Mencela Keadaan
4 min read
JAKARTA – Hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika rezeki terasa sempit, usaha belum membuahkan hasil, kesehatan menurun, atau berbagai rencana yang telah disusun dengan matang justru berakhir di luar perkiraan.
Pada saat-saat seperti itulah kualitas keimanan seseorang benar-benar diuji.
Tidak sedikit orang yang mampu bersyukur ketika berada dalam kelapangan. Namun tidak semua orang mampu tetap tenang ketika berada dalam kesempitan.
Sebagian mulai mengeluh, mencela keadaan, bahkan mempertanyakan keadilan hidup yang sedang dijalaninya.
Dalam pandangan Islam, masa-masa sulit bukanlah alasan untuk menjauh dari Allah Swt. Justru pada saat itulah seorang mukmin membutuhkan kedekatan yang lebih kuat denganNya.
Karena itu, ketika ujian datang, tugas kita bukan mencela keadaan, melainkan tetap berikhtiar dan memastikan jarak kita dengan Allah tidak pernah jauh.
Mencela keadaan tidak akan mengubah keadaan. Mengeluh sepanjang hari tidak akan membuat masalah selesai. Sebaliknya sikap tersebut justru menguras energi, melemahkan semangat, dan membuat hati semakin gelisah.
Orang yang terus-menerus menyalahkan keadaan biasanya terjebak dalam lingkaran negatif. Ia sibuk memikirkan apa yang tidak dimiliki, tetapi lupa mensyukuri apa yang masih ada.
Ia fokus pada pintu yang tertutup, tetapi tidak melihat pintu lain yang sedang Allah siapkan untuknya.
Teladan Nabi
Sejarah para nabi mengajarkan pelajaran yang berbeda. Ketika Nabi Nuh as berdakwah selama ratusan tahun dan hanya sedikit pengikut yang beriman, Nabi Nuh tidak mencela keadaan. Tetap menjalankan tugasnya dengan penuh kesabaran.
Ketika Nabi Yusuf AS difitnah dan dipenjara tanpa kesalahan, tidak larut dalam kebencian. Tetap menjaga akhlak dan kepercayaannya kepada Allah Swt.
Ketika Nabi Ayyub AS kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan, tidak mengutuk takdir yang menimpanya. Yang keluar dari lisannya justru doa dan penghambaan kepada Allah.
Kisah-kisah tersebut menunjukkan, para nabi tidak diukur dari ringan atau beratnya ujian yang mereka hadapi. Mereka dimuliakan karena cara mereka menghadapi ujian tersebut.
Realitas kehidupan hari ini juga tidak jauh berbeda. Banyak orang sedang menghadapi tekanan ekonomi. Harga kebutuhan meningkat, lapangan pekerjaan semakin kompetitif, dan berbagai kebutuhan keluarga terus bertambah.
Dalam kondisi seperti itu, rasa cemas memang manusiawi. Namun kecemasan tidak boleh membuat seseorang kehilangan arah.
Allah Swt berfirman: Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Allah mengulang ayat ini dua kali. Para ulama menjelaskan, pengulangan tersebut menunjukkan betapa besarnya harapan yang diberikan Allah kepada hambaNya.
Tidak ada kesulitan yang berlangsung selamanya. Setiap ujian selalu disertai peluang, hikmah, dan jalan keluar yang mungkin belum terlihat saat ini.
Karena itu, langkah pertama saat menghadapi masa sulit adalah menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Menerima bukan berarti menyerah.
Menerima berarti memahami bahwa kondisi yang sedang terjadi merupakan bagian dari takdir Allah yang harus dihadapi dengan bijaksana. Langkah berikutnya adalah berikhtiar semaksimal mungkin.
Ikhtiar
Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Rasulullah Saw sendiri merupakan teladan dalam bekerja keras dan mencari solusi. Ketika menghadapi persoalan, tidak hanya berdoa, juga melakukan berbagai langkah nyata.
Dalam kehidupan sehari-hari, ikhtiar dapat berupa meningkatkan keterampilan, mencari peluang baru, mengatur keuangan dengan lebih bijak, memperluas jaringan pergaulan, atau memperbaiki kualitas pekerjaan yang sedang dijalani.
Namun ada satu hal yang sering terlupakan ketika seseorang menghadapi kesulitan, yaitu menjaga hubungan dengan Allah Swt.
Banyak orang rajin berdoa ketika terdesak, tetapi kembali lalai ketika keadaan mulai membaik. Ada pula yang justru menjauh dari ibadah karena merasa terlalu sibuk memikirkan masalah hidup.
Kekuatan terbesar seorang mukmin lahir dari kedekatannya dengan Allah.
Imam Al-Ghazali menjelaskan, hati manusia tidak akan memperoleh ketenangan sejati kecuali dengan mengingat Allah Swt.
Harta, jabatan, dan berbagai kesenangan dunia hanya memberikan ketenangan sementara. Ketenangan yang hakiki lahir dari hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta.
Karena itu di tengah kesibukan mencari solusi atas berbagai persoalan hidup, jangan sampai salat mulai ditinggalkan. Jangan sampai Al-Qur’an tidak lagi dibaca. Jangan sampai doa hanya menjadi pelengkap ketika semua usaha telah gagal.
Justru pada masa sulit, ibadah harus semakin diperkuat. Sebab sering kali pertolongan Allah datang bukan hanya melalui jalan yang kita perkirakan, melainkan melalui pintu-pintu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Banyak orang sukses hari ini pernah melewati masa-masa yang berat. Banyak tokoh besar pernah mengalami kegagalan, penolakan, dan keterbatasan. Namun mereka tidak membiarkan kesulitan menghentikan langkahnya.
Mereka terus berusaha, terus belajar, dan terus menjaga harapan. Demikian pula seorang mukmin. Ia boleh menangis, boleh merasa lelah, dan boleh merasakan beratnya ujian. Namun ia tidak boleh kehilangan keyakinan kepada Allah Swt.
Masa sulit bukanlah alasan untuk mencela keadaan. Masa sulit adalah kesempatan untuk menguatkan kesabaran, memperbaiki ikhtiar, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebab yang menentukan masa depan kita bukan seberapa berat ujian yang dihadapi, melainkan seberapa kuat kita bertahan dalam iman ketika ujian itu datang.
Maka jika hari ini hidup terasa berat, jangan habiskan energi untuk mencela keadaan. Gunakan tenaga yang ada untuk terus melangkah, terus berikhtiar, dan terus menjaga kedekatan dengan Allah Swt.
Karena selama hubungan dengan Allah tetap terjaga, selalu ada harapan, selalu ada pertolongan, dan selalu ada jalan keluar yang terbaik. Wallahu a’lam bish-shawab. []
Penulis : Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.
