May 9, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Berkat 100K dapat Tiga, Niat Sri Wigati Kembali ke Hong Kong Sirna

3 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

WONOGIRI – Ada pandangan, kesuksesan seorang pekerja migran diukur dari  bukan berapa besar uang yang bisa dibawa pulang ke kampung halaman, melainkan berapa besar uang yang dihasilkan dari kiriman uang saat masih menjadi pekerja migran. Pandangan tersebut tak sepenuhnya keliru, meskipun konteksnya akan berbeda-beda pada setiap pekerja migran.

Bagi yang berpandangan matang, semakin cepat durasi menjadi PMI, semakin tepat langkah yang direncanakan dan direalisasikan di kampung halaman setelah menjadi purna migran, diyakini menjadi tolak ukur kesuksesan seorang mantan pekerja migran.

Seperti yang dilakoni Sri Wigati (36), ibu 2 anak alumni Negeri Beton tahun 2016 ini. Enam tahun bekerja di Hong Kong, Wigati mampu membawa pulang dan mewujudkan beberapa hasil belanjaan berupa materi yang tampak di kampung halamannya seperti renovasi rumah, pakaian yang dikenakan suami, anak dan keluarga, hingga sebuah kendaraan bermotor roda dua.

Dikampung halaman, sejatinya suami Sri Wigati bukanlah seorang pengangguran tanpa penghasilan. Sebagai seorang satpam di kawasan Sukoharjo, Syamsudin, suami Sri Wigati memiliki gaji dan tunjangan yang dia bawa pulang setiap bulan.

“Sebenarnya nilainya cukup untuk biaya hidup dan menyekolahkan anak kami sampai jenjang SMP nanti dengan gaji suami sekarang” aku Sri Wigati kepada ApakabarOnline.com, Senin (12/04/2021) kemarin.

Namun Sri sadar, gaji suaminya tidak akan mampu mencukupi kebutuhan tempat tinggal untuk dirinya dan anak-anaknya. Sampai kini, mereka masih menumpang di rumah orang tua Sri di kawasan Nambangan, Selogiri, Wonogiri Jawa Tengah. Disamping kebutuhan papan, Sri juga menyadari, kebutuhan akan jaminan kesehatan meskipun dari temnpat kerja suami, mereka sekeluarga memiliki jaminan asuransi kesehatan dan jiwa, namun tentu daya covernya minimal banget.

“Kelas ekonomi” begitu Sri Wigati menyebutnya.

Tak ingin tinggal diam, Sri yang telah beberapa tahun berada di kampung halaman, berniat kembali merajut harap, mendulang dolar ke Negeri Beton pada Februari 2020 silam. Namun harapan dan rencana Sri tidak semulus kenyataan, pandemi Corona yang mendera, membuat Sri harus gigit jari, menjalani hari tanpa kepastoian kapan akan berangkat ke negara penempatan.

Setengah tahun berlalu, setelah pandemi corona di Indonesia kian menampakan besarnya catatan pasien positif terinfeksi dan meninggal dunia, saat kedua anaknya harus melewati proses daring sekolahnya, Sri tiba-tiba merasa berat hati meninggalkan kedua anak dan suaminya.

“Saya sedih, gimana nasib kedua anak saya kalau saya tinggal ke Hong Kong” tutur Sri.

Kondisi tersebut mengantarkan Sri menjalankan sebuah usaha yang awalnya hanya berbasis online saja. Melalui kerjasama dengan teman masa SD yang kini tinggal dan sukses mengais rejeki di Ibu Kota, Sri akhirnya turut meniru jejaknya. Berjualan barang elektronik dengan pangsa pasar ekonomi menengah kebawah seperti mainan, jam tangan, kalkulator, boneka, dan beberapa perangkat rumah tangga elektronik murah lainnya.

Mengawali usaha tersebut, Sri mengaku hanya bermodalkan gadget, kuota internet dan keseriusan saja. Modal kapital nyaris tidak dibutuhkan.

“Akhirnya saya ketemu judul seratus ribu dapat tiga. Bismillah saya mulai berjualan di marketplace pada Agustus 2020 kemarin.” Tutur Sri.

Beberapa bulan berjualan, omset yang dimiliki Sri cukup menjanjikan. Keuntungan yang awalnya hanya beberapa puluh ribu dia dapatkan seminggu, berkembang menjadi beberapa ratus ribu dalam sebulan.

Progres tersebut membuat Sri semakin mantap mengembangkan sayap usahanya. Disamping menjalankan usaha online yang sebelumnya dengan model dropship saja, jika ada pembeli, barang akan dikirim langsung dari teman Sri di Ibu Kota, kini Sri berani menampung stok barang di kampung halamannya.

Memanfaatkan lapak di kawasan Selogiri milik ibunya, Sri merintis usaha berbasis toko offline, dengan tajuk yang sama “setarus ribu dapat tiga”. Di lapak tersebut, Sri hanya membuka gerai pada sore hingga malam hari saja. Sebab pada pagi hari hingga menjelang sore, dia harus memberesi urusan rumah tangga dan mendampingi kedua anaknya belajar daring di rumah.

Sambil meninggalkan rumah berangkat ke toko, Sri biasanya sudah siap dengan barang-barang yang sudah dikemas untuk dikirim kepada pembeli melalui online ke sebuah jasa ekspedisi.

“Sambil nunggu toko, saya tidak berhenti membuka laptop dan HP, sebab disitulah kesempatan saya untuk fokus jualan online sekaligus offline.” ungkapnya.

Saat ini, dalam sebulan Sri bisa mengantongi keuntungan bersih rata-rata sekitar 8 juta rupiah dari 30-an juta omset jualannya. Bahkan, tak hanya berhenti di barang elektronik, Sri juga menampung beberapa dagangan teman-temannya seperti kaos, handycraft dan barang lain yang tetap bisa masuk dalam kategori seratus ribu dapat tiga.

“Alhamdulilah, keuntungan bersihnya sudah menyamai gaji kalau saya bekerja ke Hong Kong. Karena itu, saya membatalkan niat saya ke Hong Kong, sebab ternyata saat sudah ketemu jalan, mencari uang di negeri sendiri nilainya bisa lebih besar dibanding saat bekerja ikut orang di negara penempatan” pungkas Sri. []

Advertisement
Advertisement