September 7, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Antara Angka Kertas Statistik Istana dan Realitas Hidup : Menapa Banyak Warga Miskin Tiba-Tiba Dikategorikan Kaya ?

3 min read

JAKARTA – Antara Kertas Statistik dan Realitas Hidup, Jeritan batin seperti itu boleh jadi tengah bergema di benak banyak kepala keluarga. Mereka yang setiap harinya dipaksa bersahabat dengan kalkulator kehidupan, meraba sisa beras di karung, memutar otak demi SPP anak, hingga menahan napas memastikan voucher listrik bertahan sampai penghujung bulan.

 Bayang-bayang kecemasan kian memuncak tatkala musibah sakit tiba-tiba datang tanpa permisi. Penghasilan yang kuis-kuisan, atap rumah yang bersahaja, serta ketiadaan aset berharga adalah potret nyata keseharian mereka. Namun, alangkah terkejutnya ketika lembar data kesejahteraan justru menempatkan mereka di kelompok desil atas. Di sinilah badai keresahan itu menghempas.

Rasa ironis membuncah: “Bila tercatat mampu, mengapa untuk sekadar menyambung hidup esok hari saja harus mandi keringat dan berdarah-darah?”

Kelesuan akibat sengkarut data desil ini belakangan bukan lagi sekadar riak di media sosial, melainkan telah menjadi bola liar di belakangan hari. Di berbagai sudut daerah, warga berbondong-bondong menyampaikan keberatan. Kota Medan menjadi salah satu saksi bisu betapa penjelasannya memicu tanda tanya besar di Dinas Sosial setempat, hingga terucap penegasan bahwa pemeringkatan tersebut murni ranah Badan Pusat Statistik (BPS).

 Setali tiga uang, gedung DPRD Surabaya turut dibanjiri aspirasi serupa usai lonjakan tingkat desil warga berimbas langsung pada putusnya akses bantuan sosial. Jagat maya pun tak kalah bising oleh pengakuan warga yang mendadak “naik kelas” ke desil 9 atau 10, meski kondisi riil mereka jauh dari kemewahan seorang juragan.

Lantas, jemari siapa yang patut ditunjuk?

Nanti dulu. Ada baiknya publik tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan sempit. BPS telah meluruskan bahwa angka desil bukanlah stempel mutlak untuk memutus siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Desil sejatinya adalah pemetaan posisi relatif suatu keluarga di tengah populasi berdasarkan indikator sosial-ekonomi.

Penilaian tersebut tidak melandaskan diri pada angka gaji semata, melainkan mengkalkulasi kompleksitas karakteristik mulai dari struktur bangunan rumah, ketersediaan air bersih, bahan bakar dapur, kepemilikan barang, daya listrik, hingga komposisi anggota keluarga, tingkat pendidikan, dan kondisi disabilitas melalui metode Proxy Means Test (PMT).

Oleh sebab itu, duduk di desil 10 tidak serta-merta menjadikan seseorang miliarder, sebagaimana berada di desil bawah pun bukan jaminan otomatis mengantongi seluruh program bantuan. Kendati demikian, ada satu fakta mendasar yang kerap luput: bagaimana jika pijakan data tersebut sudah kedaluwarsa dan tak lagi memotret realitas hari ini?

Dinamika nasib manusia berputar cepat. Pemutusan hubungan kerja bisa terjadi kilat, roda usaha dapat gulung tikar seketika, dan beban dompet bisa membengkak seiring bertambahnya anggota keluarga. Rumah yang dahulu tampak kokoh mungkin kini menanggung beban hidup yang jauh lebih berat.

Menyadari kerentanan ini, BPS menekankan bahwa Data Terpadu Sosio-Ekonomi Nasional (DTSEN) bersifat dinamis serta membuka ruang sanggah bagi warga yang merasa datanya tak presisi. Gelombang desakan kini berhembus kuat dari gedung parlemen. Pada 2 September 2026, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, melayangkan instruksi tegas agar BPS melipatgandakan kecepatan dalam merespons sanggahan masyarakat.

Tenggat waktu penyelesaian ditetapkan paling lambat dua pekan sejak berkas keberatan diajukan melalui kanal resmi. Ini bukan berarti merombak seluruh basis data nasional dalam tempo 14 hari, melainkan jaminan kepastian hukum bahwa setiap jeritan aduan warga harus dituntaskan secara cermat dan terukur.

Langkah ini krusial, sebab di balik deretan angka statistik itu bernapas jiwa-jiwa yang nyata. Ada sosok ayah yang gamang menatap tagihan sekolah, pedagang kecil yang meratapi lapaknya yang sepi, petani yang menggantungkan asa pada cuaca, hingga pekerja informal dengan upah tak menentu.

Mereka adalah keluarga-keluarga yang tampak tegar dari luar, namun berjuang keras menutupi defisit saban akhir bulan. Mereka tidak meminta status sosialnya dimiskinkan secara buatan. Mereka hanya menuntut satu hal dasar: jangan sampai catatan kertas melukiskan mereka lebih sejahtera daripada kenyataan hidup yang melilit.

Prinsip bantuan pemerintah yang tepat sasaran bukan sekadar memastikan bantuan jatuh ke tangan yang berhak, melainkan mencegah masyarakat yang benar-benar membutuhkan tersingkir akibat benteng data yang usang. Sebagai langkah mawas diri, sudahkah Anda memeriksa posisi desil keluarga

Anda? Jika menemukan ketidaksesuaian yang mencolok, hindari godaan jalan pintas melalui oknum atau iming-iming calo “penurun desil”. Tempuhlah jalur perbaikan data yang sah melalui aplikasi Cek Bansos, mekanisme SIKS-NG via operator desa/kelurahan, atau portal Cek DTSEN.

Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan bangsa ini sangatlah bersahaja: bukan data manis yang dirancang untuk menyenangkan hati rakyat, melainkan data jujur yang berani memotret kehidupan rakyat apa adanya. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply