April 13, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Daun Ketapang, Potensi Alam di Kampung Halaman yang Laku Keras di Pasar Internasional

6 min read
Informasi Pendaftaran Pemilih

KENDAL – Jaringan, kreatifitas, skill dan pengetahuan menjadi sebuah lingkaran yang tak terpisahkan saat seseorang ingin produktif dan menghasilkan keuntungan finansial. Sesuatu yang tidak disangka-sangka dan luput dari perhatian banyak orang seringkali menjadi peluang memperoleh keuntungan finansial dalam jumlah besar. Seperti halnya daun ketapang, dengan kejelian dan jaringan, lembar-lembar daun ketapang terbukti mampu mendatangkan lembar-lembar mata uang berbagai negara tujuan.

Seperti yang dilakukan Nurcahyanto. Lelaki asli Kendal ini mendulang untung dengan mengekspor daun ketapang (Terminalia catappa) kering.

Kemujuran Anto—sapaan akrabnya—berawal pada temuannya pada 2020. Saat itu, ia kaget bukan kepalang ketika menemukan daun ketapang terpampang di eBay, sebuah situs jual beli online internasional yang mempertemukan jutaan penjual dan pembeli dari seluruh dunia.

Anto yang saat itu memang tengah mencari peluang usaha dan gencar mengeksplorasi jenis barang apa saja yang dijual di eBay, terheran-heran mengapa daun ketapang kering bisa laku dijual di e-commerce internasional, dengan harga yang cukup menggiurkan pula. Keheranannya itu mengantarkan Anto pada riset kecil-kecilan, mencari tahu potensi pasar daun ketapang.

“Ternyata di luar negeri itu harganya lumayan tinggi lah nilainya,” cerita pria berumur 45 tahun ini.

Mengapa bisa laku? Usut punya usut, daun ketapang ternyata memiliki berbagai manfaat. Tidak hanya bermanfaat pada kesehatan, tapi juga manjur digunakan sebagai antijamur dan antibakteri. Wahjuningrum et al., (2008), dalam penelitiannya menyatakan ekstrak daun ketapang mampu mencegah dan mengobati ikan patin yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila.

Sementara, penelitian Sumino (2013), ekstrak daun ketapang mampu mengobati infeksi A. Salmonicida pada ikan patin. Penggunaan daun ketapang sudah lumrah di kalangan industri perikanan dan hobiis ikan hias, terutama cupang.

Dari hasil risetnya, Anto mengerti ternyata cara pemrosesan daun ketapang di negara lain berbeda dengan di Indonesia. Faktor ini lah yang memengaruhi perbedaan harga jual daun asal Indonesia dan negara-negara lain. A

Anto mengakui kualitas daun ketapang luar negeri memang bagus. Daunnya utuh, tidak tergulung, rapi, dan dibungkus penuh estetika.

Hasil penelusuran di laman ebay pada Jumat (12/03/2020), harga 12 lembar daun ketapang kering ukuran 12-17 cm dari India, bisa dibanderol dengan harga sekitar Rp87.000/paket. Artinya, harga daun ketapang dari negara itu dipatok Rp7.000 per lembarnya.

Sementara, selusin daun ketapang kering ukuran 22-25 cm dari Thailand bisa dibanderol dengan harga sekitar Rp101.000. Artinya, daun ketapang asal Negeri Gajah Putih ini dijual mencapai sekitar Rp8.442/lembar.

Dari penelusuran di eBay, penjualan daun ketapang di situs itu, memang didominasi negara-negara Asean. Setidaknya lokasi Sri Lanka, Thailand, Malaysia keluar sebagai hasil pencarian terbanyak di situs jual beli ini.

Perihal daun ketapang yang masuk eBay serta mahalnya harga jual ini membuat Anto berpikir. Di Indonesia, pohon ketapang sangat mudah ditemukan dan daunnya berserakan begitu saja. Tidak banyak yang terpikir untuk memanfaatkannya, padahal komoditas ini layak ekspor.

“Saya pikir, di Indonesia itu, khususnya di Pulau Jawa itu pohon ketapang banyak banget. Cuma dibiarkan saja, enggak diproses yang ada nilai tambah,” tutur Anto.

