June 19, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Gemar Berbohong dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

2 min read

JAKARTA – Secara fitrah manusia tidak suka perbuatan bohong. Makanya berbohong merupakan salah satu kebiasaan buruk yang tidak elok dilakukan.

Melansir Suara.com jaringan Telisik.id sebuah studi tahun 2002 yang dilakukan oleh psikolog Robert Feldman di University of Massachusetts menemukan, 60 persen orang berbohong setidaknya sekali selama 10 menit percakapan, mengatakan rata-rata dua sampai tiga kebohongan.

Kecenderungan berbohong akan membuat orang tersebut melakukan hal yang sama. Kebohongan tersebut tidak peduli besar atau kecilnya, tetapi dampak yang timbul akibatnya. Kebiasaan yang berbohong dalam kasus yang besar bisa menjadi suatu kriminalitas. Selain itu, berbohong juga memberikan dampak buruk bagi tubuh.

Ketidakjujuran akan membuat otak selalu siaga sehingga menyebabkan stres. hal ini karena dirinya dipenuhi perasaaan bersalah. Saat berbohong detak jantung dan pernapasan seseorang akan meningkat.

Selain itu, biasanya tubuh menjadi berkeringat dan suara menjadii bergetar. Dalam beberapa kasus, orang yang berbohong bahkan menjadi gagap dan tidak dapat berbicara.

Gejala kecemasan muncul karena berbohong mengaktifkan sistem limbik di otak, area yang sama yang memulai respons “lawan atau lari” yang dipicu selama stres lain.

Saat orang sedang jujur, area otak ini menunjukkan aktivitas minimal. Namun, saat berbohong, bagian ini akan menyala seperti pertunjukan kembang api. Otak yang jujur itu rileks, sedangkan yang tidak jujur akan menjadi panik.

Namun, pengaruh berbohong pada setiap orang berbeda. Hal ini karena pengaruh otak yang dimilikinya. Seseorang yang terbiasa berbohong biasanya kurang memiliki rasa empati sehingga saat ditanya ia akan menjawab seperti orang normal pada biasanya.

 

Lantas, bagaiaman efek jangka pendek dan jangka panjang dari berbohong?

Menurut ahli gastroenterologi, Kara Gross Margolis dari Pusat Medis Universitas Columbia dan David A. Johnson dari Eastern Virginia Medical School mengatakan, berbohong akan menyebabkan kecemasan seseorang secara terus-menerus.

Selain stres dan ketidaknyamanan jangka pendek, menjalani kehidupan yang tidak jujur berdampak buruk pada kesehatan.

Menurut artikel ulasan 2015, berbohong terus-menerus dikaitkan dengan serangkaian hasil kesehatan negatif termasuk tekanan darah tinggi, peningkatan detak jantung, vasokonstriksi, dan peningkatan hormon stres dalam darah.

Oleh karena itu, berbohong dengan waktu yang cukup lama akan berdampak buruk pada kondisi tubuh seseorang.  []

Advertisement
Advertisement