September 26, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Diduga Karena Kosmetik Pemberian Majikan, Septiani Derita Gangguan Ginjal dan Alergi Akut

3 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

NGAWI – Sebuah peristiwa yang jarang dialami banyak orang, menimpa seorang mantan PMI Hong Kong asal Gendingan Ngawi. Sejak kepulangannya di kampung halaman pada Juni 2020 silam, alergi kulit yang dideritanya hingga kini belum bisa teratasi. Bahkan, alergi yang diderita Septi oleh dokter yang mengobati disebut alergi akut hingga mengakibatkan sekujur tubuh kulitnya terkelupas dan meninggalkan bekas menghitam seperti terbakar.

Kepada ApakabarOnline.com,  perempuan 28 tahun ini mengaku sangat menderita tinggal di rumahnya. Bagaimana tidak, kondisi tubuhnya yang demikian, akan terasa nyaman dan tidak merasakan gejala alergi jika dia tinggal di tempat yang udaranya sejuk bebas debu sebagaimana halnya saat dia tinggal di rumah majikannya di Hong Kong yang ada ACnya dan lingkungan yang serba bersih.

Sedangkan lingkungan tempat tinggalnya yang berada di pinggiran hutan jati Ngawi, bersuhu udara kering panas saat kemarau dan berdebu serta kualitas air yang jauh berbeda dengan saat dirinya di Hong Kong.

“Padahal saya lahir dan besar disini, sebelum ke Hong Kong dulu saya biasa-biasa saja disini. “ tutur Septi saat berbincang dengan ApakabarOnline.com pada Rabu 8 September 2021.

Setahun sebelum Septi pulang, sejatinya di Hong Kong dirinya sudah mulai merasakan keluhan tersebut.

“Pas setahun terakhir di majikan, saya sudah mulai merasakan. Setiap kali keluar rumah majikan, kena hawa panas pas musim panas, seluruh tubuh rasanya gatal. Tapi pas langsung masuk ke gedung yang ada Acnya, keringat tidak ada, rasa gatal tersebut hilang” tuturnya.

Pakai Kosmetik Abal-Abal, Wajah Seorang PMI Seperti Terbakar

Pun demikian saat musim dingin, Septi merasakan kulitnya kering, bahkan tampak pecah-pecah di beberapa bagian.

“Waktu itu majikan saya ngasih cream dari Mainland, suruh saya pake. Dan kulit kering tidak lagi. Normal lagi. “ lanjutnya.

Selama bekerja di Hong Kong, Septi mengaku belum pernah berganti majikan.

“6 tahun saya kerja disitu, gan pernah ganti majikan. Kebetulan mereka baik.” Lanjutnya.

Di majikan tempatnya bekerja, seluruh kebutuhan kosmetik Septi mulai dari peralatan mandi, bedak, cream, pelembab, pembalut, bahkan hingga parfum dan pakaian, majikannya selalu memberi diluar gaji.

“Mulai dari kosmetik, cream, pelembab, softek, sampek parfum, majikan selalu ngasih. Semua produk mainland yang saya tidak bisa membaca namanya apa.” Lanjutnya.

Setelah sampai di Indonesia, diawal pandemi terjadi, alergi yang dialami Septi sempat terhambat proses pengobatannya karena situasi layanan medis sempat mengalami gangguan dan selain itu jarak dari rumahnya menuju pusat kota Ngawi tidaklah dekat.

“Waktu itu berobatnya tidak teratur, tapi dokter di RS Ngawi bilang kalau saya kena alergi. Mungkin alergi kosmetik, dikasih obat, dikasih nasehat, alergi reda. Tapi begitu obat habis, kumat lagi.” Imbuhnya.

Tak puas berobat di Ngawi, atas saran beberapa pihak, akhirnya Septi mencari pengobatan di sebuah rumah sakit besar di kota Solo dibawah penanganan dokter spesialis kulit dan dalam.

Gunakan Cream Pemutih Merk LC Beauty, Seorang PMI Hong Kong Derita Ginjal Bocor

“Saat di Solo inilah terungkap semuanya, dokter spesialis kulit yang menangani saya merujuk saya untuk periksa ke dokter dalam. Hasil pemeriksaan dokter dalam, ternyata saya punya gangguan internis. Katanya ginjal saya mengalami gangguan fungsi akibat merkuri. “ lanjutnya.

Septi menambahkan, Dokter Spesialis Kulit yang merawatnya kemudian menjelaskan, bahwa apa yang dialami Septi saat ini adalah karena tubuh Septi tidak kuat menerima merkuri yang selama bertahun-tahun, setiap hari masuk ke dalam tubuhnya melalui kosmetik yang dia oleskan ke kulit.

Karena hal tersebut, tentu Septi memerlukan waktu dan biaya untuk mendapatkan kesembuhan.

“Jadi kesimpulannya, dokter menduga, kosmetik pemberian majikan yang saya gunakan selama 6 tahun itulah penyebabnya. Sekarang, karena kandungan merkuri di kosmetik tersebut, saya mengalami dampak jangka panjang, gangguan ginjal dan alergi kulit akut” tuturnya.

Akibat kondisi tersebut, niat Septi yang pulang hanya untuk cuti, akhirnya sampai sekarang belum bisa kembali lagi ke Hong Kong karena kondisi kesehatan dan situasi pandemi.

Melalui ApakabarOnline.com, Septi berpesan kepada seluruh pembaca, khususnya para PMI Hong Kong, agar berhati-hati menggunakan produk kosmetik.

“Kepada teman-teman sesama TKW khususnya, pesen saya, mohon berhati-hati saat memilih dan menggunakan kosmetik. Pastikan kosmetik yang kalian gunakan tidak mengandung zat berbahaya meskipun kadarnya kecil dan dianggap aman, seperti merkuri misalnya. Sebab jika digunakan dalam jangka waktu panjang secara terus menerus, meskipun kandungannya kecil, akhirnya tetap berbahaya juga untuk kesehatan tubuh kita” pungkas Septi. []

Advertisement
Advertisement