July 1, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Doa Seorang Anak Dapat Memuliakan Orang Tua yang Telah Meninggal Dunia

2 min read

JAKARTA – Meskipun orang tua sudah meninggal dunia, anak tetap diwajibkan untuk berbakti. Caranya, dengan mendoakannya.

Doa anak untuk orang tuanya termasuk amal yang tidak terputus jika seseorang sudah meninggal.

Dilansir Republika.co.id dari buku Shahih Fadhail A’mal oleh Syaikh Ali bin Muhammad Al-Maghribi tertulis, Muslim no. 163, meriwayatkan:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu shadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya.”

Abu Daud (2880), at-Tirmidzi (1376), an-Nasa’I (6/251), Ahmad (2/372), al-Baihaqi (6/278), ath-Thahawi dalam Musykil al-Atsar (1/95) dan Abu Ya’la (6452). An-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (11/185): Para ulama berkata: Makna hadis itu adalah amal mayit terputus dengan sebab kematiannya dan terputus pembaharuan pahala baginya. Kecuali dalam tiga hal, karena ketiganya hasil dari usahanya. Anak merupakan hasil dari usahanya, demikian pula ilmu yang ditinggalkan berasal dari pengajaran dan karangannya. Juga dengan sedekah jariyah, yaitu wakaf. Hadis ini juga menerangkan keutamaan menikah demi mengharapkan anak yang shaleh dan pahala doa sampai kepada mayit, demikian pula dengan sedekah yang merupakan himpunan dari keduanya.

Sementara hadis lain, doa anak bisa membuat derajat seseorang diangkat di surga. Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/509) meriwayatkan:

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga, lalu dia bertanya: ‘Wahai Rabb, bagaimana derajat ini bisa untukku?’ Allah menjawab: ‘Karena permohonan ampunan anakmu bagimu.” Hasan HR. Al-Bazzar dalam az-Zawaid (4/no. 3141).

Dikutip dari ayobandung.com, sebuah pengalaman spiritual tentang hal itu bisa dipetik dari kitab Irsyad Al’Ibaad. Seseorang bermimpi dalam tidurnya melihat ahli kubur keluar dari liang kuburnya.

Mereka memungut sesuatu, namun dia tak mengerti apa yang mereka pungut. Dia juga terheran-heran karena salah satu dari ahli kubur itu hanya duduk dan tak ikut memungut.

Lalu dia mendekatinya dan bertanya, “Apa sesungguhnya yang mereka pungut?” Si ahli kubur itu menjawab, “Mereka memungut hadiah yang diberikan orang-orang Muslim [yang masih hidup] berupa bacaan Al-Qur’an, sedekah, dan doa.”

Orang itu bertanya lagi, “Mengapa Anda tak ikut memungut?” Si ahli kubur menjawab, “Aku sudah merasa cukup karena aku sudah dikirimi anakku setiap hari dengan bacaan Al-Qur’an. Saat ini anakku berjualan kue di pasar.”

Ketika terjaga, orang yang bermimpi itu bergegas ke pasar. Dia menemui dan menanyakan apa yang dilakukan si pemuda pedagang kue yang disebut ahli kubur dalam mimpinya tersebut.

“Aku baca Al-Qur’an dan aku hadiahkan buat orang tuaku,” jawab si pemuda tersebut.

Kisah tersebut mengandung hikmah bahwa doa yang diharapkan si mati tentunya berasal dari orang yang paling dekat, yakni anaknya.

Ini menjadi bentuk bakti si anak kepada orang tua ketika kedua orang tua sudah meninggal. Tentu saja, si orang tua tidak akan menikmati doa-doa yang dikirim dari dunia kalau anak-anak mereka adalah para pendurhaka. Naudzubillah min dzalik. []

Advertisement
Advertisement