September 18, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Mendulang Untung dari Lalat Belatung

3 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

BANYUMAS – Lalat adalah serangga yang identik dengan kekotoran dan menjijikkan. Tapi kini, larva lalat adalah belatung yang punya nilai ekonomi cukup tinggi. Larva lalat jenis Black Soldier Fly atau BSF kini banyak dicari orang, bahkan diekspor. Nominal yang dihasilkan lumayan. Satu kilogram larva yang dikenal sebagai maggot berharga Rp 300 ribu di sejumlah negara. Di dalam negeri, nilainya berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu.

Potensi di pasar lokal, kini menjadi sasaran para peternak di banyak wilayah di Tanah Air. Salah satunya, di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Arky Gilang (35), peternak maggot mengaku membidik pasar lokal karena dinilai lebih menguntungkan daripada pasar ekspor.

“Kami pada tahun 2019 sempat mengekspor maggot kering ke Amerika, Inggris, India, dan China, responnya bagus dan mulai banyak kuotanya. Namun begitu terjadi pandemi covid-19, masalah ekspor terkendala. Sehingga kami mencoba untuk mengedukasi pasar lokal,” katanya di Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja, Banyumas.

Dari hasil edukasi tersebut, kemudian terbangun potensi pasar lokal yang sangat baik. Ada beberapa hal menjadi perimeternya.   Potensi pasar lokal ini didasarkan kebutuhan pembudi daya ikan terhadap maggot sebagai pakan alternatif cenderung meningkat.  Kenaikan harga pelet atau pakan ikan pabrikan menjadi penyebabnya.

Maggot kini juga disukai para peternak ikan. Ada beberapa keunggulan maggot BSF, selain proteinnya tinggi. Maggot tidak bau amis seperti pakan lainnya, tidak jorok, mudah diambil dan disimpan

“Untuk kebutuhan Jabodetabek saja, saya dan teman-teman (pembudi daya maggot) memenuhi 7 ton maggot kering per bulan saja masih kurang banyak,” katanya.

Kini, dia berupaya meningkatkan kapasitas produksi maggot kering dari sebelumnya 0,5 ton per bulan menjadi 1 ton per bulan. Soal produksi,  Arky yang dikutip dari Antara, mengatakan setiap harinya mampu memroduksi 5 kuintal maggot basah (larva hidup. red) atau sekitar 15 ton per bulan.

“Kalau dikeringkan, hasilnya sepertiganya, sekitar 150-200 kilogram per hari. Larva hidup itu bisa langsung dijadikan pakan untuk ikan lele, bawal, dan sebagainya,” katanya.

 

Banyak Kelebihan

Ia mengatakan dari kisaran 15 ton larva hidup itu, pihaknya hanya memroduksi 0,5 ton maggot kering. Sisanya dijual dalam kondisi basah dengan harga sekitar Rp6.000 per kilogram.

Potensi pasar lokal dinilai lebih sederhana digarap. Apalagi, untuk melakukan ekspor banyak hal yang harus disiapkan seperti kepengurusan dokumen dan biayanya lebih besar. Saat masih melakukan ekspor, pihaknya mampu mengirimkan sekitar 0,5 ton maggot kering per bulan.

Ia mengatakan harga maggot kering kualitas ekspor tersebut berkisar Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Di negara tujuan, larva-larva ini  dijual dengan harga lebih dari Rp300 ribu per kilogram. Biasanya, di luar negeri, maggot dijadikan makanan ternak maupun makanan hewan piaraan.

Kendati harga maggot kering untuk ekspor itu bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram, nominal ini termasuk untuk kepengurusan dokumen dan sebagainya. Dibandingkan   pasar lokal yang harganya berkisar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram, peternak ini memilih pasar lokal,  karena lebih simpel dalam penjualannya.

 

Pembusukan

Banyak peternak kini dijumpai di banyak wilayah. Apalagi, budidaya maggot tidaklah sulit. Lalat Black Soldier Fly BSF sebagai indukan biasanya ada ditempat pembuangan buah-buahan yang sudah membusuk.   fase metamorfosa BSF dimulai dari telur, Larva Prepupa, pupa, dan lalat dewasa, dengan proses perubahan memakan waktu sekitar 40 hari hingga 45 hari saja.

Guna menghasilkan maggot yang bagus, pembudidaya biasanya memberikan makanan organik. Labu siam, adalah salah satu makanan maggot.

BSF dikenal juga sebagai lalat tantara, berukuran lebih panjang dan besar dari lalat biasa. Uniknya, lalat ini idak menularkan bakteri dan penyakit. Lalat BSF lebih berperan dalam pembusukan sampah. Larvanya, yakni maggot, mengonsumsi sayuran dan buah dan sampah keduanya. Dalam  perannya sebagai pembusuk, lalat ini pas untuk mereduksi sampah organik.

Sebanyak 10.000 maggot dapat menghabiskan 1 kg sampah organik dalam waktu 24 jam.

Sedang sebagai pakan ternak, maggot memiliki kadar protein sekitar 43% jika dalam keadaan utuh. Jika dalam bentu pelet, kadar proteinnya mencapai antara 30% sampai 40%.

Dibandingkan cacing sebagai pakan, waktu panen maggot jelas lebih cepat.  Waktu yang dibutuhkan dari menetas sampai bisa menjadi menjadikan panak ternak, hanya menbutuhkan sekitar 17 hari. Sementara, sampah organik yang tak dikonsumsi maggot dalam upaya ternak belatung ini, tetap berguna. Sampah-sampah itu bisa menjadi pupuk dan tak berbau.

Advertisement
Advertisement