Mukmin yang Berbuat Maksiat Bakal Kekal di Neraka
4 min read
JAKARTA – Mukmin yang maksiat atau melakukan dosa besar akan kekal selamanya di neraka sebelum ia bertobat dari dosanya merupakan kerancuan pemikiran kaum Mu’tazilah dan Khawarij yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Tokoh Mu’tazilah adalah Abu Hudzaifah Washil ibnu Atha Al-Gazzal Al-Atsag (80-131 H). Dia hidup pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Para pengikutnya tersebar di Afrika Utara pada masa Kerajaan Idris bin Abdullah Al-Husaini yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur.
Washil ibnu Atha salah satu murid Hasan Bashri, ulama kalangan tabi’in dari Bashra, Irak. Tabi’in adalah generasi setelah para sahabat Nabi Muhammad Saw. Hasan Bashri digelari sebagai Sayyidut Tabi’in, pemimpin para tabi’in.
Pada suatu hari Washil Ibnu Atha datang menemui Hasan Bashri. Dia berkata, Wahai Guru, telah lahir di zaman kita ini sekelompok manusia yang telah mengafirkan setiap orang yang melakukan dosa besar.
Dosa besar yang menurutnya menyebabkan kekafiran dan kelompok ini adalah kaum Khawarij. Ada juga sekelompok manusia yang menyerahkan urusannya kepada Allah Ta’ala tentang pelaku dosa besar. Menurut mereka dosa besar itu tidak memengaruhi iman, karena perbuatan tersebut yang mereka lakukan bukanlah termasuk Rukun Iman.
Iman tidak akan rusak karena berbuat dosa besar. Demikian juga ketaatan tidak dipengaruhi oleh kekafiran. Kelompok ini dinamakan Murjiah. Karena itu bagaimana pendapatmu Wahai Guru tentang keyakinan atau pemahaman dari dua kelompok tersebut?
Hasan Bashri berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan Washil Ibnu Atha itu. Namun Washil Ibnu Atha telah terlebih dahulu menjawab pertanyaannya sendiri. Ia berkata, “Orang yang melakukan dosa besar masih dianggap beriman dan juga bukan kafir.”
Kelompok yang Memisahkan Diri
Setelah Washil mengucapkan itu ia keluar dari masjid dan memisahkan diri dari halaqah Hasan Bashri. Karena itu disebut kelompok Mu’tazilah. Washil dan murid-muridnya memiliki kesamaan pemahaman, bahwa seorang mukmin melakukan maksiat yang belum tobat, pasti masuk neraka kekal di dalamnya. (Rujukan Al–Milal wal–Nihal halaman 39, Muhammad bin Abdul Karim Al-Syahrastani)
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini orang mukmin yang melakukan dosa maksiat di akhir hidupnya selama di dalam hatinya masih mentauhidkan Allah Ta’ala meskipun belum bertobat, ia tidak kekal di neraka. Penyebab orang masuk neraka kekal di dalamnya adalah perbuatan syirik, munafik itiqadi (seolah-olah mendukung dakwah Islam, di baliknya amat benci terhadap syariat Islam), dan kafir.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Baqarah ayat 81.
بَلَىٰ مَن كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَٰطَتْ بِهِۦ خَطِيٓـَٔتُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
(Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Orang-orang Khawarij berhujjah juga dengan ayat ini atas kufurnya pelaku kemaksiatan, padahal ayat itu sebagai hujjah bantahan terhadap mereka. Karena ayat itu sebenarnya jelas tentang kesyirikan.
Oleh karenanya surah Al-Baqarah ayat 81 mengandung makna, barangsiapa yang melakukan dosa dan bergelimang dosa sampai jatuh kepada kesyirikan dan berkuasa atasnya dosa-dosa, maksiat, dari seluruh sisi, maka mereka adalah orang-orang musyrik dan kafir. Mereka adalah penghuni neraka selamanya di dalamnya, tidak keluar mereka dari neraka tersebut selamanya.
Hadis Nabi yang menerangkan setiap orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya akan dimasukannya ke dalam surga, sekalipun di antara mereka masuk neraka terlebih dahulu, namun pada akhirnya Allah Ta’ala akan memasukannya ke dalam surga sebagai berikut.
Hadis Pertama
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي اللهُ عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدِ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَا أَوِ الْحَيَاةِ شَكَّ مَالِكٌ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً قَالَ وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا عَمْرٌو الْحَيَاةِ وَقَالَ خَرْدَلٍ مِنْ خَيْرٍ. )رواه البخاري ومسلم (
“Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, dari Nabi Saw, ia bersabda, penghuni surga akan masuk surga dan penghuni neraka akan masuk neraka, kemudian Allah Ta’ala memerintahkan: Keluarkan dari neraka orang-orang yang dalam hatinya ada iman seberat biji sawi. Maka dikeluarkanlah mereka dari neraka yang warna (badannya) benar-benar hitam, lalu dimasukkan ke dalam sungai hidup atau sungai kehidupan, lalu tumbuhlah mereka seperti biji yang tumbuh setelah air bah, adakah engkau tidak melihatnya, sesungguhnya ia keluar berwarna kuning yang melilit.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan, orang muslim yang berbuat dosa maksiat dan belum sempat bertobat di akhir hidupnya, namun di dalam dirinya masih ada iman tauhid seberat biji sawi, meskipun ia masuk neraka terlebih dahulu, namun Allah Ta’ala akan mengeluarkannya dari siksa api neraka.
Hadis Kedua
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَقُولُ أَتَسْخَرُ بِي أَوْ أَتَضْحَكُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً . )رواه البخاري ومسلم)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra, berkata, bersabda Nabi saw: Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui penduduk neraka terakhir masuk neraka dan penduduk surga terakhir masuk surga. Seorang laki-laki keluar dari neraka dengan merangkak, maka Allah memerintahkan (kepada orang itu): “Pergilah dan masuklah ke surga!” Laki-laki itu mendatangi surga itu sambil mengkhayalkan bahwa surga itu telah penuh. Lalu ia kembali dan berkata: “Wahai Tuhan aku dapati surga itu telah penuh.” Allah memerintahkan: “Pergilah dan masuklah ke surga!” Maka ia mendatanginya sambil mengkhayalkan bahwa surga itu telah penuh. Lalu ia kembali dan berkata: “Wahai Tuhan aku dapati surga itu telah penuh.” Maka Allah berfirman: “Pergilah dan masuklah ke surga, maka sesungguhnya (surga) itu semisal dunia dan sepuluh kalinya atau sesungguhnya surga itu sepuluh kali dunia.” Laki-laki itu berkata: “Engkau mengejek dan menertawakanku sedangkan Engkau pemilik(nya).” Aku (Ibnu Mas’ud) melihat Rasulullah tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. Dan pernah pula dikatakan: “Yang demikian itu adalah penduduk surga yang paling rendah tingkatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari kedua hadis di atas diperoleh keterangan, orang mukmin yang melakukan perbuatan dosa yang belum ia bertobat dari perbuatannya itu, selama di dalam dirinya ada iman, dan tidak melakukan syirik, maka Allah Ta’ala akan mengampuninya, dan mengeluarkannya mukmin maksiat itu dari neraka meskipun ia mendapat siksa terlebih dahulu atas dosanya. Wallaahu ’alamu bishshawwab. []
Penulis : Ridwan Ma’ruf, Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf PDM Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, dan Spiritual Parenting Islam.
