November 6, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Betapa Besarnya Dosa Orang yang Merendahkan Harkat dan Martabat Perempuan

4 min read

JAKARTA – Perbincangan mengenai kehormatan perempuan kembali menjadi perhatian publik setelah beredarnya potongan video ceramah seorang pendakwah yang diduga disampaikan oleh Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf. Dalam video tersebut, terdapat sejumlah candaan mengenai tarif ceramah, permintaan agar santriwati keluar untuk dipilih menjadi istri keempat, hingga perkataan yang dinilai merendahkan jemaah perempuan lanjut usia.

Potongan ceramah itu menuai kritik karena dianggap tidak pantas disampaikan dalam ruang dakwah. Bahkan, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M. Cholil Nafis, mengkritik materi tersebut karena dinilai dapat merusak citra dakwah dan mengimbau umat Islam untuk tidak lagi mengundang atau mengikuti majelis dengan model penyampaian seperti itu.

Terlepas dari polemik yang berkembang, persoalan ini mengingatkan kita pada satu prinsip mendasar dalam Islam: perempuan memiliki kehormatan dan martabat yang wajib dijaga. Merendahkan perempuan bukan sekadar persoalan etika berbicara, melainkan dapat menjadi tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah SAW.

Islam Memuliakan Perempuan sebagai Manusia yang Bermartabat
Al-Qur’an menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan berasal dari asal penciptaan yang sama. Allah SWT berfirman dalam QS. an-Nisa ayat 1:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا

Artinya: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan pasangannya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki asal kemanusiaan yang sama. Tidak ada alasan untuk menganggap perempuan sebagai manusia yang lebih rendah atau menjadikannya objek penghinaan.

Bahkan, ukuran kemuliaan seseorang dalam Islam bukanlah jenis kelamin, kekayaan, keturunan, ataupun kedudukan sosial, melainkan ketakwaannya. Allah SWT menegaskan dalam QS. al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa.

Dengan demikian, perempuan tidak boleh dinilai berdasarkan penampilan fisik, usia, status perkawinan, ataupun hal-hal yang menjadikannya sasaran candaan yang merendahkan.

Larangan Mengolok-olok dan Merendahkan Perempuan
Islam secara tegas melarang tindakan menghina, mengejek, dan mempermalukan orang lain. Larangan tersebut dijelaskan dalam QS. al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok.”

Ayat ini secara eksplisit menyebut larangan perempuan merendahkan perempuan lain. Pesan utamanya juga berlaku dalam hubungan antarmanusia secara luas: tidak seorang pun berhak menjadikan kekurangan, kondisi fisik, usia, atau keadaan orang lain sebagai bahan penghinaan.

Karena itu, candaan yang mempermalukan jemaah perempuan, termasuk mereka yang telah lanjut usia, perlu dinilai secara serius. Humor tidak dapat dijadikan pembenaran apabila isinya melukai kehormatan dan harga diri seseorang.

Rasulullah Mengajarkan Kelembutan dalam Memperlakukan Perempuan
Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa kemuliaan akhlak seseorang juga terlihat dari caranya memperlakukan perempuan. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”

Hadis tersebut mengajarkan bahwa kualitas keimanan dan akhlak tidak cukup diukur dari penampilan religius atau kemampuan menyampaikan ceramah. Cara seseorang memperlakukan perempuan, terutama dalam lingkungan keluarga dan kehidupan sosial, juga menjadi cerminan akhlaknya.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga mengingatkan agar umat Islam memperlakukan perempuan dengan baik. Pesan ini memperlihatkan bahwa penghormatan terhadap perempuan merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.

Dakwah Bukan Ruang untuk Mempermalukan Orang Lain
Seorang pendakwah memiliki tanggung jawab menyampaikan ajaran agama dengan hikmah, nasihat yang baik, dan cara komunikasi yang tidak menyakiti. Allah SWT berfirman dalam QS. an-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”

Ayat tersebut menjadi pedoman penting dalam aktivitas dakwah. Pesan agama semestinya disampaikan dengan kebijaksanaan, bukan melalui ucapan yang mempermalukan atau merendahkan kelompok tertentu.

Humor dalam ceramah tentu bukan sesuatu yang dilarang. Namun, seorang pendakwah perlu memahami batas etika dan dampak perkataannya. Apalagi, ucapan yang disampaikan di hadapan jemaah dapat direkam, disebarkan, dan memengaruhi cara masyarakat memandang kelompok tertentu.

Menjaga Martabat Perempuan adalah Bagian dari Akhlak Islam
Merendahkan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Tindakan tersebut juga dapat muncul melalui candaan seksual yang tidak pantas, penghinaan terhadap usia dan penampilan, pelecehan verbal, serta ucapan yang menjadikan perempuan sebagai objek.

Oleh karena itu, polemik ceramah yang beredar di media sosial seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi etika komunikasi keagamaan. Kritik terhadap seorang pendakwah perlu disampaikan berdasarkan bukti dan secara proporsional, tetapi prinsip penghormatan terhadap martabat perempuan tidak boleh ditawar.

Pada akhirnya, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa keras ia berbicara tentang agama, seberapa besar jumlah jemaahnya, atau seberapa terkenal namanya. Kemuliaan justru tercermin dari ketakwaan, kelembutan, dan kemampuannya menjaga kehormatan sesama manusia.

Sebab, bagaimana mungkin seseorang mengajak orang lain menuju akhlak mulia apabila perkataannya sendiri justru melukai martabat manusia? Dakwah semestinya menghadirkan ketenangan, penghormatan, dan pencerahan, bukan menjadikan perempuan sebagai sasaran penghinaan. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply