Responses

  1. Terus berkarya ya, tulisannya enak di baca.

  2. Bagus dan bermanfaat. Admin bales dong, please hehe.

  3. qq8788 says:

    Min, saya mau tanya gimana sih caranya bisa konsisten dan punya konten bagus kayak gini.