February 22, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Dahsyatnya Kekuatan Bacaan Hasbunallah

4 min read

JAKARTA – Perjalanan hidup manusia tak akan pernah serba lurus dan mudah. Pasti ada kelokan, rintangan, naik-turun, dan yang serupa itu. Misalnya, pada zaman Nabi Muhammad Saw. Dalam Perang Badar umat Islam menang, sementara dalam Perang Uhud kalah.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menulis bahwa kekalahan adalah hal yang wajar dalam perjuangan jangka panjang. Dalam perjuangan, kemenangan sejati ialah yang terjadi pada babak terakhir. Masih kata Hamka, bagi kaum Quraisy, kemenangan di Uhud justru merupakan permulaan keruntuhan.

Meskipun tampak menang, tidak sepenuhnya demikian. Peristiwa Uhud tidak dapat menebus kekalahan mereka di Badar (peristiwa Badar yang kisahnya dapat diikuti di bawah ini). Intinya, tulis Hamka, kemenangan membutuhkan kesabaran, keteguhan hati, dan sikap tidak merasa pernah kalah (2003: 946).

Tak Gentar

Sejumlah ayat menjelaskan peristiwa penting setelah Perang Uhud. Tiga ayat berikut, yaitu Ali Imran  172–174, memberikan gambaran bahwa Allah “tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”. Siapakah mereka?

“(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar” (ayat 172).

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia (orang Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’” (ayat 173).

“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (ayat 174).

Mari ikuti uraian Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Saat Abu Sufyan akan meninggalkan medan Perang Uhud, dia berkata kepada Rasulullah Saw bahwa dia akan datang lagi ke Padang Badar pada tahun depan. Ancaman angkuh ini disambut Rasulullah Saw, “Kita akan bertemu di sana tahun depan, insya Allah.”

Setelah itu, sesuai tantangannya sendiri, keluarlah Abu Sufyan dengan angkatan perang musyrikin pada tahun yang dijanjikan. Sampai di suatu tempat bernama Mujinnah dekat Murruzh-Zharan, timbul rasa gentar pada Abu Sufyan yang akan berhadapan dengan Nabi Saw.

Abu Sufyan berhenti. Dia ragu-ragu. Pada waktu itu bertemulah dia dengan Nu‘aim bin Mas‘ud yang akan ke Madinah.

Abu Sufyan berkata kepada Nu‘aim bin Mas‘ud bahwa dia berjanji kepada Muhammad dan sahabat-sahabatnya akan bertemu tahun ini di Badar. Namun, dia sekarang hendak kembali ke Mekkah, tetapi merasa tidak enak jika Muhammad keluar menepati janjinya sementara dirinya tidak datang. Hal itu tentu akan menambah keberanian mereka.

“Oleh sebab itu aku minta engkau pergi ke Madinah dan engkau takut-takuti mereka sampai mereka tidak jadi pergi ke Badar. Katakan bahwa Quraisy akan datang dengan tentara besar. Atas jasamu itu aku beri engkau hadiah sepuluh ekor unta,” kata Abu Sufyan.

Sesampai di Madinah, Nu‘aim bin Mas‘ud menyampaikan hal seperti yang diminta Abu Sufyan. Dia menakut-nakuti orang beriman di Madinah bahwa tidak seorang pun dari mereka akan selamat dari tangan Quraisy yang berkekuatan besar. Nyaris intimidasi yang dibawa Nu‘aim bin Mas‘ud berpengaruh kepada beberapa orang sahabat Nabi Saw.

Melihat hal itu, mereka dikumpulkan dan Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah, aku akan pergi ke Badar walaupun sendirian.”

Mendengar perkataan Nabi Saw seperti itu, hilanglah segala keraguan dan kecemasan para sahabat. Lalu, bersama 70 orang, Nabi Saw berangkat sambil bersama-sama mengucapkan Hasbunallah wanimalwakil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung) (2003: 993–994). Kejadian inilah yang menjadi sebab turunnya ayat.

Para sahabat bersemangat setelah mendengar ucapan pemimpinnya bahwa Nabi Saw akan pergi ke Badar memenuhi tantangan musuh itu walaupun sendirian. Artinya, ancaman dan gertakan musuh tidak melemahkan para sahabat, malah menambah iman mereka. Apa yang harus kita takutkan? “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung,” demikian ujung ayat 173.

Pihak yang patah semangat bukan Nabi Saw dan para sahabat, melainkan Abu Sufyan. Nabi Saw bersama 70 orang sahabat terus pergi ke Badar tanpa memedulikan gertakan musuh. Mereka berserah diri kepada Allah, karena kepada Allah-lah kita berlindung dan bertawakal.

Tiada Lawan

Sesampai di Badar, tak seorang pun dari Quraisy yang hadir. Abu Sufyan, setelah “menugasi” Nu‘aim bin Mas‘ud untuk menakut-nakuti kaum beriman di Madinah, justru dialah yang lebih dahulu meninggalkan Badar dan pulang ke Mekkah. Padahal, angkatan perang yang disiapkannya berjumlah 1.000 orang tentara (2003: 995).

Fakta tentang sikap Abu Sufyan yang mengundurkan diri dari Badar sebelum Nabi Saw datang bersama 70 orang pahlawan yang berani mati segera tersebar di seluruh tanah Arab. Bertambah jatuhlah mutu mereka dalam pandangan sesama bangsa Arab.

Tinggallah Rasulullah Saw bersama ke-70 orang pasukannya di Badar beberapa hari. Bukan untuk berperang, melainkan untuk berniaga. Mereka berjual beli dengan penduduk pedalaman tanah Arab.

Kemudian mereka pulang ke Madinah dengan gembira karena laba perniagaan yang tidak disangka-sangka. Semula akan berperang, malah yang dijalankan adalah perniagaan yang menguntungkan. Hal ini diungkap Ali ‘Imran 174 yang artinya, “Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Ibrahim, Juga!

Mari lengkapi dengan Tafsir Ibnu Katsir. Buka, misalnya, di aplikasi Quran Indonesia. Buka tafsir Ali Imran 173. Berikut ini sebagian petikannya.

Setelah Perang Uhud, kaum Muslimin ditakut-takuti bahwa akan ada pasukan yang sangat besar. Namun, kaum Muslimin tidak menghiraukannya. Mereka bertawakal dengan tetap berada di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Mereka berucap, Hasbunallah wanikmalwakil (cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung).

Sementara itu, jauh sebelumnya, Hasbunallah wanikmalwakil juga dibaca oleh Nabi Ibrahim As. ketika dilemparkan ke dalam api.

Jadi, mari teladani Nabi Muhammad Saw. Ikuti Nabi Ibrahim As. Amalkan bacaan Hasbunallah wanikmalwakil. Alhamdulillah, Allahu Akbar. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply