Bukan Asal Mengucapkan Kata Maaf, Begini Adab Meminta Maaf yang Diajarkan Islam
3 min read
JAKARTA – Meminta maaf adalah langkah awal untuk merajut kembali hubungan yang renggang akibat sebuah kesalahan.
Kendati demikian, dalam ajaran Islam, proses ini menuntut lebih dari sekadar lisan, ia harus dibarengi dengan kesungguhan tulus untuk memperbaiki dan menebus kekeliruan tersebut.
Menurut ajaran Islam, kesalahan terhadap orang lain tidak hanya melibatkan dosa kepada Sang Pencipta, tetapi juga menyangkut hak sesama manusia yang wajib diselesaikan.
Maka dari itu, meminta maaf yang benar mencakup pengakuan kesalahan, rasa penyesalan, ikhtiar memperbaiki keadaan, serta tekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut, dilansir dari kompas.com, Jumat (2/10/2026).
Islam Mengajarkan Meminta Maaf atas Kesalahan
Al-Qur’an menggambarkan orang-orang bertakwa sebagai sosok yang mampu menahan amarah dan pemaaf, seperti yang ditegaskan Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134:
Artinya: “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134).
Ayat ini mengajarkan keutamaan memaafkan, sekaligus mengingatkan bahwa orang yang bersalah wajib bertanggung jawab memulihkan hubungan, bukan sekadar berharap kesalahannya dilupakan.
Meminta Maaf Harus Disertai Penyesalan
Permintaan maaf yang benar berakar dari pengakuan kesalahan yang tulus, tanpa perlu mencari-cari pembenaran atau menyalahkan orang lain.
Seseorang yang meminta maaf wajib menyesali perbuatannya, berjanji tidak mengulangi, dan mengembalikan hak sesama, dilansir dari NU Online, Jumat (2/10/2026).
Terutama jika menyangkut kerugian materi, hak tersebut harus dikembalikan langsung kepada pemilik sahnya.
Dengan demikian, maaf yang tulus selalu tercermin dari perubahan perilaku. Mengulangi kesalahan yang sama setelah meminta maaf menunjukkan bahwa perbaikan nyata belum sepenuhnya ditegakkan.
Jika Mengambil Hak Orang Lain, Kembalikan
Rasulullah SAW sangat serius memandang pelanggaran yang menyangkut hak sesama manusia. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau bersabda:
Artinya: “Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta kehalalan darinya sebelum datang suatu hari ketika tidak ada dinar maupun dirham…” (HR Bukhari, hadis 6534).
Hadis ini menekankan pentingnya menyelesaikan kesalahan antarsesama semasa hidup, dan membuktikan bahwa permintaan maaf tidak cukup hanya dengan kata-kata saat ada hak orang lain yang dirugikan.
Meminta Maaf Bukan Sekadar Formalitas
Kerap kali permintaan maaf hanya dijadikan formalitas instan untuk meredakan situasi, padahal memperbaiki hubungan yang terluka mutlak memerlukan ketulusan dan perubahan sikap yang nyata.
Menurut pandangan Muhammadiyah, pemaafan menuntut perubahan sikap serta keikhlasan melepas dendam, sehingga seseorang yang meminta maaf tidak boleh memaksakan orang yang disakiti untuk langsung melupakan kesalahan tersebut.
Memaafkan adalah hak penuh orang yang disakiti, sedangkan memperbaiki kesalahan adalah tanggung jawab mutlak pihak yang melanggar.
Perbaiki Kesalahan Setelah Meminta Maaf
Wujud nyata permintaan maaf harus disesuaikan dengan jenis kesalahan yang diperbuat. Pelanggaran lisan harus ditebus dengan menjaga perkataan, sementara kesalahan yang berkaitan dengan materi menuntut pengembalian hak atau penyelesaian kerugian secara adil.
Penegasan serupa disampaikan oleh Kementerian Agama bahwa kesalahan yang menyangkut hak sesama manusia tidak gugur hanya dengan memohon ampun kepada Allah (istighfar).
Pelunasan hak yang terabaikan serta permohonan keikhlasan langsung dari pihak yang dirugikan menjadi syarat yang mutlak.
Dengan demikian, memohon maaf berfungsi sebagai jembatan awal untuk memulihkan hubungan. Namun, kesungguhan yang sesungguhnya baru akan terlihat dari bagaimana seseorang bersikap dan bertindak setelah kata maaf itu disampaikan.
Jangan Menunda Meminta Maaf
Islam menganjurkan agar penyelesaian kesalahan terhadap sesama tidak ditunda-tunda. Sesuai peringatan Rasulullah SAW, kesempatan hidup di dunia hendaknya dimanfaatkan untuk menuntaskan hak-hak orang lain.
Permintaan maaf yang tulus mencakup pengakuan, tekad tidak mengulangi, dan pemulihan dampak kesalahan. Lewat cara ini, kata “maaf” mewujud sebagai aksi nyata untuk memperbaiki diri dan memulihkan hubungan dengan sesama. []
