October 8, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Disebut Karoshi, Kematian yang Disebabkan Kekelahan Kerja

3 min read
Ilustrasi karoshi, kematian akibat kelelahan kerja (Foto thevocket.com)

Ilustrasi karoshi, kematian akibat kelelahan kerja (Foto thevocket.com)

JAKARTA – Kematian memang merupakan sesuatu yang pasti akan datang. Kematian adalah hal yang menunggu setiap orang di masa depan. Namun, ada banyak hal yang bisa menyebabkan kematian.

Di beberapa negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan serta China, salah satu penyebab kematian yang kerap terjadi adalah akibat kelelahan kerja. Bahkan, mereka memiliki istilah sendiri untuk menyebut kematian akibat kelelahan kerja tersebut.

Di Jepang, fenomena ini disebut Karoshi. Karoshi terdiri dari tiga kata yaitu Ka yang artinya lebih, Rou yang berarti bekerja dan Shi yang artinya mati. Maka dapat disimpulkan bahwa karoshi adalah peristiwa kematian yang disebabkan oleh bekerja secara berlebihan.

Hal tersebut menjadi sindrom mematikan sebagai konsekuensi dari jam kerja yang panjang. Hampir seluruh masyarakat Jepang beranggapan bahwa bekerja secara penuh dan totalitas merupakan sebuah kewajiban.

Maka tidak heran jika muncul ungkapan work is life atau bekerja adalah kehidupan bagi kalangan pekerja Jepang. Dalam sejarahnyaa, Karoshi pertama kali terjadi pada tahun 1969.

Bermula ketika seorang pria yang sudah menikah berusia 29 tahun dan ia bekerja di departemen pengiriman surat kabar terbesar di Jepang. Dia ditemukan meninggal karena stroke mendadak di kantornya.

The Workers Compensation Bureau of Japan’s Ministry of Labor menganggap bahwa kerja berlebihan adalah penyebab kematian pria tersebut.

Kasus-kasus kematian karoshi mayoritas dialami oleh pekerja yang bekerja di bidang seperti teknik, transportasi, perawatan kesehatan dan pelayanan sosial.

Penyebab utama karoshi adalah stres akibat tekanan yang tinggi di lingkungan kerja, dan kebiasaan kerja melebihi standar waktu kerja normal (8 jam). karoshi sering dikaitkan dengan workaholic atau mereka yang gila bekerja. Sebagian orang rela bekerja lebih giat dan lebih lama untuk menunjukkan etos kerja kepada perusahaan.

Persaingan lapangan kerja dan kekhawatiran akan tidak terpenuhinya kebutuhan hidup membuat para pekerja tertekan dan berakhir melakukan pekerjaannya secara berlebihan.

Faktor lain yang menyebabkan seseorang menjadi karoshi adalah takut jika diberhentikan dari pekerjaannya. Sehingga Agar tetap terlihat lebih unggul dari pekerja lainnya, mereka biasanya memforsir tenaganya meski tidak mendapat upah lembur.

Jika bekerja secara berlebihan tanpa cuti dilakukan terus menerus, maka akan berdampak pada tubuh. Jam kerja yang berlebihan ini akan berpengaruh buruk untuk kesehatan.

Seseorang yang bekerja selama 55 jam dalam seminggu memiliki risiko 16 persen lebih besar terkena serangan jantung. Jika waktu kerja ditambah sebanyak 10 jam maka risiko akan semakin meningkat menjadi 33 persen.

Bahkan WHO sempat melakukan penelitian dan dari hasil yang diungkapkan bulan Mei 2021, organisasi sayap PBB mengatakan sebanyak 745 ribu orang meninggal karena stroke dan penyakit jantung di tahun 2016. Dan semuanya, terjadi akibat jam kerja yang panjang. Hal ini menunjukkan bahayanya bekerja secara berlebihan diluar batas normal.

Banyaknya angka kematian yang disebabkan oleh karoshi mengharuskan pemerintah Jepang untuk lebih “melek” atas persoalan yang ada. pemerintah Jepang berupaya untuk membuat program pro-buruh dan karyawan. Di antaranya, Premium Friday sebagai bentuk upaya menekankan angka kematian akibat karoshi.

Premium Friday adalah di mana para pekerja dapat pulang kantor lebih awal, yakni pada pukul 3 sore, pada hari Jumat terakhir di akhir bulan. Hal tersebut demi meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik.

Meski di Indonesia fenomena karoshi tidak separah di Jepang, namun beberapa kasus ditemukan kejadian serupa yang disebabkan karoshi. Salah satunya adalah yang pernah terjadi pada Desember 2013, Mita Diran.

Seorang perempuan berusia 27 tahun yang diduga meninggal karena kelelahan bekerja. Ia bekerja di agensi periklanan dan bekerja sepanjang 30 jam terus menerus tanpa istirahat maupun tidur. []

Alinea

Advertisement
Advertisement