May 19, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kepingin Daganganmu Laris ? Pikat Pembeli Dengan Beberapa Cara Berikut Ini

3 min read

JAKARTA – Ada sejumlah trik marketing yang saat ini sudah banyak diketahui orang, tetapi tetap saja sejumlah orang berhasil dimanipulasi. Teknik manipulasi memang sudah lama digunakan dalam marketing, sehingga lazim saja digunakan oleh para pebisnis untuk mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli.

Namun jika kamu bisa mengetahui lebih dalam trik marketing tersebut, kamu bisa memanfaatkannya dengan baik untuk mendorong penjualan kamu. Tak ada salahnya melakukan manipulasi demi mendorong daya tarik konsumen.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini sejumlah trik marketing yang sering kali dipakai untuk memanipulasi konsumen.

 

  1. Harga coret

Trik ini bisa juga disebut sebagai harga pembanding. Dengan ditampilkannya daftar harga seperti harga per bulan vs harga setahun atau harga yang dicoret, konsumen akan berpikir bahwa dengan memilih produk tersebut, konsumen dapat berhemat lebih banyak. Padahal, bisa saja harga tersebut adalah harga normalnya.

 

  1. Ilusi 99

Trik ini sudah sangat umum dipakai. Konsumen akan cenderung memilih harga dengan angka terendah, contohnya Rp199 daripada dengan angak lebih tinggi contohnya Rp200. Konsumen akan cenderung membulatkannya ke angka paling depan.

 

  1. Persen diskon

Daripada menuliskan nominal, banyak diskon dituliskan persenannya. Sering kali ditemui dengan contoh: diskon 90 persen tapi maksimal Rp10 ribu. Konsumen akan sangat tergiur dengan diskon yang besar padahal potongannya memiliki nilai maksimal atau potongannya sebenarnya tidak seberapa.

 

  1. Kelangkaan

Seringkali sebuah produk memiliki label ‘limited stock’, ‘stok terbatas’, atau ‘stok terakhir’. Selain itu ada juga yang memberikan batas waktu tertentu seperti ‘tinggal 3 jam lagi’. Padahal produk tersebut masih tetap akan dijual setelahnya dengan harga yang sama.

 

  1. Framing effect

Harga yang dicantumkan merupakan harga keseluruhan, tetapi diberi label tambahan. Contoh yang paling sering ditemui adalah harga Rp140 ribu gratis ongkir. Padahal harga bukunya Rp110 ribu dan ongkirnya Rp30 ribu.

Selain itu, ada juga marketing yang menggunakan pendekatan emosional dengan mengatakan bahwa produk tersebut mahal sehingga konsumen akan merasa bangga karena sudah bisa membelinya. Selain itu, ada juga trik marketing odd pricing, decoy pricing, hingga membuat layout toko sedemikian rupa.

 

  1. Menambahkan bobot pada produk

Perusahaan biasanya berusaha menambahkan bobot pada produk mereka. Contohnya, menginformasikan kepada pelanggan bahwa produk mereka direkomendasikan oleh para ahli atau institusi tertentu.

Kadang perusahaan juga mencantumkan keterangan bahwa produk mereka mengandung bahan-bahan alami meski pada kenyataannya rasionya sangat kecil sekali, mungkin 1:10.000.

 

  1. Menawarkan produk yang lebih modern

Untuk menarik pelanggan, pedagang kadang menawarkan produk yang sama namun terlihat lebih modern. Dengan sedikit perubahan pada resep atau bentuknya, produk yang sebelumnya tak laku karena terlihat terlalu sederhana menjadi laris setelahnya.

 

  1. Menaikkan harga berdasarkan jenis kelamin pelanggan

Fakta menunjukkan harga barang kebutuhan untuk perempuan 7 persen lebih mahal dibandingkan yang untuk laki-laki. Padahal selisih harga itu hanya karena beda warnanya saja.

Fenomena ini dikenal dengan nama pink tax dan karena ada pendapat bahwa perempuan adalah pelanggan yang terbaik.

 

  1. Buat Jargon, atau ikonik

Cara lainnya yang ditempuh pedagang agar dagangan laku adalah menciptakan sebuah jargon atau ikon berupa iklan di televisi. Banyak sekali contoh iklan yang sangat melekat dikepala orang hingga orang-orang hafal produk tersebut hanya dengan mendengar lagu pembukanya saja. Adapun menggunakan artis ternama, sehingga produk tersebut diingat karena iklan yang dibawakan oleh artis tersebut.[]

Advertisement
Advertisement