December 6, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ketergantungan RI Terhadap Produk Alkes Impor Sangat Tinggi Meskipun Bisa Memproduksi Sendiri

2 min read
-

JAKARTA –  Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, mengatakan 90% bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor, belanja alat kesehatan 88% masih didominasi impor.

Budget untuk penelitian dan pengembangan juga masih kecil hanya 0,2% dari total GDP, kalah dengan Amerika Serikat yang sudah mencapai 2,8% dan Singapura 1,9%.

“152 atau 31% dari 496 alat kesehatan yang ditransaksikan (impor) telah mampu diproduksi di dalam negeri,” kata Dante, dalam Forum Nasional Kemandirian Ketahanan Industri Farmasi, Senin (08/11/2021).

Padahal penggunaan obat dalam negeri sudah cukup tinggi, namun sayangnya bahan baku obat itu juga berasal dari impor. Dari catatan Kemenkes, ada 56 atau 3% dari 1.809 obat yang ditransaksikan pada e-katalog belum dapat diproduksi dalam negeri.

Selain itu mengenai bahan baku obat, Dante menjelaskan dari konsumsi 10 molekul obat terbesar dalam negeri, baru empat obat yang mampu diproduksi dalam negeri yaitu Paracetamol, Clopidogrel, Omeprazole, dan Atorvastatin. Sementara itu Cefixime, Amlodipine, Candesartan Cilexetil, Bisoprolol, Lansoprazole, Ceftriaxone belum dapat diproduksi dalam negeri.

“Jadi selain alat kesehatan bahan baku obat impor juga masih besar. Kalau mau memperkuat ketahanan di industri farmasi kita harus perkuat industri kimia di hulu,” katanya.

Dante mengatakan memproduksi bahan baku obat itu bisa dilakukan. Agenda pemerintah juga mau memperkuat hulu kimia sehingga bisa memproduksi obat dalam negeri dengan harga murah. Hanya saja, hal ini butuh dukungan dari produsen obat sehingga mau menyerap bahan buatan Indonesia.

“Kita perkuat dengan instrumen kebijakan sehingga bahan baku obat dalam negeri jauh lebih murah dari impor,” katanya.

Indonesia masih dominan bergantung pada alat kesehatan, obat hingga bahan baku farmasi dari impor. Padahal punya kemampuan untuk memproduksi di dalam negeri cuma masih terbatas. []

 

Advertisement
Advertisement