Anniversary ke-60 Indonesia Club Gelar Nobar Film ’LIMA’

Prime Banner

Untuk merayakan hari jadinya yang ke-60, Indonesian Club bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar lndonesia (PPI) di Hong Kong menggelar acara nonton bareng (nobar) film berjudul LIMA. Nobar yang juga dihadiri produser/sutradara Lola Amaria, Raymond Sumitro Lukman, salah satu pemain film tersebut, serta Tika Pramesti ini terbagi menjadi dua sesi: Sabtu (1/5) dan Minggu (2/5), di Cinema City-JP, Causeway Bay.

Mengutip Sugijanto, kepala Indonesian Club, tujuan diadakannya nobar tersebut adalah untuk menyatukan perbedaan yang masih mungkin terjadi di sekitar kita. ”Karena ’kan belakangan ini di Indonesia  ada yang mementingkan kelompok tertentu, jadi kita mau mempersatukan perbedaan. Saya mau ’Ini lho’, kita sama-sama Indonesia. Perbedaan itu indah, mari kita bersatu,” ujar Sugijanto kepada Apakabar Plus.

Film yang tayang perdana di bioskop Indonesia mulai 31 Mei ini digarap oleh lima sutradara yang luar biasa. Mereka adalah Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo. Menariknya, ide cerita dari film ini diambil dari Pancasila, ideologi negara Indonesia.

Cerita diawali dari tiga bersaudara: Fara, Aryo dan Adi yang ditinggal selamanya oleh ibu mereka, Maryam. Bukan cuma Fara dan saudara-saudaranya yang merasa kehilangan dengan kepergian Maryam. Termasuk sosok Ijah, pembantu rumah tangga yang merasa kehilangan dengan kepergian Maryam.

Banyak kejadian dialami oleh semua anak yang ditinggalkan Maryam. Masalah demi masalah yang berkaitan dengan sila satu sampai sila lima Pancasila, terjadi dalam keluarga tersebut.

Lola Amaria, produser merangkap sutradara, pada kesempatan jumpa pers bersama Apakabar Plus menyampaikan, membuat film dari nilai Pancasila sungguh merupakan satu tantangan.

Tema besarnya, kata Lola, karena mereka bertuju: dua sutradara dan lima penulis, punya kegelisahan yang sama, ’Kenapa sih negara kita begini amat? Padahal kita beragam, seharusnya kita toleran. Tapi kenapa banyak orang main hakim sendiri, kenapa enam agama, tapi saling bertengkar, saling merasa agama gue lebih bagus?’

”Itu kan seharusnya enggak boleh terjadi. Kemudian, banyak orang yang tidak toleran. Banyak orang yang ada apa-apa tidak bermusyawarah, sehingga hasilnya tidak akan ada keadilan,” ungkap Lola.

Sementara itu, Raymond, salah satu pemain dalam film tersebut, menyampaikan keseruan selama syuting LIMA. ”Seru banget, soalnya ini baru pertama kali main di film. Enggak tahu satu scen yang sepotong itu bisa take satu sampai dua jam lebih. Diulang-ulang. Menarik dan pengalaman baru buat saya,” ungkap Raymond.

Selain Lola dan Raymond, Tika adalah sosok yang memiliki andil besar dalam film tersebut. Sebagai penulis skenario, ia mengaku terkesan dengan reaksi penonton saat menonton film itu diputar di Hong Kong. ”Kesannya senang banget. Maksudku, senang kalau melihat reaksi penonton. Di kota mana pun, di negara mana pun itu, reaksinya beda-beda. Hong Kong seru banget,” ungkap Tika. (wijiati)

You may also like...