Bertubi-Tubi, Derita Suami PMI Asal Bandung Barat Ini

Prime Banner

BANDUNG – Didera kemiskinan dan ujian hidup bertubi-tubi, dirasakan Yayan (53) warga Kampung Cikawung RT 1/10, Desa Cijenuk, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Bagaimana tidak, tinggal di rumah panggung yang nyaris roboh dengan keterbatasan fisik buta dan tuli ia harus menanggung hidup empat anaknya.

Dinukil dari RMOL Jabar, kemiskinan yang berkepanjangan bukan hanya soal ekonomi, sang istri Yayah (43) lebih dari 12 tahun mengalami gangguan mental lantaran ingin memperbaiki keadaan menjadi pekerja migran Indonesia (PMI).

Dilaporkan RMOL Jabar,  di rumah yang nyaris ambruk berbahan bilik bambu dan beralas papan, Rabu (03/04/2019), Yayan tengah merebahkan tubuhnya didalam kamar pengap beralas karpet menjalani puasa rajab ditemani anak bungsunya, Muhammad Farhan (12).

Ia berkisah, hidup miskin dan ujian hidup bertubi-tubi dirasakannya. Sejak lahir kondisi kedua matanya rabun dan baru satu tahun terakhir matanya tak bisa melihat sama sekali. Belum selesai kebutaan, telinga Yayan juga kini tuli, padahal ia harus menghidupi empat orang anaknya yang mulai beranjak dewasa.

Bukan hanya fisik, ujian lain juga mendera Yayan, Istrinya sudah 12 tahun mengalami gangguan mental. Penyebabnya, saat itu istrinya ingin menjadi PMI ke Arab Saudi berniat membantu ekonomi keluarga, namun tak direstui ayahnya.

“Saya mengizinkan, tetapi mertua nggak mau. Akhirnya seperti itu, berobat kemana-mana juga sudah,”katanya.

Sebelum buta dan tuli, Yayan mengaku masih bisa menafkahi keluarganya dari hasil buruh tani dan bekerja di pabrik kayu. Namun kini, ia hanya bisa pasrah pada keadaan dan memaksa dirinya berpangku tangan pada pemberian saudara maupun tetangga.

“Anak saya Syahrul Gunawan (20), Falahudin (18), dan Fujiyama (15) tinggal di pondok pesantren, kalau yang bungsu sekolah disini,”tuturnya.

Kondisi memprihatinkan juga terlihat dari rumah yang ditempatinya lebih dari 20 tahun, rumah panggung berdinding bilik bambu jauh dari rumah sehat. Rumah ini tak memiliki MCK, atapnya juga nyaris roboh dengan kondisi langit-langit di ganjal bambu.

Jangankan kebutuhan memperbaiki rumah, untuk makan Yayan harus merayap didapur kumuh dengan tungku api. Sesekali saudaranya memberi makan jika tidak puasa ia jalani dengan ikhlas.

Rumah Yayan diisi tiga ruangan, yakni dua kamar tidur tanpa penerangan, ruang tengah dan dapur.  Tidak ada kasur empuk, lemari pakaian maupun kulkas, satu-satunya barang mewah yang dimilikinya hanya pesawat televisi 14 inch tetap bertahan sekedar memberi hiburan untuk anaknya.

Menurut Yayan, selama ini dirinya tak mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah. Sebelumnya, setahun lalu kata Yayan ada dari Desa yang menyebut akan ada perbaikan rumahnya tersebut. Tetapi, hingga saat ini tak kunjung terealisasi.

“Belum, belum ada bantuan dari pemerintah mah. PKH saja belum cair. Saya pun sudah tak miliki penghasilan karena kondisi mata sudah buram dan mendengarpun terbatas,”ungkap Yayan.

Saat ditanya, harapan Yayan di sisa usianya berharap keempat anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Menurutnya, hanya anak sholeh yang menjadi harapannya selamat di akherat kelak.

“Harapannya anak sholeh, jangan kebawa sama pergaulan negatif. Itu mungkin jalan saya mendapat kehidupan lebih baik di akhirat,” ujarnya.[]

You may also like...