December 6, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Jangan Lengah, Stroke Juga Menyerang Usia Muda

3 min read

candid portrait of Asian young handicapped woman with sad and hopeless feeling sitting on the wheelchair alone in the house. handicap and disability concept

-

JAKARTA – Masyarakat berusia produktif di Indonesia harus waspada sebab serangan strok bisa datang secara tiba-tiba. Pasalnya, serangan mendadak ini berisiko bikin masa depan suram (madesu).

“Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 13,7 juta jiwa penduduk dunia terserang kasus strok baru per tahun,” kata Dokter Spesialis Saraf, Dodik Tugasworo, dalam keterangannya terkait Hari Stroke Sedunia yang diikuti dari YouTube Kemenkes RI di Jakarta, Kamis (28/10).

Dokter dari Rumah Sakit Columbia Asia Semarang itu mengatakan, satu dari empat penduduk yang berusia 25 tahun akan mengalami strok. Nah, setiap tahun, 60% dari seluruh kasus strok dialami penduduk usia kurang dari 70 tahun, atau usia produktif.

Dodik menyebutkan serangan strok pada usia muda membutuhkan waktu pemulihan yang cukup panjang sehingga mengancam keberlangsungan karier pada masa depan.

“Masih muda sudah madesu atau masa depan suram,” serunya.

Ia mengatakan, pengertian strok sesuai petunjuk WHO pada 1970 dikenal sebagai gangguan pembuluh darah di otak yang terjadi secara tiba-tiba. Hal ini terjadi karena adanya sumbatan maupun pendarahan.

Namun, pada 2013, American Heart Association/American Stroke Association (AHA-ASA) memberi pengertian lain tentang strok. Menurut mereka, kematian sel otak, medulla spinalis dan retina yang disebabkan oleh iskemia maupun perdarahan, dibuktikan dengan pencitraan atau rontgen.

“Gejalanya bertahan lebih dari 24 jam atau sampai kematian (cacat),” serunya.

Menurut data dari WHO pada 2018, kata Dodik, kematian akibat strok di Indonesia mencapai 252.473 jiwa. Jumlah sebesar itu sekitar 14,83% dari total angka kematian nasional.

“Angka kematian di Indonesia mencapai 147,19 per 100 ribu populasi. Ini jadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Indonesia ditempatkan ranking ketujuh di seluruh dunia,” tuturnya.

Peraih gelar Dokter Saraf Universitas Diponegoro itu menyebut, kematian atau kecacatan yang dipicu strok, timbul akibat sel saraf otak yang mati di area sumbatan.

“Jika sumbatan tidak segera dibuka, setiap menit 1,9 juta sel saraf otak mati di area sumbatan, dan tidak ada pertumbuhan sel baru penggantinya,” lanjutnya.

Dodik menuturkan, beban ekonomi yang muncul akibat serangan strok berdasarkan proyeksi jumlah kasus rawat jalan dan rawat inap sepanjang 2014–2019 berkisar Rp794,08 miliar. Peringkat kedua terbesar setelah penyakit jantung Rp1,82 triliun.

Secara umum, gejala strok bisa dikenali masyarakat, seperti senyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), serta tersedak dan sulit menelan air minum secara tiba-tiba.

Kemudian, gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba, lalu tiba-tiba tidak bisa bicara, tidak mengerti kata-kata dan bicara tidak “nyambung”.

Gejala lainnya adalah kebas atau kesemutan separuh tubuh, rabun, atau pandangan satu mata kabur secara tiba-tiba, hingga sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Kemudian gangguan fungsi keseimbangan atau gerakan sulit dikoordinasi.

“Risiko yang dapat memicu serangan strok seperti hipertensi, riwayat strok, penyakit jantung, diabetes, merokok, obesitas, alkohol, dan penggumpalan darah,” tuturnya.

 

Faktor Risiko

Sebelumnya, Direktur Utama (Dirut) Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS, menyatakan agar tidak terkena strok, perlu mengendalikan faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terkena strok.

“Kita mencegah jangan sampai terkena strok dengan mengendalikan faktor risiko. Kalau sudah terkena strok tidak ada waktu lagi, kecuali segera ke rumah sakit,” imbuhnya.

Mursyid menuturkan strok merupakan salah satu permasalahan kesehatan utama di Indonesia dengan tingkat kematian tinggi. Tingkat kejadian strok makin lama makin meningkat tiap tahun.

Secara umum, strok terbagi dua macam, yakni strok penyumbatan pembuluh darah dan strok pendarahan (stok hemoragik). Persentase strok pendarahan dari total kejadian strok hanya sekitar 20%, bahkan ada beberapa kepustakaan di negara lain mencatat hanya 15%. Mayoritas kejadian adalah strok penyumbatan pembuluh darah.

Sementara itu, 70% pasien dengan strok pendarahan mengeluh sakit kepala, dan 60% pasien diikuti dengan penurunan kesadaran, penurunan gerak tubuh, dan kejang.

Mursyid mengatakan, strok merupakan penyakit yang memiliki faktor yang mendasari, yakni faktor risiko yang berkaitan dengan kondisi kesehatan atau kondisi tubuh lain yang berpotensi untuk terjadinya strok.

Menurut dia, ada faktor risiko yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan. Faktor risiko yang tidak bisa dikendalikan, antara lain usia. Makin bertambah usia, makin besar terkena risiko strok.

Sementara itu, di Amerika, kemungkinan kulit hitam terkena strok lebih besar dibanding kulit putih.

Faktor risiko yang bisa dikendalikan, antara lain hipertensi, diabetes, gangguan irama jantung, kolesterol tinggi, kegemukan, kurang berolahraga, dan pola hidup tidak sehat.

Dalam mengendalikan faktor risiko tersebut, bisa dilakukan upaya, antara lain mengatur pola makan sehat, pola hidup sehat, mengurangi konsumsi gula, dan menghindari rokok. Bagi yang memiliki hipertensi dan diabetes, harus berobat teratur.

“Untuk mengurangi kemungkinan terkena strok, kendalikan faktor risiko,” ujar Mursyid.

Ketika muncul tanda atau gejala awal serangan strok tersebut, segera mendatangi rumah sakit terdekat yang bisa menangani strok. Pasalnya, penanganan yang lebih cepat akan mendatangkan hasil yang lebih baik. []

Advertisement
Advertisement