September 18, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kembangkan Kuliner Roti, Mantan PMI Asal Lebak Sukses Bertahan di Kampung Halaman

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

LEBAK – Jika mengacu pada niatan awal pergi ke luar negeri menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) adalah karena ekonomi, sudah barang tentu, jika kebutuhan ekonomi terpenuhi di kampung halaman sendiri, seorang mantan PMI tidak akan kembali lagi ke luar negeri. Pensiun, meniti jalan dan karir baru di kampung halaman.

Salah satu contoh, seorang PMI yang berhasil meretas jalan perekonomian sepulang dari negara penempatan adalah Ernasari (40), warga Kampung Penyandungan Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Banten.

Ernasari mengembangkan ekonomi kreatif dengan memproduksi kuliner khas Timur Tengah, khobuz,  sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Kami mengembangkan usaha ini dengan harapan tidak ada lagi warga sini yang bekerja ke luar negeri dan lebih membuka usaha di negara sendiri,” kata Ernasari dikutip dari Antara.

Masyarakat Kampung Penyandungan, Kabupaten Lebak, sebagian besar merupakan para pekerja migran ke Timur Tengah sebagai asisten rumah tangga hingga pengemudi pribadi, karena peluang pekerjaan di kampung sendiri sangat kesulitan dan paling bantar menjadi buruh tani.

Namun Ernasari mengajak warga agar tidak kembali bekerja ke luar negeri dengan membuka usaha sendiri.

“Kami setahun mengembangkan usaha memproduksi Khobuz sebagai makanan favorit khas masakan Arab Saudi yang banyak diminati konsumen,” katanya.

Ia mengatakan Khobuz terbuat dari tepung terigu, gula dan garam, yang dibentuk bulat seperti opak. Khobuz, kata dia, ebih enak dan lezat jika dikonsumsi dengan shakshuka yang terbuat dari telur dan tomat.

Selama ini, kata dia, harga makanan Khobuz dan shakshuka dijual Rp15 ribu/porsi.

“Pelanggan yang datang ke sini juga ada dari Bogor dan Jakarta,” katanya. Kebanyakan pelanggan keturunan Arab Saudi, meskipun ada juga warga setempat yang merupakan mantan pekerja di Arab Saudi.

Menurut dia, omzet jualan khobuz dan shakshuka relatif lumayan, berkisar Rp500 sampai Rp650 ribu/hari.

“Kami memproduksi makanan itu biasanya di Arab Saudi untuk menu majikan sebagai konsumsi sarapan pagi,” katanya.

Tak hanya Ernasari, Aminah (45) juga merupakan warga Lebak lainnya yang sukses bertahan di kampung halaman setelah pulang dari negara penempatan.

Aminah yang merupakan warga Cisonggom Kecamatan Sajira Kabupaten Lebak mengaku kini membuka Toko Jedah yang menyediakan keperluan bahan pokok.

Modal usaha diperoleh dari hasil bekerja selama 10 tahun di Arab Saudi.

Saat ini, kata dia, omzet pendapatan relatif lumayan dan bisa meraup keuntungan sekitar Rp1 juta/hari.

“Kami beruntung hasil jerih payah bekerja di Arab Saudi kini bisa membuka usaha cukup besar,” katanya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lebak Tajudin Yamin mengatakan pemerintah daerah mendorong agar mantan pekerja migran bisa mengembangkan usaha ekonomi kreatif sehingga mereka tidak kembali bekerja ke luar negeri yang memiliki risiko cukup besar mulai dari ancaman kekerasan dan penganiayaan.

“Kami terus berupaya untuk mendampingi para mantan TKW Arab Saudi agar membuka usaha sehingga memiliki pendapatan ekonomi yang baik dan sejahtera, seperti di Kampung Cisonggom dan Penyandungan banyak yang berhasil,” katanya.

Sumber Antara

Advertisement
Advertisement