October 7, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Angka Kasus Bunuh Diri Tinggi, Namun Keluarga Enggan Melaporkan

3 min read

JAKARTA – Bunuh diri merupakan salah satu isu penting kesehatan publik dunia. Bunuh diri mengakibatkan kematian, bahkan anak muda terbanyak melakukan bunuh diri di berbagai negara.

Yayasan kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri berbasis riset, EHFA menyebutkan 77 persen bunuh diri terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah seperti di Indonesia, dimana belum ada strategi nasional mencegah kasus bunuh diri meningkat.

Oleh karena itu, EHFA lakukan Pengembangan program “Strategi Pencegahan Bunuh Diri Nasional” dimulai pada tahun 2021. Studi komprehensif tentang bunuh diri di Indonesia dilaksanakan, dengan lebih dari 100 jam wawancara mendalam untuk menginvestigasi beragam aspek bunuh diri di Indonesia.

“Untuk mengembangkan strategi pencegahan bunuh diri secara nasional di Indonesia, kami bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan WHO Indonesia sejak 2021, dimana kami menemukan sejumlah data yang cukup mengejutkan,” ujar Ketua EHFA, Dr Sandersan Onie, dalam keterangan pers dikutip pada Selasa (13/09/2022)

“Kami menganalisis data dari pemerintah, termasuk survei desa potensi dan data kepolisian,” sambungnya.

Hasil temuan studi itu menunjukkan masih banyak angka bunuh diri yang tidak dilaporkan di setiap negara, dan yang tercatat merupakan angka resmi versus angka perkiraan.

Tingkat pelaporan yang kurang sebesar 50 persen menunjukkan bahwa perkiraan tingkat adalah 150 persen dari tingkat resmi.

Sementara, rata-rata tingkat laporan yang tidak tercatat adalah antara 0 sampai 50 persen di dunia.

“Namun, ditemukan angka kejadian bunuh diri di Indonesia yang tidak dilaporkan diperkirakan lebih dari 300 persen, atau angka sesungguhnya bisa minimal 4 kali lipat dari yang dilaporkan, dan hal ini merupakan prosentase tertinggi dari jumlah kejadian yang dilaporkan secara nasional di berbagai negara di dunia,” ungkapnya.

Sandersan menjelaskan tingkat laporan yang tidak tercatat dikarenakan beragam alasan, termasuk perbedaan standar dan sistem pencatatan bunuh diri di rumah sakit.

Tak hany itu, banyak keluarga masih menyembunyikan kejadian bunuh diri akibat rasa malu dan stigma masyarakat.

Hasil riset menunjukkan provinsi dengan kejadian bunuh diri tertinggi ditemukan di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Maluku Utara dan Kepulauan Riau, sedangkan provinsi dengan tingkat upaya mau bunuh diri tertinggi ditemukan di Sulawesi Barat, Gorontalo, Bengkulu, Sulawesi Utara dan Kepulauan Riau.

“Untuk setiap kematian akibat bunuh diri, kemungkinan terdapat 8 hingga 24 kali upaya percobaan bunuh diri, dengan penyebab tertinggi diakibatkan oleh tekanan psikologis, penyakit kronis dan masalah keuangan,” jelas Sandersan

Sandersan juga menuturkan faktor risiko bunuh diri termasuk masalah keluarga, masalah keuangan, dan kesepian.

“Meski demikian,  terdapat sejumlah faktor protektif yang dapat mencegah terjadinya bunuh diri, meliputi komunitas, akses ke perawatan psikologis, serta agama,” tambahnya.

Penelitiano kinjuga menemukan terdapat kelompok-kelompok independen yang juga berperan dalam beberapa upaya pencegahan bunuh diri, tetapi mayoritas upaya tersebut tidak maksimal, tidak terkoordinasi dan seringkali tidak didasarkan pada penelitian kontekstual yang baik.

Oleh karena itu, Sandersan bersama Tim Peniliti merekomendasikan sejumlah langkah meliputi perlunya kebijakan nasional melalui kerjasama dengan institusi terkait, pengentasan moralisasi bunuh diri dari sisi agama dan peningkatan penelitian akademis secara terlatih dan sistemik.

Selain itu, diperlukan pembentukan asosiasi lintas disiplin sebagai pengawasan upaya pencegahan bunuh diri dan melakukan intervensi dengan pembatasan sarana bunuh diri.

Mereka juga merekomendasikan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan akademis tentang bunuh diri di semua lini masyarakat, sebagai upaya pencegahan bunuh diri berdasarkan situasi, kondisi dan kearifan lokal setempat. []

Advertisement
Advertisement