Kekuatan Manusia Ada Batasnya
8 min read
JAKARTA – Kita sering merasa kuat ketika mampu menyelesaikan banyak urusan, melewati kesulitan, memperoleh keberhasilan, dan berdiri sendiri menghadapi kehidupan.
Namun, sesungguhnya di balik setiap kemampuan ada pertolongan Allah yang bekerja tanpa selalu kita sadari. Napas, kesehatan, kesempatan, ilmu, kesabaran, rezeki, dan keteguhan hati adalah karunia yang setiap saat dapat berubah jika Allah menghendakinya.
Kekuatan manusia pada hakikatnya terbatas. Seberapa kuat pun seseorang, ada saatnya tubuh membutuhkan istirahat. Seberapa luas pun ilmu yang dimiliki, selalu ada sesuatu yang belum diketahui.
Seberapa tinggi jabatan seseorang, tetap ada perkara yang berada di luar kuasanya. Bahkan, umur yang kita jalani pun tidak pernah menjadi milik kita sepenuhnya. Kita hanya diberi kesempatan untuk menggunakannya selama Allah mengizinkan.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa keberhasilan yang kita raih semata-mata lahir dari kehebatan diri. Jangan pula merasa bahwa semua yang telah kita capai sepenuhnya merupakan hasil kecerdasan, kekuatan, pengalaman, atau kerja keras kita sendiri.
Kerja keras memang penting. Ikhtiar adalah bagian dari kehidupan seorang beriman. Namun, di atas seluruh ikhtiar manusia terdapat kehendak dan pertolongan Allah.
Allah mengingatkan manusia bahwa dirinya pada dasarnya adalah makhluk yang lemah. Allah berfirman:
يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (An-Nisa 28).
Ayat ini mengajarkan sebuah kesadaran penting. Kelemahan bukan sesuatu yang harus membuat manusia putus asa. Kelemahan adalah keadaan dasar manusia yang seharusnya membuatnya rendah hati dan senantiasa membutuhkan Allah. Justru ketika seseorang menyadari keterbatasannya, ia akan lebih mudah berdoa, lebih sungguh-sungguh berikhtiar, dan lebih tulus menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Saat Kekuatan Tidak Lagi Terasa Sama
Ada hari ketika kita merasa sangat kuat. Pekerjaan dapat diselesaikan, persoalan dapat diatasi, tubuh terasa sehat, pikiran jernih, dan hati penuh semangat. Namun, ada pula hari ketika sesuatu yang biasanya mudah tiba-tiba terasa berat.
Bangun dari tempat tidur saja membutuhkan perjuangan. Pekerjaan sederhana terasa melelahkan. Hati yang biasanya tenang mendadak dipenuhi kegelisahan. Pada saat seperti itulah manusia disadarkan bahwa kekuatannya ternyata tidak permanen.
Kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah. Bahkan, pengakuan itulah salah satu bentuk penghambaan yang paling jujur. Seorang hamba tidak menjadi hina karena membutuhkan Allah. Sebaliknya, manusia menjadi mulia ketika menyadari bahwa dirinya adalah hamba dan Allah adalah Rabb yang menjadi tempat bergantung.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.” (Fatir 150)
Betapa dalam pesan ayat tersebut. Allah tidak mengatakan bahwa manusia hanya membutuhkan Allah ketika sedang sakit, miskin, sedih, gagal, atau tertimpa musibah. Manusia membutuhkan Allah dalam seluruh keadaan. Ketika sehat, kita membutuhkan Allah agar kesehatan menjadi sarana kebaikan. Ketika kaya, kita membutuhkan Allah agar kekayaan tidak membuat kita sombong. Ketika berilmu, kita membutuhkan Allah agar ilmu menjadi petunjuk, bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Ketika berhasil, kita membutuhkan Allah agar keberhasilan tidak berubah menjadi kesombongan.
Bahkan, ketika kita merasa mampu melakukan sesuatu sendiri, sebenarnya kemampuan itu pun merupakan pemberian Allah. Tangan yang kita gunakan untuk bekerja adalah karunia. Mata yang digunakan untuk membaca adalah karunia. Akal yang digunakan untuk berpikir adalah karunia. Kesempatan yang memungkinkan kita berusaha adalah karunia. Orang-orang yang membantu perjalanan hidup kita juga merupakan bagian dari nikmat Allah.
Semakin Mampu, Seharusnya Semakin Bersyukur
Karena itu, semakin banyak kemampuan yang diberikan kepada seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa syukurnya, bukan semakin tinggi kesombongannya.
Allah berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl ayat 53).
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Kita boleh merasa bangga atas usaha yang telah dilakukan, tetapi jangan sampai kebanggaan itu menghapus kesadaran bahwa Allah-lah yang memberikan kemampuan untuk berusaha.
Ada perbedaan besar antara percaya diri dan merasa tidak membutuhkan Allah. Percaya diri berarti menyadari kemampuan yang Allah berikan, lalu menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Sementara itu, merasa tidak membutuhkan Allah adalah kesombongan yang dapat membuat manusia lupa kepada sumber segala kekuatan.
Al-Qur’an bahkan mengajarkan bahwa keberhasilan tidak semata-mata bergantung pada kemampuan manusia. Allah berfirman:
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Dan petunjuk untuk melaksanakan kebaikan yang aku peroleh hanyalah dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.” (Hud ayat 88).
Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Seorang manusia boleh merencanakan, belajar, bekerja, berusaha, berlatih, memperbaiki diri, dan menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Namun, pada akhirnya, taufik untuk melakukan kebaikan tetap berada di tangan Allah.
Betapa banyak orang memiliki kesempatan, tetapi tidak mampu menggunakannya. Betapa banyak orang memiliki ilmu, tetapi tidak mampu mengamalkannya. Betapa banyak orang memiliki harta, tetapi tidak memperoleh ketenangan. Betapa banyak orang memiliki kekuatan fisik, tetapi tidak menggunakannya untuk kebaikan. Maka, kemampuan saja tidak cukup. Manusia membutuhkan taufik Allah agar kemampuan tersebut mengantarkan kepada kebaikan.
Ikhtiar dan Tawakal Harus Berjalan Bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan agar seorang mukmin tidak hidup dalam keadaan pasif. Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan ikhtiar dengan alasan tawakal. Sebaliknya, manusia diperintahkan untuk berusaha sekaligus menggantungkan hati kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.’ Sesungguhnya perkataan ‘seandainya’ membuka jalan bagi perbuatan setan.” (Muslim).
Hadis ini memberikan keseimbangan yang indah. Kita diperintahkan untuk bersemangat mengejar sesuatu yang bermanfaat. Kita tidak boleh menyerah sebelum berusaha. Kita tidak boleh menjadikan tawakal sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Namun, bersamaan dengan itu, kita juga diperintahkan meminta pertolongan kepada Allah dan tidak merasa mampu berdiri sepenuhnya dengan kekuatan sendiri.
Maka, kehidupan seorang mukmin berada di antara ikhtiar dan tawakal. Tangannya bekerja, tetapi hatinya bergantung kepada Allah. Akalnya merencanakan, tetapi hatinya menyerahkan hasil kepada Allah. Kakinya melangkah, tetapi ia sadar bahwa kemampuan untuk melangkah adalah pemberian Allah.
Kesadaran seperti ini akan mengubah cara kita memandang keberhasilan.
Ketika berhasil, kita tidak mudah menyombongkan diri. Kita mengatakan, “Alhamdulillah.” Bukan sekadar sebagai ucapan formal, melainkan sebagai pengakuan bahwa keberhasilan itu tidak mungkin terjadi tanpa izin dan pertolongan Allah.
Ketika Gagal dan Ujian Datang
Ketika gagal, kita tidak langsung menghina diri sendiri. Kita mengevaluasi kesalahan, memperbaiki ikhtiar, lalu kembali memohon pertolongan Allah. Kegagalan tidak selalu berarti Allah sedang menjauhkan kita dari kebaikan. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kesabaran, kedewasaan, kehati-hatian, atau menunjukkan jalan yang lebih baik.
Ketika mendapatkan ujian, kita tidak merasa sendirian. Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah ayat 286).
Ayat ini menjadi penguat bagi hati yang sedang lelah. Namun, ayat tersebut tidak berarti bahwa semua ujian akan terasa ringan. Ada ujian yang sangat berat. Ada kehilangan yang membuat air mata tidak mudah berhenti. Ada persoalan yang membutuhkan waktu panjang untuk diselesaikan. Namun, seorang mukmin percaya bahwa Allah mengetahui kemampuan hamba-Nya dan tidak pernah keliru dalam menetapkan ujian.
Ketika kekuatan kita terbatas, Allah tidak terbatas.
Ketika ilmu kita terbatas, ilmu Allah tidak terbatas.
Ketika pandangan kita hanya mampu melihat hari ini, Allah mengetahui hari esok.
Ketika kita tidak memahami mengapa sesuatu terjadi, Allah mengetahui seluruh hikmah yang berada di baliknya.
