January 22, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Banyak Ekspatriat yang Meninggalkan Hong Kong Selama Pandemi, Hong Kong Kini Kekurangan Pegawai

2 min read

HONG KONG – Kebijakan nol-COVID di Hong Kong mendorong tenaga kerja asing ramai-ramai keluar dari pusat keuangan Asia itu. Perusahaan kesulitan merekrut tenaga kerja baru meski menawarkan gaji yang besar.

Seperti China, Hong Kong meniru kebijakan nol-Covid dengan memperketat pembatasan perjalanan. Adanya varian Omicron Covid-19 membuat kecemasan di seluruh dunia termasuk Hong Kong bertambah.

Hong Kong pernah dianggap sebagai salah satu kota paling menarik untuk tenaga kerja asing. Namun kota ini kini dijauhi banyak profesional papan atas karena aturan karantina yang kejam.

Kelompok lobi bisnis internasional telah berulang kali memperingatkan bahwa Hong Kong dapat kehilangan tenaga kerja asing berbakat dan investasi karena pembatasan perjalanan. Hong Kong mewajibkan pendatang untuk melakukan karantina selama 3 minggu.

Lars Kuepper, direktur pelaksana perusahaan relokasi ReloSmart, mengatakan perusahaannya melihat permintaan tenaga kerja di luar negeri naik hingga lima kali lipat sejak pandemi. Namun di dalam negeri lalu lintas tenaga kerja turun hingga 14 kali lipat. “Faktor utama adalah pandemi dan efek dari pembatasan memasuki Hong Kong,” kata Kuepper.

Pemerintah mengatakan pembatasan diperlukan untuk melindungi masyarakat dari virus Corona. Hong Kong juga berencana membuka kembali sebagian perbatasan dengan China daratan, yang merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi.

Menanggapi pertanyaan Reuters, seorang juru bicara pemerintah mengatakan tujuan nol-Covid didasarkan pada kepentingan seluruh komunitas Hong Kong. Sebagian besar penduduk menantikan pembukaan kembali perbatasan dengan China daratan.

“Hong Kong tetap menjadi kota yang kompetitif secara global dan basis regional utama bagi perusahaan internasional di tengah pandemi global,” katanya dalam email kepada Reuters.

Banyak non-penduduk tidak diizinkan masuk ke Hong Kong. Adapun penduduk yang kembali harus menjalani karantina di hotel selama 2-3 minggu dengan biaya sendiri.

Aturan tersebut menurut perusahaan relokasi lainnya, Regal World Transport System Ltd. tidak menarik. Mereka menyatakan beberapa klien memindahkan barang-barang mereka ke luar negeri. Mereka menolak kembali ke Hong Kong setelah melakukan perjalanan yang awalnya dimaksudkan untuk kunjungan keluarga.

Pekerjaan untuk merelokasi orang keluar dari Hong Kong meningkat 30-40 persen selama 1- hingga 2 tahun terakhir, menurut manajer umum Francis Cheung. “Seluruh proses dilakukan melalui email atau WhatsApp. Mereka tidak muncul secara langsung,” ujarnya.

Bagi perusahaan perekrutan, kondisi ini membuat sakit kepala. Ambition, mengatakan bahwa perusahaannya kesulitan menarik tenaga kerja asing untuk bekerja di Hong Kong. “Banyak talenta asing yang ramai-ramai keluar,” kata Chris Aukland, direktur pelaksana regional Ambition untuk Asia.

Phaidon International, perusahaan rekrutmen lainnya, mengalami lonjakan 40-50 persen permintaan. Namun jumlah orang yang direkrut dari luar negeri turun 10 persen. Jamie Thorpe, kepala Phaidon Hong Kong, mengatakan beberapa perusahaan keuangan putus asa untuk mempekerjakan ekspatriat. Padahal mereka telah menawarkan jaminan, tunjangan hidup yang besar dan jabatan pekerjaan yang meningkat. Mereka juga memastikan gaji pokok yang lebih tinggi.

“Kami belum melihat paket-paket ini selama beberapa tahun. Terakhir adalah sebelum krisis 2008,” kata Thorpe.[]

Sumber Reuters

 

Advertisement
Advertisement