Evaluasi Diri di Momen Tahun Baru Hijriyah
3 min read
JAKARTA – Tanpa terasa, lembar demi lembar perjalanan waktu telah berlalu. Kini umat Islam kembali berada di penghujung tahun Hijriah.
Sebuah momentum yang seharusnya tidak sekadar dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender, tetapi menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri.
Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah Swt. kepada manusia. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk beribadah, berkarya, dan menebarkan manfaat.
Allah Swt. bahkan bersumpah atas nama waktu dalam firman-Nya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Ayat ini mengingatkan, pada hakikatnya setiap manusia sedang berada dalam perjalanan menuju akhir kehidupannya.
Waktu yang terus berjalan sesungguhnya sedang mengurangi jatah usia kita. Oleh karena itu, akhir tahun Hijriah menjadi momentum yang sangat berharga untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita lakukan selama satu tahun terakhir?
Sudahkah salat kita semakin khusyuk? Sudahkah Al-Qur’an menjadi sahabat dalam kehidupan sehari-hari? Sudahkah hubungan kita dengan orang tua, pasangan, anak, sahabat, dan sesama manusia semakin baik?
Ataukah justru kita masih disibukkan dengan berbagai urusan dunia hingga melupakan tujuan utama kehidupan?
Memakai Muhasabah
Muhasabah atau evaluasi diri bukanlah kegiatan untuk meratapi masa lalu secara berlebihan. Muhasabah adalah proses jujur melihat diri sendiri, mengakui kekurangan, lalu berusaha memperbaikinya.
Umar bin Khattab ra. pernah berpesan: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”
Pesan tersebut mengandung makna bahwa orang yang bijak adalah mereka yang mampu mengevaluasi dirinya sebelum datang hari perhitungan yang sesungguhnya di hadapan Allah Swt.
Di penghujung tahun ini, mungkin ada sebagian dari kita yang bersyukur karena berhasil mencapai berbagai target dan cita-cita. Namun tidak sedikit pula yang harus menghadapi kegagalan, kehilangan, atau berbagai ujian kehidupan.
Ada yang kehilangan orang yang dicintai, mengalami kesulitan ekonomi, menghadapi masalah keluarga, atau belum berhasil meraih impian yang diharapkan.
Apa pun yang telah terjadi selama setahun terakhir, seorang mukmin diajarkan untuk tetap berbaik sangka kepada Allah. Sebab tidak ada satu pun takdir Allah yang sia-sia.
Setiap keberhasilan adalah nikmat yang harus disyukuri, sementara setiap ujian adalah sarana untuk meningkatkan kesabaran dan kedewasaan.
Perbarui Niat dan Harapan
Pergantian tahun Hijriah juga menjadi kesempatan untuk evaluasi diri, memperbarui niat, dan harapan. Jika selama ini ibadah masih kurang, maka tahun yang baru harus menjadi awal untuk memperbaikinya.
Jika hubungan dengan sesama masih menyisakan luka, maka inilah saat yang tepat untuk meminta maaf dan memaafkan. Jika selama ini terlalu banyak waktu terbuang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, maka tahun yang baru harus menjadi awal untuk lebih produktif.
Harapan adalah energi yang membuat manusia terus melangkah. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berputus asa. Bahkan ketika menghadapi berbagai kesulitan, seorang mukmin tetap diperintahkan untuk optimis terhadap rahmat Allah.
Firman-Nya: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Karena itu, menyambut tahun baru Hijriah hendaknya dilakukan dengan semangat memperbaiki diri, bukan dengan kemeriahan yang berlebihan. Yang lebih penting bukanlah seberapa meriah perayaannya, tetapi seberapa besar perubahan yang terjadi dalam diri kita.
Marilah kita menutup tahun ini dengan evaluasi diri, memperbanyak syukur, dan istigfar. Bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan, serta memohon ampun atas segala dosa dan kekhilafan yang telah dilakukan.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita selama setahun yang telah berlalu, mengampuni segala kesalahan kita, serta memberikan keberkahan pada tahun yang akan datang.
Semoga tahun baru Hijriah menjadi momentum lahirnya pribadi-pribadi yang lebih bertakwa, keluarga yang lebih harmonis, masyarakat yang lebih peduli, dan generasi yang lebih berilmu serta berakhlak mulia.
Pergantian tahun bukanlah tentang bertambahnya angka, melainkan tentang bertambahnya kedewasaan, ketakwaan, dan kedekatan kita kepada Allah Swt.
Semoga setiap tahun yang berlalu menjadikan kita semakin siap menghadap-Nya dengan membawa amal terbaik. Wallahu a’lam bish-shawab.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Menebar maslahat menguatkan umat. []
Penulis : Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.
