March 2, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ketika Allah Menjawab, Manusia Harus Merespons

2 min read

JAKARTA – Setelah menegaskan kedekatan-Nya dengan hamba, Al-Qur’an tidak membiarkan relasi itu berhenti pada rasa haru spiritual semata. Kedekatan Ilahi menuntut jawaban sadar dari manusia—jawaban iman dan ketaatan yang nyata.

Baca juga: Ketika Allah Menjawab Langsung: Rahasia Doa di Tengah Puasa

Dalam Al-Baqarah ayat 186, detelah Allah menyatakan:

فَإِنِّي قَرِيبٌ

“Sesungguhnya Aku dekat.”

dan

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ

“Aku mengabulkan doa orang yang berdoa.”

Allah tidak menutup ayat dengan janji saja. Allah memberi tuntutan balik:

فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ini adalah struktur timbal balik.”

Respons terhadap Respons

Allah merespons doa manusia. Manusia diminta merespons perintah Allah.

Kedekatan Ilahi bukan hubungan satu arah.

Dalam perspektif epistemologi Qur’ani, pengetahuan tentang Allah tidak boleh berhenti pada rasa haru atau ketenangan spiritual. Ia harus melahirkan istijabah (respons ketaatan).

Kata falyastajībū berarti: hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku.

Artinya, doa tanpa kepatuhan adalah relasi yang timpang.

Wa Lyu’minū Bī: Iman sebagai Fondasi Kesadaran

Allah tidak hanya meminta respons tindakan, tetapi juga penguatan iman:

وَلْيُؤْمِنُوا بِي

“Dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku.”

Iman di sini bukan sekadar pengakuan teologis, tetapi komitmen eksistensial.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa iman yang dimaksud adalah pembenaran yang melahirkan kepatuhan terhadap perintah dan larangan Allah.

Secara epistemologis:

– Doa membangun relasi

– Iman membangun keyakinan

– Istijabah membangun tindakan

Ketiganya tidak boleh terpisah.

Laallahum Yarshudūn: Tujuan Akhir adalah Rusyd

Ayat ini ditutup dengan:

لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Agar mereka memperoleh rusyd (petunjuk yang benar).”

Rusyd bukan sekadar tahu yang benar, tetapi mampu berjalan di atasnya dengan stabil.

Dalam struktur seri kita:

– Huda = orientasi dasar

– Bayināt = kejelasan normatif

– Furqān = daya beda

– Doa = kedekatan relasional

– Istijabah = implementasi

– Rusyd = kematangan spiritual

Ramadan adalah proses menuju rusyd.

Epistemologi Respons

Banyak orang berdoa agar hidupnya berubah. Namun perubahan tidak terjadi tanpa respons aktif.

Allah menjanjikan pengabulan, tetapi menuntut kepatuhan. Ini keseimbangan yang indah: rahmat dan tanggung jawab berjalan bersama.

Momentum Hari Kedua Belas

Memasuki hari ke-12, kita sudah banyak berdoa.

Sekarang pertanyaannya:

– Apakah kita sudah merespons Allah sebagaimana kita ingin Allah merespons kita?

– Apakah doa kita disertai perubahan sikap?

Ramadan bukan hanya bulan meminta. Ia bulan memenuhi panggilan.

Refleksi

Dalam epistemologi Qur’ani, relasi dengan Allah bersifat dialogis. Kita berdoa. Allah menjawab. Allah memanggil. Kita harus merespons.

Jika doa adalah permohonan, maka istijabah adalah pembuktian. Sebab kedekatan tanpa ketaatan tidak melahirkan rusyd.  []

Penulis :  Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply