December 6, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ketika Kebaikan Dibalas Keburukan

2 min read
-

ApakabarOnline.com – Terkadang seseorang yang melakukan kebaikan kepada orang lain, namun orang tersebut justru membalasnya dengan keburukan. Sehingga, setiap yang kita lakukan, belum tentu mendapat sesuatu yang kita harapkan.

Lantas bagaimana sikap kita menghadapi fenomena tersebut?

Ahli Filsafat Prof Fahruddin Faiz menceritakan pada suatu hari, Imam Abu Hanifah membaca salah satu Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Az-zumar ayat 17-18.

Artinya: “Dan orang-orang yang menjauhi tagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku,” (QS Az-zumar: 17).

Artinya: “(yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat,” (QS Az-zumar: 18).

Prof Fahruddin menambahkan, setelah membaca ayat ini, Imam Abu Hanifah berdoa “ya Allah barang siapa hatinya sempit karena kami sesungguhnya hati kami luas untuknya”.

Dari kisah Imam Abu Hanifah di atas, ada sebuah pelajaran berharga, bahwa ketika kita memiliki sedikit wawasan, kemudian kita sampaikan kepada orang lain, namun orang tersebut malah merespon dengan sesuatu yang tidak baik bahkan menyinyiri kita. Maka segera lapangkan hati kita untuk terus melakukan kebaikan kepada orang tersebut.

“Adakalanya orangnya mungkin tidak mau menerima, mungkin malah marah-marah menyebut kita sok pintar, sok tahu dan lain sebagainya, mungkin malah menyiyiri kita dan lain sebagainya. Itu kadang-kadang kalau responnya begitu kan terus kita balas dengan marah juga,” kata Prof Fahruddin.

Dengan demikian, menurut Prof Fahruddin, Imam Abu Hanifah memberi pelajaran, “Ya Allah barang siapa hatinya sempit karena kami, sesungguhnya hati kami luas untuknya”

“Itu kan orang yang hatinya sempit karena kami, tapi saksikannya ya Allah hati kami tetap luas untuknya, aku tetap sayang padanya, aku tetap akan memaafkannya, aku tetap ingin kebaikan pada dirinya,” ujar Prof Fahruddin Faiz.

Prof Fahruddin berpesan agar kita selalu meluaskan hati kita. Artinya jangan membalas keburukan dengan keburukan juga.

“Sempit dibalas sempit yo wassalam nanti, akhirnya jadi konflik terus jadi beban seperti saya bilang tadi,” tutur Prof Fahruddin.

“Makanya penting untuk kita di era medsos ini yang kita sering bertukar kata, bertukar nasehat yang kadang-kadang tanggapannya tidak seperti yang kita inginkan, maka jangan lupa hati kita harus tetap luas,” pungkas Prof Fahruddin. []

Advertisement
Advertisement