 

Sampai ke Negeri Kanguru

Dari hasil penelusurannya inilah, Anto mulai mencari dan mengumpulkan daun ketapang di sekitar rumahnya berada. Tak tanggung-tanggung, lagi Anto segera mempelajari proses dan standar ekspor. Ia menghabiskan sekitar dua sampai tiga bulan untuk mencari tahu dan menemukan kualitas maksimal daun ketapang sesuai standar internasional.

“Tadinya saya belum kepikiran ekspor. Cuma saya melihat kok bisa bagus kualitasnya (daun ketapang luar negeri), seperti itu bagaimana caranya,” ujarnya.

 

Biarpun tampak mudah, bisnis daun ketapang bukannya tak punya kendala. Di lapangan. Anto masih harus membutuhkan proses yang cukup lama, di mulai dari mengumpulkan dedaunan sampai akhirnya bisa dipasarkan. Ia bilang, setidaknya, diperlukan proses lebih dari 1 minggu untuk membersihkan, menyeleksi, fermentasi, pengeringan hingga tahap pengemasan.

“Itu prosesnya sangat panjang, habis dari pres, kita keringkan lagi. Terus kita cek terakhir,” jelas pria dari tiga putri ini.

Beres urusan kualitas, negara tujuan ekspor pun dipelajarinya. Negara yang ia sasar pun tidak main-main, Australia. Asal tau saja, Negeri Kanguru tersebut adalah salah satu negara yang sulit untuk dimasuki barang ekspor, lantaran pengawasan produk pertanian yang ketat.

Sekadar informasi, setiap negara memiliki prosedur dan kebijakan ekspor-impor yang berbeda-beda. Jangan pernah mengira barang kiriman, terutama produk pertanian atau perkebunan, bisa masuk begitu saja tanpa diperiksa dan dinyatakan aman untuk masuk ke suatu negara.

Namun, tantangan itu tak membuat Anto mundur. Mantan Manager Collection di salah satu bank nasional ini mengaku, usaha yang dijalankannya cukup berat dan melelahkan. Namun ia meyakini, dengan kualitas daun ketapang olahannya serta trial dan error selama tiga bulan, ia pasti dapat menembus pasar Australia.

Waktu yang dihabiskan untuk penelitian pun tidak sia-sia. Anto akhirnya menemukan pembeli di Australia, seorang hobi ikan hias dan pemasok daun ketapang untuk toko-toko ikan hias di negara itu. Dengan harap-harap cemas, sampel pun dikirim. Sekitar 11-13 lembar daun ketapang ia terbangkan ke Australia.

Perjalanan daun ketapang asli Yogyakarta juga sama seperti penerbangan manusia. Daun-daun olahan Anto harus ‘transit’ untuk dicek terlebih dahulu di balai karantina, jika lolos barulah boleh diterbangkan. Ketika masuk Australia pun, daun ketapang kembali diperiksa. Jika lolos, daun ketapang baru kemudian bisa melenggang bebas di Negeri Kanguru.

“Masuk Australia ketat juga. Terus dites sama buyer-nya, ternyata sesuai dengan kriterianya,” tutur Anto.

Untungnya, ia mendapat dukungan pada proses pengiriman. Anto mengungkapkan, balai karantina sangat mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah alias UMKM. “Di Jogja itu, kalau ada UMKM yang bisa ekspor itu mereka senang, mereka support, dipermudah lah,” ujarnya.

Dan dari keberhasilannya itu, Anto akhirnya berhasil masuk ke pasar Australia dengan merek Catappang.

 

Ungguli Thailand

Meski sudah berhasil menembus pasar Australia, nyatanya usaha tak berhenti sampai di situ. Pasalnya, para pembeli di negara tersebut telah memiliki pemasok dari Thailand, dan mereka beranggapan, daun ketapang dari negara itu lebih bagus.

Namun Anto yakin anggapan itu tidak sepenuhnya benar, sebetulnya daun ketapang Indonesia lebih bagus dibandingkan Thailand. Produk pertanian Indonesia juga bisa bersaing secara internasional, tetapi dengan catatan proses pengolahan yang dilalui mesti dilakukan dengan cara yang benar, tidak asal-asalan.

“Sudah saya pastikan, dengan daun ketapang ini kita bisa geser Thailand, kok,” ujarnya.

Ia sendiri gemas. Pasalnya dengan kualitas yang sama, pedagang di Thailand berani menjual daun ketapang dengan harga empat kali lebih mahal darinya.

Anto sendiri memasang standar yang berbeda dari kualitas daun ketapang yang biasa dijual di pasar dalam negeri. Menurut penelitiannya, daun ketapang yang bagus adalah yang sudah jatuh dari pohonnya, sebab artinya daunnya sudah tua.

Kedua, daun ketapang harus bersih. Dalam artian, daun tidak boleh berjamur atau rusak karena bakteri. Ketiga, daun juga tidak boleh rusak. Maksudnya, tidak boleh bolong ataupun terlipat. Untuk ukuran, magister di bidang keuangan ini lebih memilih daun yang berukuran besar, yaitu dengan panjang sekitar 20 cm dan lebar sekitar 10 cm.

Untuk harga jual, Anto mematok harga Rp2.000 per lembarnya dengan sekali ekspor sebanyak 2.000 lembar. Setidaknya, Anto mengekspor sebulan sekali. Sampai saat ini, rata-rata daun ketapang hasil tangan Anto berhasil sampai ke pembeli di luar negeri.

Di balik kelancaran usahanya ini, Anto mengatakan keuntungan yang ia kantongi tergolong mepet dengan biaya operasional karena proses yang cukup panjang demi menjaga kualitas. Ia juga mengaku belum bisa menemukan metode pengolahan yang lebih mudah dan cepat.

Sesekali ia pernah mencoba cara baru, namun hasilnya tidak membuahkan kualitas yang diinginkan, alias gagal. Belum lagi, Anto masih harus bekerja sendiri. Ia baru akan meminta bantuan orang lain untuk mencari daun, jika kondisi pesanan sudah mendesak.

“Umpamanya ada 2.000 lembar, itu kita enggak proses langsung 2.000 kan. Kita proses paling satu batch itu minimal 300 lembar, maksimal 400 lembar. Karena kalau langsung 2.000 lembar hasilnya enggak maksimal,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengatakan kemungkinan keuntungan besar akan terlihat, jika kelak ia memiliki karyawan dan telah ekspansi ke negara lain.

Hingga kini, tren permintaan daun ketapang terus meningkat. Bahkan ia mengaku kewalahan memenuhi permintaan dari Australia. Hal ini lah yang membuatnya enggan untuk memasuki pasar negara lain.

“Saya belum berani iklan terlalu kencang, karena saya jaga kualitas,” imbuhnya.

Ia bilang, kultur pembeli luar negeri adalah berkelanjutan. Jika pemasok tidak dapat memberikan permintaan, rasa kepercayaan akan hilang, dan Anto berniat menjaga kepercayaan itu erat-erat. Karena itulah, ia berencana merapikan tata kelola bisnisnya terlebih dahulu sebelum berekspansi ke negara lain, seperti Amerika Serikat misalnya.

Anto optimistis, tren permintaan akan daun ketapang, khususnya produk besutannya, akan meningkat karena kualitas yang sudah teruji. “Karena sebelum saya launching itu pasti saya tes dulu,” ucapnya.

 

Pasar Domestik

Nah, untuk melebarkan pasar lebih besar, membuka usaha di pasar domestik pun dilakoninya. Baru-baru ini ia menjual daun ketapang dalam bentuk cair, yakni ekstrak daun ketapang dengan kemasan 1 liter dan 250 ml, dijual di bawah harga pasaran. Tujuannya, tidak lain agar pembeli kenal dengan produknya.

Anto juga berencana untuk berinovasi dengan membuat bubuk daun ketapang, hingga membuat daun ketapang berbentuk teh celup.

“Untuk sementara, yang bubuk itu yang bisa bikin hanya Thailand,” ungkapnya.

Kondisi ini membuat Anto terpacu untuk membuat produk yang lebih baik lagi. Ia meyakini jika produk yang dibuat berkualitas tinggi, keuntungan dengan sendirinya akan mengikuti.

Tertarik mengikuti jejak Anto? Ia pun menyarankan, jika ada yang ingin menekuni bisnis daun ketapang ini, harus terus mempelajari cara proses daun ketapang yang benar dan sesuai yang dibutuhkan pasar luar negeri. []

Advertisement
Advertisement