October 4, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Takdir, Tapi Sering Kita Anggap Kurang

2 min read

JAKARTA – Tak ada yang lebih melelahkan daripada berlari di lintasan sendiri sambil terus menoleh ke lintasan orang lain.

Ungkapan itu menggambarkan orang yang suka melihat kesuksesan orang lain dan mengabaikan usahanya sendiri.

Takdir itu fakta. Ia sudah hadir dan duduk tepat di depan kita. Tapi lihat bagaimana kita memperlakukannya, seperti tamu yang salah alamat. “Kok begini? Kok cuma segini?”

Kita menyebutnya kurang, bahkan mengecewakan. Padahal yang salah bukan takdirnya, melainkan penggaris yang kita pakai.

Kita mengukur hari pertama kita dengan hari keseribu orang lain. Kita menatap rumah yang sudah berdiri megah, dan lupa pada tahun-tahun ketika pemiliknya berdarah-darah meletakkan batu pertama.

Orang yang hari ini tampak melenggang di lintasannya itu sedang berjalan di atas hasil perjuangannya sendiri. Di atas jalan yang dulu ia hamparkan dengan keringat, dan bisa jadi dengan air mata dan darah.

Sementara kita baru mulai melangkah di lintasan, lalu kesal karena belum sampai. Lantas iri melihat keberhasilan orang lain.

Itu seperti menuntut pohon yang baru ditanam untuk berbuah minggu depan.

Allah sudah mengingatkan:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kamu. (QS. Al-Baqarah: 216)

PilihanNya sering terasa kurang bukan karena Dia keliru, tetapi karena mata kita terlalu dekat dengan hari ini.

Kita sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, sampai lupa menghitung napas yang masih dipinjamkan.

Kesempatan itu rezeki. Kesehatan itu rezeki. Bisa berjalan, bisa berbuat, bisa memulai, semuanya karunia yang tidak pernah kita bayar.

Maka berhentilah menoleh. Nikmati perjalanan ini, dan isi dengan sesuatu yang berguna. Bagikan manfaat lewat aksi kecil yang nyata, solusi untuk sesama anak negeri. Tidak perlu menunggu besar. Tidak perlu menunggu sempurna.

Lalu jaga tiga hal: istikamah, konsisten, dan berkomitmen sampai ajal menjemput.

Karena di ujung jalan ini yang ditanya bukan seberapa cepat kita berlari, melainkan seberapa bermanfaat kita melangkah.

Jalani. Syukuri. Bermanfaatlah. Sisanya, serahkan kepada Yang Menulis Akhirnya.

Semoga husnul khatimah. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply