June 17, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Sumber Penderitaan dan Sumber Kecemasan Hidup

4 min read

JAKARTA – Ada orang merasa lelah secara mental meskipun tidak sedang melakukan pekerjaan berat. Sebagian orang sulit merasakan ketenangan meskipun kebutuhan hidupnya telah tercukupi.

Salah satu penyebabnya mereka terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendalinya.

Manusia kadang menghabiskan energi untuk sesuatu yang tidak dapat diubah, tidak dapat dipastikan, dan tidak dapat dikendalikan. Akibatnya pikiran menjadi penuh kecemasan, hati dipenuhi kegelisahan, dan hidup terasa semakin berat.

Tidak semua hal dalam kehidupan berada dalam kuasa manusia. Kita tidak bisa mengendalikan pendapat semua orang tentang diri kita. Kita tidak bisa memastikan seluruh rencana masa depan berjalan sesuai keinginan.

Kita juga tidak mampu mengubah kejadian yang telah berlalu. Namun tiga hal itu yang sering menjadi sumber penderitaan dan kegelisahan orang.

Ada yang tidak bisa tidur karena memikirkan komentar negatif orang lain. Ia merasa harus disukai semua orang. Ia ingin mendapatkan pengakuan dari setiap orang yang ditemuinya. Ketika ada satu orang yang tidak menyukainya, ia merasa kecewa dan gelisah berhari-hari.

Sejak dahulu hingga sekarang, tidak ada manusia yang dicintai oleh semua orang. Bahkan para nabi yang memiliki akhlak mulia menghadapi penolakan, hinaan, dan permusuhan.

Rasulullah Saw merupakan manusia terbaik sepanjang sejarah juga pernah dicaci, dituduh, dan disakiti oleh kaumnya.

Jika manusia terbaik saja tidak mampu mengendalikan penilaian semua orang, apalagi kita berharap dapat menyenangkan seluruh manusia.

Karena itu salah satu bentuk kedewasaan adalah memahami tidak semua orang harus menyukai kita. Yang lebih penting adalah memastikan Allah Swt meridai kehidupan kita.

Cemas Masa Depan

Selain pendapat orang lain, banyak manusia tersiksa karena terlalu mencemaskan masa depan. Mereka khawatir tentang pekerjaan yang belum tentu terjadi, masalah yang belum tentu datang, atau kegagalan yang bahkan belum terjadi.

Mereka hidup dalam bayang-bayang kemungkinan buruk yang belum tentu menjadi kenyataan. Akibatnya, hari ini yang seharusnya digunakan untuk berbuat baik justru habis untuk mengkhawatirkan hari esok.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surah At-Talaq: 3.

Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.

Ayat ini tidak mengajarkan manusia untuk pasif. Islam tetap memerintahkan ikhtiar dan perencanaan. Setelah usaha dilakukan, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah Swt.

Ketenangan lahir ketika manusia memahami batas antara ikhtiar dan takdir. Kita bertugas berusaha, sedangkan hasilnya merupakan urusan Allah.

Menyesali Masa Lalu

Sumber penderitaan berikutnya adalah terlalu lama hidup dalam masa lalu. Ada orang yang terus menyalahkan dirinya atas kesalahan yang pernah dilakukan bertahun-tahun lalu.

Ada yang tidak mampu melupakan kegagalan lama. Ada pula yang terus memutar ulang peristiwa menyakitkan yang sudah berlalu.

Masa lalu tidak dapat diubah. Penyesalan memang diperlukan jika mendorong seseorang untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Namun jika penyesalan hanya membuat seseorang tenggelam dalam kesedihan tanpa perubahan, maka hal itu justru menjadi beban yang menghambat langkahnya.

Islam mengajarkan keseimbangan yang indah. Kesalahan masa lalu diakui, diperbaiki, lalu diserahkan kepada rahmat Allah Swt. Setelah itu seseorang melangkah maju dengan penuh harapan.

Pemahaman tentang keterbatasan manusia ini juga banyak dijelaskan oleh para ulama. Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam memberikan nasihat yang sangat mendalam: “Istirahatkan dirimu dari mengatur urusan. Apa yang telah diurus oleh selain dirimu, jangan engkau sibuk mengaturnya.”

Nasihat ini bukan ajakan untuk meninggalkan usaha, melainkan pengingat agar manusia tidak memikul beban yang berada di luar kapasitasnya.

Banyak kegelisahan muncul bukan karena beratnya pekerjaan, melainkan karena keinginan mengendalikan hasil yang tidak berada dalam kuasa manusia.

Hal senada juga disampaikan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Menurutnya, kebahagiaan seorang hamba terletak pada keridaan terhadap ketentuan Allah setelah melakukan ikhtiar terbaiknya.

Sebaliknya hati akan terus gelisah ketika menggantungkan ketenangan pada sesuatu yang selalu berubah, seperti pujian manusia, harta, atau kedudukan.

Realitas kehidupan modern memperlihatkan betapa banyak orang mengukur nilai dirinya dari jumlah pengikut di media sosial, banyaknya like, atau pengakuan dari lingkungan.

Ketika semua ukuran tersebut menurun, kepercayaan dirinya ikut runtuh. Hidupnya seolah bergantung pada penilaian orang lain.

Padahal ketenangan sejati tidak lahir dari pengakuan manusia, melainkan dari keyakinan bahwa Allah Swt menerima amal dan usaha yang kita lakukan.

Imam Al-Ghazali juga mengingatkan, salah satu penyebab kegelisahan adalah keterikatan hati yang berlebihan kepada dunia.

Hati yang terlalu bergantung pada jabatan, harta, atau pujian akan mudah kecewa ketika semua itu berkurang atau hilang. Sebaliknya hati yang bergantung kepada Allah akan tetap tenang meskipun keadaan berubah.

Pelajaran dari Nabi

Pelajaran ini dapat kita lihat dalam kehidupan para nabi. Nabi Ibrahim menjalankan setiap perintah Allah dengan penuh kesungguhan tanpa menuntut hasil sesuai keinginannya.

Ketika diperintahkan meninggalkan keluarganya di lembah tandus taat. Ketika diperintahkan mengurbankan putranya juga tunduk.

Demikian pula Siti Hajar. Saat berada di tengah padang pasir yang gersang bersama putranya, tidak hanya duduk menunggu pertolongan. Ia berlari antara Safa dan Marwah, melakukan ikhtiar terbaik yang mampu dilakukan.

Setelah itu Allah menghadirkan pertolongan melalui mata air Zamzam yang terus mengalir hingga hari ini. Kisah tersebut mengajarkan bahwa manusia diperintahkan untuk berusaha, bukan mengendalikan seluruh hasil.

Kebahagiaan tidak selalu datang karena semua masalah hilang. Ketenangan sering hadir ketika seseorang berhenti memikul beban yang bukan menjadi tanggung jawabnya.

Fokuslah pada apa yang dapat diperbaiki hari ini. Jaga ibadah, perbaiki akhlak, lakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, dan berikan yang terbaik dalam setiap amanah. Setelah itu, serahkan hasilnya kepada Allah Swt.

Sebab banyak penderitaan bukan berasal dari kenyataan yang kita hadapi, melainkan dari keinginan untuk mengendalikan sesuatu yang memang tidak pernah berada dalam genggaman kita.

Sumber penderitaan hilang, ketika hati mampu menerima kenyataan tersebut, hidup akan terasa lebih ringan. Pikiran menjadi lebih tenang. Langkah terasa lebih mantap. Dan yang terpenting, hubungan kita dengan Allah Swt akan semakin kuat.

Ketenangan bukan lahir saat semua urusan berada dalam kendali kita, melainkan saat kita yakin seluruh urusan berada dalam kendali Allah Swt Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengatur segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Penulis : Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply