Tiga Model Manusia yang Disebutkan Dalam Surat Al-Fatihah
3 min read
JAKARTA – Surah Al-Fatihah yang menjadi pembuka kitab Al-Qur’an termasuk kelompok Makkiyah. Sebuah hadis riwayat Imam Muslim dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah Saw bersabda,”Surah Al-Fatihah turun di Makkah dari harta terdepan di dalam bumi.”
Surah ini terdiri tujuh ayat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah, pengakuan kekuasaanNya, permohonan pertolongan dan manusia senantiasa berada di jalan yang benar.
Pada bagian akhir surah, Allah menggambarkan tiga model manusia yang menjadi cermin perjalanan kehidupan kita: orang-orang yang diberi nikmat, orang-orang yang dimurkai, dan orang-orang yang sesat.
Allah berfirman dalam 6-7
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
Tafsir Tiga Model Manusia
Tiga model manusia dalam surah Al-Fatihah dijelaskan, pertama, orang yang diberi nikmat: tahu, mau, dan berjalan di jalan allah
Kelompok pertama adalah — الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ — orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah.
Nikmat yang dimaksud bukan sekadar harta, jabatan, kesehatan, atau kesenangan dunia. Nikmat terbesar adalah nikmat iman, ilmu, petunjuk, dan kemampuan untuk mengamalkan kebenaran itu.
Al-Qur’an menjelaskan, mereka adalah golongan para nabi, para shidiqin (orang-orang yang benar), para syuhada, dan para sholihin (orang-orang saleh).
Karakter mereka dapat diringkas menjadi tiga: Mereka tahu kebenaran. Mereka menerima kebenaran. Mereka menjalankan kebenaran.
Jadi orang baik bukan hanya orang yang banyak tahu, tetapi orang yang pengetahuannya melahirkan amal, melahirkan perbuatan.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa kejujuran itu wajib, tetapi jika ia tetap memilih berbohong, maka ilmunya belum menjadi petunjuk bagi dirinya.
Orang yang mendapat nikmat Allah adalah mereka yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, iman sebagai keyakinan, dan amal sebagai bukti.
Model Kedua
Model kedua, orang yang dimurkai: tahu kebenaran, tetapi menolaknya.
Model kedua adalah — الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ — orang-orang yang dimurkai.
Salah satu karakter utamanya adalah mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau tunduk kepada kebenaran tersebut.
Inilah salah satu bentuk penyakit manusia yang sangat berbahaya. Sebab persoalannya bukan lagi tidak tahu, tetapi tidak mau mengikuti apa yang sudah diketahuinya.
Ia tahu amanah harus dijaga, tetapi mengkhianatinya, ia tahu kejujuran itu kebaikan dan mulia, tetapi ia suka berbohong.
Ia tahu keadilan harus ditegakkan, tetapi memilih kepentingan diri sendiri. Ia tahu bahwa kesombongan itu tercela, tetapi tetap sombong dan merasa dirinya paling benar.
Ia tahu mana yang halal dan haram, tetapi hawa nafsunya membuatnya memilih yang salah.
Dengan demikian, ilmu yang tidak melahirkan ketundukan atau ketaatan justru dapat menjadi alasan yang memberatkan manusia.
Inilah tipe manusia yang memiliki pengetahuan, tetapi kehilangan kepatuhan. Tidak patuh dan tidak taat kepada norma, tidak patuh dan tidak taat pada agamanya.
Mereka bukan kekurangan informasi. Mereka kekurangan kejujuran untuk tunduk kepada kebenaran.
Model Ketiga
Model ketiga, orang yang sesat: berjalan tanpa ilmu dan petunjuk
Kelompok ketiga adalah — الضَّالِّينَ — orang-orang yang sesat.
Jika kelompok kedua mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya, kelompok ketiga lebih dekat dengan persoalan tidak memiliki petunjuk yang benar, kemudian berjalan berdasarkan dugaan, hawa nafsu, atau arah yang keliru.
Karakter mereka adalah berjalan, tetapi tidak tahu ke mana tujuan yang benar.
Mereka bisa saja memiliki semangat yang tinggi, tetapi tidak memiliki ilmu.
Mereka bisa sangat aktif, tetapi aktivitasnya tidak berada di jalan yang benar.
Mereka bisa merasa yakin, tetapi keyakinannya tidak dibangun di atas petunjuk.
Karena itu, dalam kehidupan, semangat saja tidak cukup. Kita membutuhkan ilmu dan petunjuk.
Seseorang bisa salah bukan karena tidak memiliki energi untuk bergerak, tetapi karena arah geraknya keliru.
Dua Penyakit Besar
Jika direnungkan, dua kelompok terakhir memberikan pelajaran yang sangat dalam. Yakni: Pertama, ada manusia yang tahu tetapi tidak mau
Kedua, ada pula manusia yang mau tetapi tidak tahu.
Yang pertama memiliki ilmu tetapi tidak memiliki ketundukan. Yang kedua memiliki semangat tetapi tidak memiliki petunjuk.
Keduanya sama-sama dapat menjauhkan manusia dari jalan yang lurus. Karena itu, seorang muslim membutuhkan dua hal sekaligus: ilmu yang benar dan kemauan untuk mengamalkannya.
Ilmu tanpa amal dapat melahirkan kesombongan dan pembangkangan. Sebaliknya, semangat tanpa ilmu dapat membawa seseorang kepada kesalahan. []
Penulis : Mustain Masdar, Ketua PCM Sekaran Lamongan