Karena itu, jangan terlalu takut menghadapi kehidupan hanya karena kita sadar bahwa diri kita memiliki banyak keterbatasan. Justru keterbatasan itulah yang mengajarkan kita untuk bergantung kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa yang menunjukkan betapa manusia membutuhkan pertolongan Allah:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penjaga urusanku, perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari setiap keburukan.” (Muslim0.
Jangan Menunggu Lemah untuk Mengingat Allah
Doa tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pertolongan Allah dalam urusan akhirat. Kita membutuhkan Allah dalam seluruh perjalanan hidup. Kita membutuhkan Allah agar agama kita baik, kehidupan dunia kita baik, dan perjalanan menuju akhirat kita baik.
Maka, jangan menunggu menjadi lemah untuk mengingat Allah. Jangan menunggu sakit untuk bersyukur atas kesehatan. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai nikmat. Jangan menunggu usia tua untuk memperbaiki ibadah. Jangan menunggu kegagalan untuk belajar tawakal.
Selagi hari ini kita masih mampu berdiri, bersyukurlah.
Selagi kita masih mampu bekerja, gunakanlah tenaga untuk kebaikan.
Selagi kita masih memiliki ilmu, ajarkanlah dengan rendah hati.
Selagi kita masih memiliki kesempatan, perbanyaklah amal.
Selagi hati masih diberi kemampuan untuk menangis karena dosa, segera bertobat.
Selagi lisan masih mampu berbicara, gunakanlah untuk perkataan yang baik.
Sebab, kita tidak pernah tahu sampai kapan semua kemampuan itu akan Allah titipkan.
Umur manusia pun memiliki batas. Allah berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (Al-A’raf 34)
Karena itu, jangan menunda kebaikan dengan keyakinan bahwa kita masih memiliki banyak waktu. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan jaminan bahwa esok ia masih memiliki kesempatan yang sama.
Hidup Bukan tentang Seberapa Hebat Kita
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa hebat kita terlihat di hadapan manusia. Hidup ini tentang seberapa tulus kita mengakui kebutuhan kepada Allah dan seberapa baik kita menggunakan setiap kemampuan yang Allah titipkan.
Jika hari ini kita mampu melewati ujian, bersyukurlah.
Jika hari ini kita mampu bekerja, bersyukurlah.
Jika hari ini kita mampu menolong orang lain, bersyukurlah.
Jika hari ini kita masih mampu sujud, bersyukurlah.
Jika hari ini kita masih mampu mengucapkan “Alhamdulillah”, ketahuilah bahwa kemampuan mengucapkan syukur itu sendiri adalah nikmat yang besar.
Jangan merasa hebat karena mampu bertahan. Katakan dalam hati bahwa Allah telah menguatkan.
Jangan merasa hebat karena mampu bangkit. Akui bahwa Allah telah memberikan kesempatan.
Jangan merasa hebat karena mampu berbuat baik. Mohonlah agar Allah menerima amal itu.
Dan jangan pernah merasa bahwa diri kita tidak membutuhkan Allah. Sebab, sesungguhnya sejak pertama kali kita menghirup udara hingga detik terakhir kehidupan, kita berada dalam genggaman pertolongan-Nya.
Kekuatan kita terbatas, tetapi pertolongan Allah tidak terbatas. Ilmu kita terbatas, tetapi ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Waktu kita terbatas, tetapi rahmat Allah terbuka bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya.
Maka, berjalanlah dengan ikhtiar, hiduplah dalam syukur, hadapilah ujian dengan sabar, mintalah pertolongan Allah dalam setiap urusan, dan serahkan hasilnya dengan tawakal.
Sebab, manusia yang menyadari keterbatasannya tidak akan mudah sombong ketika berhasil dan tidak akan mudah hancur ketika gagal. Ia tahu bahwa dirinya hanyalah hamba. Ia berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan seluruh hasil kepada Zat Yang Mahakuasa.
Semoga Allah menjaga kekuatan kita ketika kuat, menguatkan kita ketika lemah, memberikan petunjuk ketika kita bingung, memberikan kesabaran ketika diuji, memberikan syukur ketika diberi nikmat, dan memberikan keikhlasan dalam setiap amal.
Semoga setiap langkah yang kita tempuh menjadi jalan menuju kebaikan, setiap kesulitan menjadi sebab bertambahnya kedekatan kepada Allah, dan setiap keberhasilan menjadi alasan untuk semakin merendahkan diri di hadapan-Nya.
Karena pada akhirnya, bukan karena hebatnya kita mampu bertahan, melainkan karena Allah masih memberikan pertolongan. []
Penulis : Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
