February 25, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Chalief Akbar; Konjen Pertama Temui Pendemo

10 min read

HONG KONG – Minggu, 12 Januari 2014. Tidak ada yang menyangka, Konsul Jenderal Chalief Akbar turun ke jalan depan Indonesia Building di Causeway Bay, kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, menemui pekerja migran Indonesia (PMI) yang berdemo.

Saat itu, Chalief Akbar baru menjabat sekitar setengah tahun sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong. Di saat bersamaan, Negeri Beton sedang gempar kasus penganiayaan yang dialami Erwiana Sulistyaningsih.

Pujian pun berdatangan. Saat foto Konjen Chalief di tengah-tengah pendemo beredar di media sosial Facebook, ribuan komentar terlontar.

Konjen Chalief menemui pendemo yang menuntut keadilan bagi Erwiana Sulistyaningsih

“Apresiasi terbesar dari kami, UB (Komunitas Under Bridge) kepada Konjen baru,Pak Chalif. Kami salut untuk Anda!Mari bersama membenahi yang telah terkoyak selama ini,” demikian tulis PMI dengan akun Mas Busstomi.

Komentar senada ditulis akun Sriatun Dwi Kayau. “Akhirnya, ketemu juga pimpinan yang bernyali,” ujarnya.

Saat itu, pujian juga datang dari internal. Dua hari kemudian, Yolvis Sahardi, salah satu staf KJRI Hong Kong bahkan menuliskan catatan (note) di wall akun Facebooknya.

“Hari Minggu kemarin saya melihat sendiri Bapak Konsul Jenderal, Kepala Perwakilan RI di Hong Kong dan Beliau juga mantan Direktur Protokol di Kemlu (Kementerian Luar Negeri) telah melakukan perubahan itu. Orang yang seharusnya sangat mengerti dengan SOP (standard operasional) dan ketentuan berlaku, bisa berbuat sesuatu yang dulu oleh stafnya sendiri dikatakan sebagai hal yang tabu. Bapak Konjen telah keluar dari kantornya dan menunggui para demonstran yang juga warganya sendiri itu untuk kemudian menerima mereka, mendengarkan aspirasi mereka, dan berdialog dengan mereka. Beliau telah melakukan perubahan itu sendiri. Hormat saya untuk beliau sedalam-dalamnya,” demikian petikan catatan yang ditulis Yolvis.

Inisiasi Konjen Chalief menemui pendemo, memang cukup mengejutkan, sekaligus memberikan harapan dan angin segar terjadinya perubahan besar menuju perbaikan pelayanan di KJRI Hong Kong, sebagaimana dituntut PMI pegiat advokasi. Sebab, selama ini pendemo hanya bisa menitipkan petisi yang disampaikan saat demonstrasi lewat staf sekuriti yang bertugas saja.

Saat diwawancarai secara khusus oleh Apakabar Plus di ruang kerjanya pada Rabu (17/7), Konjen Chalief menjelaskan apa yang ia pikirkan saat memutuskan untuk menjadi Konjen pertama di Negeri Beton yang menemui warganya yang berdemo pada 2,5 tahun silam. “Saya menawarkan dialog, membuka pintu selebar mungkin. Kita duduk bersama-sama kan jauh lebih enak, tanpa harus kepanasan dan kehujanan. Kenapa kita tak duduk bersama, kalau memang tujuan kita sama, yaitu meningkatkan pelayanan dan perlindungan,” ujarnya.

Andalkan Dialog

Konjen Chalief mengaku menjadikan dialog sebagai andalan dalam memimpin KJRI Hong Kong dan menyelesaikan segala persoalan yang ada. Terutama, karena posisi Hong Kong yang dia nilai unik, berada diantara 2 aturan hukum. Yakni, hukum Indonesia dan Hong Kong.

Untuk itu, ruang dialog juga dilakukan KJRI dengan berbagai pihak di pemerintahan Hong Kong, dengan membangun working group. “Sejak 2013, kami punya working group, pertemuan tetap antara KJRI dengan Labour Department, Kepolisian, dan Imigrasi Hong Kong. Kami bicarakan mengenai kasus-kasus yang menimpa tenaga kerja Indonesia di Hong Kong,” kata Chalief. Pertemuan-pertemuan yang diadakan dalam working group itu pun dijadikan sarana untuk menyalurkan segala aspirasi dan masukan yang disampaikan PMI ke KJRI, agar Pemerintah Hong Kong membuat kebijakan dan mengambil tindakan yang dituntut PMI.

“Misalnya, ada agensi yang tidak bertanggung jawab, melakukan overcharging. Kita cabutakreditasinya, mereka masih bisa melakukan rekrutmen melalui agensi lain. Tapi kalau kita sampaikan ke Pemerintah Hong Kong, Labour Department, lisensinya bisa dicabut,” ujarnya.

Dialog juga yang diandalkan Konjen Chalief ketika di awal kepemimpinannya ada desakan dari kalangan PMI untuk mencabut online system yang dituding sebagai “penjara agensi” bagi PMI di Hong Kong. Melalui dialog dijelaskan bahwa KJRI tidak mengenal online system. Yang ada, tegasnya, database.

“Kan jadi tidak nyambung. Kalau yang dimaksud online system adalah database, kita tak mungkin menghapus database. Kalau ada kasus yang menimpa warga kita, kan kita mengacunya kepada database kita. Kalau ada kasus, kita mudah melacaknya.Maka kita rutin ada dialog menjelaskan hal itu,” kata Chalief.

Selain dialog rutin, Konjen Chalief juga mengaku cukup membuka diri untuk menerima masukan dari berbagai pihak, terutama PMI. “Setiap saat, teman-teman bisa WhatsApp dan telepon saya untuk membahas berbagai hal. Bahkan, juga untuk ketemu dengan saya setiap saat, selagi saya bisa,” ujarnya.

“Yang penting kan komunikasi,” ujar Chalief.

Lalu, seberapa efektif dialog intensif yang telah dilakukan dapat mengurai segala persoalan yang dihadapi KJRI dalam menjalankan tugas-tugas pelayanan dan perlindungan untuk warga Indonesia? “Saya tak akan mengukur hasilnya. Yang penting, jalur komunikasi sudah terbuka. Kalau ada masalah, teman-teman begitu mudahnya mengontak kami: saya, pak Rafail, pak Andry (Konsul Imigrasi Andry Indrady),” ujarnya.

Punya 2 Anak di Hong Kong

Selain menjadi konsul jenderal pertama Negeri Beton yang menemui pendemo, ada beberapa hal yang terjadi di masa 3 tahun kepemimpinan Chalief Akbar di hong Kong dan belum pernah terjadi di era-era sebelumnya. Pertama, dibukanya Kantor Ekonomi dan Dagang Hong Kong (Hong Kong ETO) di Jakarta.

“Padahal kita, KJRI, sudah ada di Hong Kong sejak tahun 1951,” kata Chalief.

Ia menegaskan, pembukaan Hong Kong ETO di Jakarta merefleksikan hubungan baik antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (China). “Saat ini Hong Kong sudah mengirimkan 2 pejabatnya untuk ditugaskan di Jakarta, mulai 13 Juni 2016, dengan status kantornya kantor sementara selama 6 bulan. Dalam waktu 6 bulan, tugas pejabat itu menyiapkan kantor permanennya. Saya dengar, Pemerintah Hong Kongsudah menunjuk seorang pejabatnya untuk ditempatkan sebagai Kepala Kantor Hong Kong ETO di Jakarta,” ujarnya.

“Dalam konteks hubungan bilateral, saya sering bilang sambil bercanda, di Hong Kong saya punya 2 anak. Pertama, HKTDC (Hong Kong Trade Develompment Council), buka kantorpada Februari 2014. Anak kedua saya adalah Hong Kong ETO, baru dibuka tahun 2016,” seloroh Chalief.

Meskipun kantor tersebut lebih berorientasi kepada urusan investasi dan dagang, namun sangat besar kemungkinannya juga berdampak positif bagi urusan lain seperti ketenagakerjaan. Sebab, dalam pertemuan antara Presiden Jokowi dan Chief Executive Hong Kong CY Leung, ada 4 agenda yang dibicarakan. Yaitu, mengenai ketenagakerjaan, peningkatan investasi Hong Kong di Indonesia, kerjasama pendidikan, dan pariwisata.

Sebagai contoh, Indonesia menjadi negara pertama yang memanfaatkan kerja sama dalam skema One Wealth One RoadHong Kong untuk bidang pendidikan. Skema ini meliputi 62 negara di kawasan.

Pada 16 Desember 2015, ditandatangani kesepakatan kerjasama (MoU) bidang pendidikan antara Pemerintah Indonesia dan Hong Kong yang ditindaklanjuti dengan pemberian beasiswa oleh Pemerintah Hong Kong bagi pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan di univeristas Hong Kong.

“Tahun ini, kami harapkan ada 10 pelajar Indonesia yang akan mendapatkan beasiswa One Belt One Roadini,” kata Chalief.

Kedua, Konjen Chalief mengaku menjadikan peningkatan pelayanan dan perlindungan kepada warga Indonesia di Hong Kong dan Makau sebagai prioritas. Caranya, dengan membangun komunikasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan di Hong Kong.

“Maka saya di sini sebisa mungkin merangkul banyak teman Indonesia di Hong Kong. Sebab kami menyadari, memiliki keterbatasan untuk menjangkau teman-teman kita, warga negara kita di Hong Kong dan Makau. Namun kami juga sudah bekerja maksimal, dengan tetap memberikan pelayanan di hari Sabtu danMinggu. Itu semata-mata untuk meningkatkan pelayanan dan perlindungan,” ujarnya.

Untuk peningkatan pelayanan dan perlindungan pula, KJRI 2 kali membuka pendaftaran akreditasi baru bagi agensi, agar bisa memutus praktek subagensi yang menempatkan PMI dalam posisi rentan jika mengalami masalah. Jika sebelumnya hanya ada 236 agensi terakreditasi, di era Konjen Chalief membengkak menjadi lebih dari 350 agensi.

“Mudah-mudahan bisa mengurangi terjadinya penanganan permasalahan yang lambat dan kurang tepat sasaran,” kata Chalief.

Di era kepemimpinan Konjen Chalief juga, kegiatan Welcoming Program setiap Selasa dan Jumat dihadiri hingga 150 PMI yang baru tiba di Hong Kong. Sebelumnya, Welcoming Program hanya dihadiri puluhan orang saja. Exit Program, kini dilakukan 2 kali setahun, dari yang sebelumnya hanya sekali.

Ketiga, memperkuat hubungan kerjasama Indonesia dengan berbagai institusi di pemerintahan Hong Kong. Hal itu dibuktikan dengan ditandatanganinya berbagai kesepakatan kerjasama.

Selain MoU bidang pendidikan, pada November 2014 jugaditandatangani MoU antara Kepolisian Hong Kong dengan Kepolisian Indonesia. Pada 8 Mei 2016 ditandatangani MoU bidang investasi antara Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Invest Hong Kong.

“Selama saya di sini, Chief Executive Hong Kong sudah 2 kali ke Indonesia. Pada Oktober 2013 dan September 2015,” kata Chalief.

Hubungan baik tersebut, ungkap dia,berdampak positif. “Setiap ada masalah, akan lebih mudah penyelesaiannya apabila kita sudah mempunyai akses dan platform yang cukup solid,” ujarnya.

Keempat, untuk pertama kali Menteri Luar Negeri datang ke Hong Kong, mengurus masalah PMI. Hal itu dilakukan Menlu Retno Marsudi bersama Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly, membicarakan kisruh pembetulan data paspor dengan Pemerintah Hong Kong.

Retno Marsudi, Menlu RI pertama yang mengunjungi Hong Kong untuk mengurusi masalah PMI

“Saya juga baru tahu, dalam kurun 13 tahun ternyata baru sekali ini Menteri Luar Negeri Indonesia berkunjung ke Hong Kong,” kata Retno, saat jumpa pers, beberapa waktu lalu.

Konjen Chalief menjelaskan, kehadiran Menlu Retno sebagai penegasan bahwa Pemerintah Indonesia hadir, memberikan perhatian atas masalah ketenagakerjaan yang ada di Hong Kong.

sorot 5

Kelima, diaktifkannya Perpustakaan KJRI untuk PMI. “Kami mintakan sumbangan dan donasi dari berbagai pihak untuk mendukungnya,” ujar Chalief.

