June 25, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Anak-Anak Dirumah Butuh Pengasuhan, Saya Milih Berhenti Jadi PMI dan Pulang

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

PATI – Seorang pria paruh baya terlihat sedang memotong pisang di sebuah dapur rumah, Desa Tawangrejo RT 3 RW 3, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Setelah teriris tipis, pisang itu kemudian dibawa ke seorang wanita untuk digoreng. Dari penggorengan itu, camilan renyah itu kemudian didinginkan untuk kemudian lanjut pada tahap pengepakan. Begitulah proses pembuatan keripik pisang di Alisa Snack milik Umi Mardliyatun (46).

Di sela-sela membungkus keripik pisang, Umi menjelaskan usaha yang dirintis sejak 2010 lalu itu. Sebelumnya, ia bekerja di luar negeri menjadi PMI. Namun, karena anaknya sudah mulai masuk sekolah, Ia harus tetap di rumah untuk merawatnya.

Anak-Anak Dirumah Butuh Pengasuhan, Saya Milih Berhenti Jadi PMI dan Pulang

Dari situ, Umi berpikiran untuk usaha kecil-kecilan demi bisa menambah penghasilan rumah tangganya. Kemudian tercetuslah ide untuk membuat aneka camilan dengan merek Alisa Snack.

“Awalnya saya kepingin usaha kecil-kecilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan saya ajak tetangga-tetangga untuk bekerja. Saya pasarkan kok laku, akhirnya kita lanjut dan konsisten sampai sekarang,” ungkapnya.

Makanan ringan yang di produksi di Alisa Snack adalah jajanan tradisonal seperti pada umumnya yaitu, keripik pisang, keripik ketela, emping jagung, kue semprong, unthuk yuyu, kembang goyang, dan lain sebagainya. Namun, yang paling banyak diminati oleh konsumen adalah emping jagung.

“Dulunya ada emping jagung yang diproduksi oleh produsen lain, tapi katanya banyak yang rasanya kurang cocok. Tapi kalau produk dari saya banyak yang memberikan komentar jika rasanya enak,” ujarnya.

Berbekal kepercayaan konsumen itu, Umi berusaha selalu menjaga kualitas produk di Alisa Snack. Makanan ringan yang ia produksi harus selalu baru, dan jika di toko yang jadi tempat pemasarannya belum habis saat mendekati tanggal kadaluarsa, ia segera menariknya dan menggantinya dengan stok yang baru.

“Ini semua aku lakukan agar pembeli tidak kecewa dengan produk-produk yang saya pasarkan,” kata perempuan yang dikaruniai satu anak itu.

Dalam sekali produksi, Umi bisa menghabiskan 50 kilogram jagung dalam membuat olahan emping jagung. Sedang untuk keripik pisang, ia menghabiskan hingga 15 kilogram pisang. Poses produksi dilakukan setiap dua hingga tiga hari sekali.

“Harganya berbeda beda. Untuk satu kemasannya meliputi semua macam jajanan berkisar Rp 10 ribu hingga yang paling mahal Rp 15 ribu,” terangnya.

Pemasaran produk Alisa Snack sudah merambah hingga luar kota. Mulai dari Kabupaten Kudus, Demak, Rembang, dan semarang.

“Sebelum pandemi sudah saya jual ke Semarang, namun kendalanya sekarang di daerah Semarang minta sertifikat halal,” ujarnya.

Ia berharap, bantuan dari pemerintah kepada semua UMKM yang sudah menjanjikan serifikat halal segera dilaksanakan. Ia mengatakan bahwa salah satu hal yang menjadi kendalanya adalah banyak konsumen yang meminta setifikasi halal tersebut.

“Di musim pandemi ini sangat berefek sekali, yang biasanya setiap toko saya kirim seminggu sekali sekarang jadi dua minggu sekali. Kadang juga saya WhatsApp yang punya toko dan saya tawari lagi, katanya masih ada barangnya,” pungkasnya. []

Sumber Beta News

Advertisement
Advertisement