August 30, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Berawal Dari Dibiasakan, Dilakukan Banyak Orang, Kesalahan Bisa Berubah Menjadi Normal

2 min read

JAKARTA – Kata normalisasi belakangan sering kita dengar. Ia muncul dalam berbagai percakapan: normalisasi sungai, normalisasi bahasa, normalisasi ujian nasional, normalisasi mencontek, hingga normalisasi perilaku yang sebenarnya tidak pantas.

Namun apa sebenarnya makna dari istilah tersebut?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, normalisasi artinya tindakan menjadikan normal (biasa) kembali; tindakan mengembalikan pada keadaan yang normal.

Arti singkatnya menormalkan kembali.

Proses normalisasi terjadi karena ada sesuatu yang awalnya dianggap tidak biasa, tidak pantas, atau bahkan salah, perlahan diterima sebagai sesuatu yang wajar karena terlalu sering dilakukan, dilihat, atau dibicarakan.

Contoh, memberi bocoran jawaban soal waktu ujian dianggap wajar, membesarkan nilai rapor sudah biasa dilakukan, suap di birokrasi terjadi di mana-mana, pejabat korupsi sudah biasa terdengar, membeli suara saat Pemilu.

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Tidak semua perilaku yang sudah menjadi kebiasaan berarti benar. Tidak semua yang dilakukan banyak orang berarti pantas diikuti.

Islam mengajarkan agar manusia tidak sekadar mengikuti kebiasaan masyarakat, tetapi memiliki kemampuan membedakan antara yang benar dan yang keliru.

Allah berfirman: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116).

Ayat tersebut bukan berarti semua yang dilakukan mayoritas pasti salah. Pesannya adalah agar manusia tidak menjadikan jumlah pengikut sebagai ukuran kebenaran.

Kebenaran memiliki standar yang lebih tinggi: wahyu, akal sehat, ilmu, dan akhlak.

Perilaku Buruk yang Dibiarkan

Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku buruk menjadi wajar dapat terjadi secara perlahan. Ketika seseorang terus mendengar bahasa kasar, ia bisa kehilangan kepekaan terhadap kesantunan.

Ketika mencontek dianggap sebagai hal biasa, kejujuran perlahan kehilangan tempat. Ketika datang terlambat terus dibiarkan, disiplin akhirnya dianggap tidak penting.

Yang lebih berbahaya bukan hanya munculnya perilaku buruk, tetapi hilangnya rasa bersalah terhadap perilaku tersebut.

Karena itu, seseorang perlu memiliki keberanian untuk bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah sesuatu yang saya lakukan benar-benar baik, atau hanya terasa wajar karena terlalu sering saya lihat?

Dalam perspektif psikologi sosial, manusia memang memiliki kecenderungan menyesuaikan diri dengan kelompok.

Keinginan untuk diterima dapat membuat seseorang mengikuti perilaku lingkungan, meskipun sebenarnya ia mengetahui bahwa perilaku tersebut kurang tepat. Di sinilah diperlukan kesadaran diri dan keberanian untuk berbeda.

Dalam kajian sosiologi juga disebutkan bahwa kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dapat berkembang menjadi norma sosial. Karena itu generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan budaya apa yang ingin mereka wariskan.

Rasulullah Saw memberikan prinsip sederhana namun mendalam: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka jangan bertanya hanya, “Apakah ini sudah biasa?” Tetapi bertanyalah, “Apakah ini benar dan membawa kebaikan?” Sebab sesuatu yang biasa belum tentu benar. Sesuatu yang berbeda belum tentu salah.

Menjadi pribadi berkarakter berarti memiliki keberanian untuk menghentikan normalisasi keburukan, sekaligus membiasakan kebaikan hingga kebaikan itu sendiri menjadi sesuatu yang normal.

Jangan hanya mengikuti zaman. Jadilah bagian dari generasi yang menentukan arah zaman.   []

Penulis : Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply