Andai Allah Mengangkat Air dari Seluruh Muka Bumi
3 min read
JAKARTA – Pagi ini saya menulis lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat yang meledak, tetapi karena sepulang dari ibadah subuh di masjid dan menuntaskan tartil Al-Qur’an di rumah, di tempat saya turun hujan yang membuat saya menunda sejenak untuk tidak jalan-jalan pagi dulu.
Untuk memanfaatkan waktu, saya langsung membuka laptop di teras sambil menikmati suara tik-tik air hujan yang ringan dan menenangkan.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiran: andai Allah mengangkat air dari bumi ini, apa yang bakal terjadi? Tidak terbayang bagaimana jika esok pagi kita bangun lalu semua air di bumi lenyap.
Tidak ada hujan, tidak ada sungai, tidak ada air wudu. Mungkin baru saat itu kita benar-benar tahu betapa mahalnya setetes air mata yang jatuh karena rindu kepada Tuhan, pemilik segala air.
Mungkin kita akan panik dalam sehari. Dalam sepekan, kita saling berebut air seperti berebut oksigen. Dalam sebulan, dunia akan berperang, bukan karena minyak, tetapi karena air.
Urusan Hati
Selama ini kita mungkin tak pernah membayangkan hal itu karena nyatanya air selalu ada di sekitar kita. Padahal kita sering tak menyadari bahwa ia mengalir tanpa minta terima kasih. Ia jatuh dari langit tanpa menagih upah. Ia membersihkan dosa saat kita berwudu, tetapi tak pernah menuntut balasan.
Allah Swt. dalam Al-Qur’an mengingatkan kita dengan tegas:
“Katakanlah, terangkanlah kepadaku jika air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (Al-Mulk: 30).
Ayat itu sebenarnya menghantam dada. Coba bayangkan kalimat “jika air kamu menjadi kering.” Allah tidak berkata “air di bumi”, melainkan “air kamu”. Artinya, persoalan air bukan hanya urusan bumi, tetapi juga urusan hati. Saat hati kita kering dari syukur, barangkali itulah saat air pun perlahan ditarik dari kehidupan kita.
Dunia ilmiah pun mengakuinya: tubuh manusia terdiri atas 70 persen air, dan otak manusia bahkan lebih tinggi lagi, sekitar 80 persen air. Artinya, jika air hilang, bukan hanya bumi yang mati, tetapi juga akal yang kering dan nurani yang padam.
Air bukan sekadar unsur fisik, tetapi juga energi spiritual. Ia membersihkan dosa dalam wudu bagi seorang muslim. Nabi Saw. bersabda:
“Apabila seorang hamba berwudu dan membasuh wajahnya, maka setiap dosa yang dilakukan oleh pandangannya keluar bersama air.” (Muslim).
Air juga berkhasiat untuk melunakkan jiwa yang kasar dan menenangkan emosi yang terbakar, sebagaimana hadis yang menyatakan:
“Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api itu hanya dapat dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu.” (Abu Dawud No. 4784; Ahmad No. 23122; dinilai hasan oleh Al-Albani).
Peradaban Akan Amblas
Betapa dahsyat peran air dalam ibadah. Tanpa air, tidak ada wudu. Tanpa wudu, tidak ada salat. Tanpa salat, hilanglah roh iman dari tubuh umat. Maka, andai Allah benar-benar mengangkat air, bukan hanya tanaman yang mati, tetapi juga peradaban manusia ikut amblas.
Dari sisi ekologi, air adalah sutradara kehidupan. Ia mengatur cuaca, menumbuhkan tumbuhan, memberi makan hewan, dan menenangkan bumi yang panas. Namun manusia sering pongah: sungai dikotori, laut dijadikan tong sampah, hujan diprotes karena banjir. Kita menuntut air bersih, tetapi enggan membersihkan diri.
Air itu seperti pemimpin sejati: tidak suka menonjol, tetapi tanpa dia, tak ada kehidupan. Ia tidak berbicara, tetapi kehadirannya menyembuhkan. Ia mengajarkan filosofi kepemimpinan—mengalir tanpa henti, memberi tanpa pamrih, dan selalu mencari tempat rendah. Semakin tinggi ilmunya, semakin ia menunduk, seperti air yang mengalir ke lembah.
Mungkin sebab itu, air tampak lebih mulia daripada manusia. Air tidak pernah menipu, tidak pernah sombong, tidak pernah korupsi, tidak pernah menumpuk rezeki di satu wadah. Air selalu berbagi hingga membentuk sungai yang menghidupi jutaan makhluk.
Andai Allah mengangkat air dari bumi ini, mungkin baru saat itu manusia benar-benar beriman. Baru sadar bahwa air bukan sekadar zat cair, tetapi ayat Allah yang mengalir. Setiap tetesnya mengandung zikir. Setiap geraknya adalah ibadah. Dan setiap siramannya adalah rahmat yang menyejukkan dunia.
Maka sebelum air itu benar-benar Allah angkat, marilah belajar menjadi seperti air: mengalir dalam ketaatan, menyejukkan dalam akhlak, dan membersihkan diri dari kesombongan. Sebab bisa jadi, yang membuat Allah menahan air bukan awan, tetapi hati manusia yang tak lagi tahu cara bersyukur. []
Penlis : Ulul Albab; Ketua ICMI Jawa Timur
