December 8, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kalimat yang Paling Dibenci Allah

2 min read

JAKARTA – Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (Hadis riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman, An Nasai dalam Amal Al Yaum wa Al Lailah,  dishahihkan Al Albani dalam As Shahihah).

Mengutip Idntimes.com, kalimat di atas menunjukkan kesombongan seseorang karena tidak mau mendengarkan ajakan orang lain untuk bertakwa. Bahkan orang lain dianggap tidak boleh mengurusi masalah ketakwaannya. Padahal sejatinya, manusia seharusnya saling mengingatkan dalam kebaikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat sering sekali kita menjawab nasihat orang lain dengan kalimat yang dibenci Allah ini. Sehingga akhirnya orang lain tidak lagi mau menasihati kita karena takut akan mendapatkan perlakuan yang sama

Sikap sombong ini pernah juga dialami oleh Nabi Nuh ‘alaihi salam. Beliau pun mengadu kepada Allah SWT terkait kesombongan kaumnya, yang tidak mau menyembah Allah SWT.

Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Nuh Ayat 5-7:

Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5-7).

Jangan-jangan kita pun termasuk orang-orang sombong yang menolak kebaikan dan kebenaran karena rasa tidak suka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (H.R. Muslim).

Melansir Thayyibah.com, sikap menolak nasehat adalah tanda kerasnya hati. Menolak nasehat juga dapat merusak masyarakat karena hilangnya budaya saling menasehati, yang ujung-ujungnya juga bisa merugikan diri, keluarga dan anak keturunan kita.

Memang nasehat itu pahit seperti minum obat. Nasehat itu seringkali salah dalam cara penyampaiannya, sehingga membuat kita merasa tersinggung. Akan tetapi, lepas dari caranya yang salah, nasehat itu tetap penting untuk membuat kita “sembuh” dan menjadi lebih baik.

Mungkin kebanyakan kita menolak nasehat karena tidak mau diganggu dalam melampiaskan hawa nafsu. Yang pasti, ternyata sikap menolak nasehat untuk bertakwa adalah sikap yang sangat dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala. []

Advertisement
Advertisement