Ketenangan Hati Belum Tentu Tanda Kebenaran
3 min read
JAKARTA – Ketenangan hati adalah nikmat yang sangat berharga dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, rasa tenang tidak selalu menjadi bukti bahwa pilihan seseorang pasti benar. Hati dapat dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, keinginan, dan hawa nafsu.
Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar ketenangan batin tetap ditimbang dengan Al-Qur’an, sunah, akal sehat, dan tuntunan syariat sebagai pedoman utama.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa merasa tenang ketika melakukan sesuatu karena sudah terbiasa melakukannya. Sebaliknya, seseorang dapat merasa gelisah ketika hendak meninggalkan kebiasaan yang sebenarnya tidak baik.
Perasaan demikian menunjukkan bahwa hati manusia dapat dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan, pendidikan, keinginan, bahkan hawa nafsu. Maka, ketenangan hati tidak dapat berdiri sendiri sebagai ukuran mutlak untuk menentukan benar dan salah.
Wahyu Menjadi Ukuran Kebenaran
Ukuran kebenaran dalam Islam bukan semata-mata apa yang terasa nyaman bagi seseorang, melainkan apa yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ahzab 36:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)
Ayat tersebut memberikan prinsip yang sangat jelas. Perasaan pribadi tidak boleh mengalahkan ketetapan wahyu. Apabila suatu perkara telah memiliki tuntunan yang jelas dari Al-Qur’an dan sunah yang sahih, seorang Muslim menjadikannya sebagai rujukan meskipun hawa nafsunya belum merasa nyaman.
Allah Swt. juga mengingatkan:
إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, padahal sungguh, telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka.” (An-Najm: 23)
Karena itu, sesuatu yang membuat hati senang belum tentu benar. Demikian pula sesuatu yang membuat hati tidak nyaman belum tentu salah. Orang yang terbiasa hidup dalam kemaksiatan bisa saja merasa biasa dengan dosa.
Sebaliknya, orang yang sedang berusaha meninggalkan dosa mungkin merasa berat, gelisah, dan tidak nyaman. Rasa berat tersebut justru dapat menjadi bagian dari perjuangan melawan hawa nafsu.
Ketika Hati Memberi Isyarat
Rasulullah saw. memberikan pedoman yang sangat indah tentang perkara yang menimbulkan keraguan. Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, Nabi Muhammad saw. bersabda:
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“Kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam dirimu dan engkau tidak suka apabila manusia mengetahuinya.” (Muslim)
Hadis ini tidak boleh dipahami secara sederhana bahwa segala sesuatu yang terasa mengganjal otomatis haram. Sebab, ukuran pertama dan utama tetap wahyu. Perasaan batin dapat menjadi tanda untuk berhati-hati, terutama ketika seseorang menghadapi perkara yang belum jelas hukumnya. Namun, perasaan tersebut bukan pengganti Al-Qur’an dan sunah.
Dalam perkara yang belum jelas, seorang Muslim dianjurkan bertanya kepada orang yang memiliki ilmu. Allah Swt. berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)
Dengan demikian, ketenangan hati memiliki tempat dalam kehidupan spiritual, tetapi tidak boleh dijadikan hakim tunggal atas kebenaran. Hati perlu dididik agar tunduk kepada wahyu, bukan wahyu yang dipaksa mengikuti keinginan hati.
Ketenangan yang Lahir dari Petunjuk
Ketenangan yang paling bernilai adalah ketenangan yang lahir setelah seseorang mengetahui kebenaran, menerima petunjuk Allah, lalu menjalankannya dengan ikhlas. Allah Swt. berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenteraman sejati berkaitan dengan iman dan mengingat Allah. Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak sekadar bertanya, “Apakah hati saya merasa nyaman?” tetapi juga bertanya, “Apakah perkara ini benar menurut Al-Qur’an dan sunah? Apakah ada penjelasan ulama yang dapat dipercaya? Apakah saya sedang mengikuti petunjuk atau sekadar mengikuti keinginan diri?”
Inilah sikap yang lebih selamat. Ketenangan hati dapat menjadi buah dari kebenaran, tetapi bukan sumber utama untuk menetapkan kebenaran. Hati harus diterangi wahyu, akal harus digunakan secara sehat, dan hawa nafsu harus dikendalikan.
Dengan demikian, ketenangan yang dicari bukan sekadar rasa nyaman, melainkan ketenteraman karena berada di jalan yang diridai Allah. []
Penulis : Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