Namun ia menyadari, KJRI di bawah kepemimpinannya tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak 100 persen. Sebab, masih banyak hal yang dianggap kurang dan perlu diperbaiki. Di bidang keimigrasian, misalnya, Konjen Chalief berharap segera ditandatangani MoU antara Imigrasi Hong Kong dan Indonesia.

Pertimbangannya, dalam sehari ada 15 penerbangan yang menghubungkan Indonesia dan Hong Kong, baik yang masuk maupun keluar lewat Surabaya, Jakarta, dan Bali. Indonesia-Hong Kong juga sudah menikmati  fasilitas bebas visa sejak 1998. Indonesia juga memiliki jumlah warga yang cukup besar di Hong Kong.

“Tak ada alasan bagi kedua negara untuk tidak melakukan kerjasama di bidang imigrasi. Sekarang kami sudah sepakat antara dua pihak untukmembuat draft MoU kerjasama,” kata pria beranak 3 ini.

Salut untuk PMI Hong Kong dan Makau!

Setidaknya, Konjen Chalief sudah ditugaskan ke 5 negara sepanjang karirnya. Namun dia memiliki kesan khusus saat bertugas di Hong Kong.

“Tentu saja (Hong Kong) beda, karena ini tugas pertama saya di kantor perwakilan yang menangani pelayanan warga Indonesia,” ujarnya.

Bertugas di Negeri Beton, para pejabat yang dikirim Kementerian Luar Negeri dituntut harus lebih siaga karena bersinggungan langsung dengan warga Indonesia. “Tuntutannya, harus standbye 24 jam sehari, 7 hariseminggu. Kalau ada kasus, meskipun tengah malam, kita harus selalu siap. Teman-teman (PMI) kalau kontak saya kan anytime:Sabtu, Minggu, jam berapa saja,” kata Chalief.

Ia juga mempunyai kesan positif untuk PMI Hong Kong dan Makau. “Salut!” ujarnya.

Ia mengaku takjub melihat semangat PMI Hong Kong dan Makau yang masih menyempatkan diri untuk meneruskan pendidikan, meskipun memiliki waktu luang yang sangat minim. Ia mencatat, setidaknya ada 300 PMI yang terdaftar di Universitas Terbuka (UT). Jumlah yangsama juga tercatat di program pendidikan Kejar Paket B dan Kejar Paket C setingkat SMP dan SMA.

“Itu salah satu yang bikin saya salut terhadap teman-teman (PMI),” kata Chalief.

Maaf dan Terima Kasih

Konjen Chalief ngedeprok bareng PMI saat halal bihalal di gedung BNI Hong Kong

Pada hari Minggu, 10 Juli 2016, Konjen Chalief terlihat duduk ngedeprok di lantai aula galeri BNI Hong Kong di Admiralty. Di lantai yang sama, ngedeprok pula para pejabat BNI dan puluhan PMI perwakilan berbagai organisasi yang tergabung dalam kelompok Lingkaran Aku Cinta Indonesia (LACI). Saat itu, BNI dan LACI menggelar acara halal bihalal bareng.

Di suasana yang penuh keakraban tersebut, Konjen Chalief berpamitan, karena akan mengakhiri masa jabatannya di Negeri Beton yang ia emban sejak akhir Juni 2013. “Tanggal 31 Juli nanti saya insyaallahakan mengakhiri tugas di Hong Kong. Tanggal 17 saya akan kembali ke Indonesia bersama keluarga untuk menjalankan amanah yang akan diberikan kepada saya di tempat yang baru di Jakarta nanti,” ujarnya.

Pada kesempatan itu Konjen Chalief menyampaikan ucapan terima kasih kepada komunitas PMI Hong Kong karena telah membantu KJRI. Ia mengakui, institusi yang dipimpinnya itu memiliki keterbatasan untuk melayani dan melindungi sekitar 160 ribu warga Indonesia di Hong Kong dan sekitar 7 ribu orang di Makau.

“Saya dan Pak Rafail (Konsul Konsuler Rafail Walangitan) dan KJRI hanya memiliki 20 pejabat yang dikirim dari Indonesia dan didukung sekitar 40 staf lokal. Tapi, kami harus memberikan pelayanan dan perlindungan kepada sekitar 170 ribu warga Indonesia yang ada di Hong Kong dan di Makau,” kata Chalief.

Tak lupa, ia juga minta dimaafkan jika dalam kurun waktu 3 tahun bertugas pernah melakukan kesalahan. “Selama 3 tahun saya yakin terdapat hal-hal yang mungkin kurang berkenan di Mbak-mbak semua, karena saya kadang-kadang ceplas-ceplos. Nah, untuk itu mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya,” ujarnya.

Secara khusus ia menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada PMI yang aktif di berbagai organisasi, karena mereka telah berkontribusi besar memberikan banyak informasi mengenai kasus-kasus yang menimpa PMI bermasalah di Hong Kong. “Sehingga kita bisa bersama-sama menyelesaikannya,” kata Chalief.

Terima kasih juga disampaikannya kepada PMI yang aktif di berbagai organisasi yang selama ini membantu KJRI dalam bidang kegiatan kemasyaratakan dan keagamaan. “Tanpa bantuan Teman-teman, kami sulit melaksanakannya,” ujarnya.

 

TUGAS CHALIEF AKBAR DI LUAR NEGERI:

Hong Kong: 3 tahun. Bidang urusan pelayanan warga.

Washington DC: 2,5 tahun.Bidang urusan penerangan, sosial budaya.

Singapura: 2,5 tahun. Bidang urusan penerangan, social budaya, dan pembinaan warga.

Timor Leste: 3 tahun. Bidang urusan politik.

Pakistan: 4,5 tahun. Bidang urusan politik.

 

KATA MEREKA:

Ryan Aryanti, Kooordinator Aliansi Migran Progresif (AMP)

FB_IMG_1468876869165

Saya, Ryan Aryanti, Koordinator AMP, secara jujur dan terbuka mengakui bahwa kami sering demo untuk menyampaikan berbagai tuntutan kepada Pemerintah Indonesia melalui KJRI Hong Kong,tidak peduli siapapun yang menjabat sebagai Konjen RI di Hong Kong. Bahkan sebelum AMP terbentuk, demo ke KJRI sudah sering kami lakukan. Dan dari sekian kali adanya pergantian Konjen RI untuk Hong Kong, Bapak Chalief memang lebih dekat ke BMI (buruh migran Indonesia) dari Konjen sebelumnya. Bahkan mungkin, baru bapak Chalief lah yang mau turun dan menerima statemen langsung dari organisasi BMI yang melakukan aksi demo di depan KJRI,seperti yang diungkapkan langsung oleh bapak Chalief sendiri bahwa KJRI adalah rumah kedua bagi BMI. Semoga, pengganti Bapak Chalief nanti bisa lebih bagus dan lebih bisa mendekat tanpa sekat pada komunitas buruh migran untuk lebih banyak mendengar, melihat, dan membantu dengan maksimal segala permasalahan buruh migran Indonesia di Hong Kong. Bukan mengganggap bahwa BMI hanya sebagai pendulang devisa, tetapi sebagai pekerja dan rakyat Indonesia yang memang harus dilindungi, bagaimanapun kondisi dan permasalahannya.

Kace Utami, Mantan Ketua Golpindo

FB_IMG_1468876137593

Pak Chalief sosok yang sangat ramah. Beliau sering bertatap muka dengan TKI (tenaga kerja Indonesia), terutama organisasi/klub, dan selalu ingin mendengarkan keluhan atau masalah yang dihadapi para TKI. Tak jarang beliau hadir dalam undangan dan acara yang kami adakan di luar gedung, tak peduli hujan atau panas. Yan saya ingat, saat Golpindo mengadakan acara halal bihalal di markas di belakang Perpustakaan Hong Kong pada tahun 2014, Beliau hadir bersama Pak rafail dengan keringat yang bercucuran. Beliau berdua memberikan ceramah ramah tamah dan pesan-pesan buat kami untuk selalu berhati-hati di Negara orang dan harus taat hokum di hong Kong. Saya lihat, bukan hanya di golpindo. Bahkan ke organisasi/perkumpulan lainnya pun sering berfoto bersama dengan teman-teman yang kemudian diposting di facebook. Yang saya salut, Beliau selalu berusaha membenahi masalah-masalah yang dialami warga Indonesia di Hong Kong. [Razak/Hanna]

Advertisement
Advertisement